/* Whatsapp css setting */ .tist{background:#35BA47; color:#fff; padding:2px 6px; border-radius:3px;} a.tist:hover{color:#fff !important;
Showing posts with label What's New?. Show all posts
Showing posts with label What's New?. Show all posts

Tuesday, 26 May 2015

Persebaran Anggota PPI Austria per 26 Mei 201

by Syifa Nurhanifah

Sering kali banyak yang bertanya dan berdengung di telinga, ada berapa sih anggota PPI Austria? 

Memang agak-agak susah dan gampang untuk menjawab  pertanyaan ini. Karena satu sisi, jika kita berpacu hanya dengan anggota aktifnya saja, maka bisa dihitunglah dengan jari berapa orangnya dan siapa-siapa orangnya. Namun jika kita menengok dan melototin database PPI Austria, maka jumlahnya lumayan banyak, dan susah untuk mengatakan angka pastinya, karena ternyata banyak juga anggota-anggota yang keberadaanya tidak diketahui, alias Unknown, apakah si dia-dia ini masih di Austria atau tidak, ditambah lagi ada juga si dia-dia yang sering nongol dan aktif dalam kegiatan-kegiatan PPIA, namun namanya tak terdaftar dalam database. Sehingga membuat galau sang pemegang database apakah si dia-dia ini bisa dikatakan anggota atau tidak. 

Tetapi untuk bisa menjawab pertanyaan: “berapa anggota PPI Austria saat ini?” 

Berikut saya lampirkan tabel dan grafik persebaran anggota PPI Austria yang bersumber dari database PPI Austria dari tahun 2008 – 2015
Selamat menyimak!


Tabel Persebaran Anggota Berdasarkan Kota dan Status Keberadaan:


Berikut ini adalah grafik perbandingan status antara Anggota yang tercatat aktiv dengan Anggota yang hanya sebatas terdaftar:



Dari grafik diatas terlihat sekali bahwa anggota PPIA yang aktif sebagian besar hanya berkisar kurang lebih 50% atau setengah dari keseluruhan anggota yang terdaftar masih di Austria, sisanya pasif dan tidak diketahui keberadaanya. 


Demikian sementara yang bisa saya sampaikan. Selebihnya kami memohon kepada rekan-rekan yang baru datang dan yang  telah datang, namun belum sempat mendaftarkan diri  untuk melaporkan/mendaftarkan diri as soon as possible di link berikut ini: 


Selanjutnya jika data memungkinkan dan telah ter-update lagi, maka akan ada tambahan kategori seperti quantitas jurusan-jurusan studi, jenjang studi yang diambil oleh anggota PPI Austria dan yang unik lainnya.

Jadi, ayook mari sama-sama dukung kegiatan sensus penduduk PPI Austria! 



Puisi dan Postcards untuk Hari Pendidikan


Hey beloved friends!

To remember and celebrate National Education Day (May 2), PPIA team has sent some postcards from Austria to some primary schools in Halmehera Selatan, Maluku Utara. We hope the postcards are really on their way and will arrive to the schools, safe and sound :)

This is what we write on the postcard/s, in hope to inspire the students, and the poem should inspire you too :) Happy reading! Have a nice day! :)





 Kamu berhak belajar.
Tentang dunia.
Dan segala keindahannya.

Kamu berhak berkembang.
Keingintahuanmu.
Kemampuanmu.

Kamu berhak menyaksikan.
Luasnya samudera yang gersang.
Putihnya awan yang melayang.

Dan kamu berhak mencicipi.
Derasnya salju.
Es yang kaku.

Kamu berhak merasakan.
Indahnya belajar.



Friday, 22 May 2015

Movie Night (Mei 2015): Temple Grandin & BBQ!

by: Rasmi Silasari
foto: Evi mulyani


"Mencurigakan...", batinku sambil ngeliatin langit Sabtu 2 Mei yang mendung setengah-setengah kayak mau hujan tapi nggak niat. Nggak heran sih sama cuaca yang demikian, secara Kota Wina akhir-akhir ini memang lagi hobi gerimis. Apalagi menjelang weekend (padahal sepanjang weekday cerah, graow!), kayak nggak seneng aja lihat orang-orang lagi libur mau leyeh-leyeh sunbathing. Lebih lagi kalau weekend-nya long, makin bersemangat lah hujannya. Cuaca buruk yang sudah kejadian beberapa weekend ini makin nggak menyenangkan ketika ada rencana untuk bikin acara outdoor. Yoi banget, Movie Night kali bakal diawali dengan acara BBQ-an! Bakar-bakar ayam!! Makan bareng outdoor!!! Tapi ya bakal bubar juga kalau mendadak hujan... Jadi inget temenku orang Spanyol yang hobi banget piknik pernah komen: "Asap daging bakar itu ampuh menangkal hujan." ....teori dari mana pula. Balik lagi ke langit yang tadi mendungnya nggak niat, sekarang malah makin gelap dan berangin. Jarum jam udah di angka tiga. Acara BBQ bakal mulai jam empat. Hmm, depresif.
 
Alamat nganggur beliau kalau sampai hujan...


Berhubung mesti nyampe duluan di lokasi buat masang laptop untuk nonton bareng, berdiri lah aku di tengah lobi KBRI yang gelap dan sepi krik-krik. Mas Aryo sang PJ bagian rumah tangga KBRI muncul dari koridor samping. "Itu Mbak, alat BBQ nya sudah dipasang di teras." "Oh, udah di luar? Nanti kalau hujan gimana ya?" "Hujan? Tapi tadi cerah kok Mbak." "Cerah??" Aku samperin itu alat panggangan yang sudah bertengger nganggur di teras belakang KBRI dan eng-ing-eng: WUAH MEJIK LANGITNYA CERAH. Emang sih aku sering dalam mode auto pilot (a.k.a ngelamun) kalau lagi jalan kaki, tapi bisa-bisanya aku nggak nyadar kalau mendungnya udah ilang entah ke mana! Nggak perlu asap daging bakar segala; ngeluarin panggangan di luar aja udah ampuh buat menangkal hujan, absurd canggih banget nggak sih.

AKHIRNYA BBQ-AN JUGA *terharu*

Mungkin agak keliru juga ya bikin acara di tengah-tengah long weekend, walhasil banyak yang berhalangan dan hanya tersedia 15 orang untuk menghabiskan ransum ayam sebanyak empat ekor... atau malah hal bagus karena berarti JATAH MAKIN BANYAK. Yah paling engga acara BBQ berjalan lancar dan tanpa hujan; dan makin menarik karena kokinya bule cuy! Perkenalkan pemuda Austria serba bisa bernama Albin yang banyak banget jasanya mulai dari bantu bawa-bawa bahan makanan, nyiapin api, menenangkan bu ketua saat senewen, sampe bakar-bakar ayam saat kita lagi asik makan dan lupa kalau si ayam tersebut nggak akan membakar dirinya sendiri. Ngomong-ngomong kalau ada yang penasaran kenapa Herr Albin ini bisa nyasar ke acara PPIA silakan dikonfirmasikan sendiri ke ibu ketua karena sekretaris dilarang berspekulasi. Sekian dan terima kasih.


Meyakinkan banget kan kokinya~

Bakar-bakar ayam + cuaca cerah – mesti bakar sendiri = happy girls people!


Setelah kenyang yang bikin ngantuk dan males nyalain laptop (tadinya udah kusaranin, "gimana kalau nggak perlu nontonnya?" Yang dibalas oleh pak waketu dengan: "YAELAH") akhirnya kejadian juga Movie Night yang sebenarnya pukul 18:00 (yang mana gelap pun belum tapi disebut 'night'??). Filmya 'Temple Grandin', keluaran 2010, yang main Claire Danes yang dulu main jadi Juliet di ‘Romeo + Juliet’ keluaran 1996 bareng Leonardo DiCaprio yang belum-belum juga menang Oscar. Filmnya keren *udah gitu aja biar nggak spoiler berkepanjangan*. Karena tanggal 2 Mei bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (jangan kebalik sama Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei) kita punya ide untuk nonton film yang bertema pendidikan *tadinya aku mau usul 'American Pie' tapi kayaknya bakal langsung dibakar surat pengajuannya*. Jadi si Temple Grandin ini adalah tokoh nyata—ilmuwan industri ternak yang bisa dapet PhD dan bikin banyak penemuan bermanfaat nan inovatif—yang juga mengidap autisme. Jadi kapan-kapan kalau ada yang komen, "ih gue nggak nyambung deh sama si Y, anaknya autis banget," itu mungkin bisa diartiin jadi, "aduh gue nggak nyampe deh ngomong sama si Y, anaknya jenius banget." Nah lho.

Itu lho Mbak Claire Danes yang manis ituh


Demikian saja laporannya; penulisnya laper ngeliatin foto orang pada makan. Movie Night PPIA berikutnya tanggal 25 Juli lho! Kalau ada ide acara sampingannya, atau ide judul film, atau ide mau makan-makan apa (BBQ, ngerujak, nyate, dan sejenisnya yang nggak penuh tantangan teknis seperti: ngambing guling) kirimin aja ide kalian lewat kotak komentar/form kontak/email PPIA. Ditunggu kehadiran kalian semua Juli nanti dengan film yang pastinya lebih x-rated high-rated! ;p Schönes (vielleicht nicht so...) Wochenende! 

Wednesday, 13 May 2015

Simposium PPI Amerika – Eropa 2015

by Syifa Nurhanifah



Pada tanggal 06 sampai 09 Mei 2015 telah diselenggarakan Simposium PPI kawasan Amerika dan Eropa (Ameropa) yang merupakan kegiatan rutin tahunan PPI Dunia. Simposium ini telah diikuti oleh Delegasi-delegasi PPI dari 13 negara, diantaranya: Austria, Belanda, Belgia,  Rep. Ceko, Denmark, Estonia, Inggris, Italia, Jerman, Kanada, Perancis, Portugal dan Rusia.

Pada periode 2014 – 2015, melalui Dewan Presidium Dunia dan kesepakatan PPI kawasan Ameropa, tertunjuklah PPI Rusia atau yang di sebut sebagai PERMIRA (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia) sebagai tuan rumah untuk kegiatan simposium ke dua ini setelah sebelumnya diadakan di Turki pada tahun 2013 lalu.

Simposium kali ini mengangkat tema “Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam menghadapi ASEAN Community 2015”. Seperti yang telah diketahui bahwa berdasarkan hasil dari deklarasi Bali Concord II tahun 2003 negara-negara ASEAN  telah menyepakati dan berkomitment untuk menyatukan Visi, mimpi dan Identitas menuju negara-negara yang makmur dan sejahtera.

“One Vision, One Identity, One Community” sebuah Motto yang sejatinya bermaksud untuk meningkatkan kerjasama dan solidaritas antar negara-negara ASEAN ini berbasis pada 3 pilar, yakni; Kommunitas politik dan keamanan, Kommunitas ekonomi dan kommunitas sosial budaya. Tujuan dari ketiga pilar tersebut adalah meningkatkan stabilitas keamanan, ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia baik itu dari sisi budaya, ilmu pengetahuan dan juga  kesehatan. 

Indonesia sebagai founding fathers ASEAN tentunya harus mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan dari terbentuknya ASEAN Community ini khususnya dalam menghadapi pasar tunggal ASEAN (AEC). Misalnya dari sisi sumber daya manusia dan regulasi pemerintah terkait dalam melindungi dan menjaga daya saing masyarakatnya.  Atas hal-hal tersebutlah Simposium PPI Amerika-Eropa diadakan, yaitu sebagai bentuk kepedulian putra-putri bangsa yang ingin berkontribusi terhadap Indonesia.

Kegiatan yang diadakan di MGIMO University of International Programms - Moscow ini mengundang pembicara-pembicara baik dari kalangan politik seperti Menteri Luar Negeri Indonesia Ibu Retno Marsudi, kalangan Akademisi seperti Executive Director Institute of Defence and Security Studies - Ibu Dr. Connie Rahakundini Bakrie dan juga kalangan Pengusaha seperti Executive Director The Indonesian Palm Oil Producers Association – Bapak Fadhil Hasan, PhD.

Setelah mendapatkan kuliah umum dari para Pembicara tersebut diatas, dibahaslah berbagai gagasan-gagasan generasi muda dalam Sidang Paripurna Simposium terkait persiapan Indonesia menghadapi ASEAN Community 2015 . Kemudian hasil  yang telah disepakati dalam sidang tersebut ini diramu menjadi sebuah rekomendasi yang disebut dengan ‘Manifesto Moskow’ dan akan disampaikan langsung kepada Pemerintah RI (dalam hal ini adalah Bapak President kita Ir. Joko Widodo). 
Rekomendasi tersebut  diantaranya adalah tuntutan kepada pemerintah untuk lebih memajukan good governance, menghilangkan ego sektoral, meningkatkan mutu SDM melalui reformasi Pendidikan serta mempercepat pembangunan Infrastruktur. 

Selain menghasilkan rekomendasi tersebut, dalam Simposium ini telah dibahas juga mengenai Action Plan para pemuda yang tersebar di berbagai negara di Amerika-Eropa yang tergabung dalam PPI Amerika-Eropa untuk terjun langsung ke masyarakat. Yang disebut sebagai Action Plan ini adalah berbagai kegiatan-kegiatan masing-masing PPI di seluruh kawasan Ameropa untuk mengangkat tema ASEAN Community beserta mensosialisasikan dampak, tantangan dan kesempatan bagi Indonesia kepada masyarakat, baik itu di dalam ataupun luar negeri.






Sunday, 26 April 2015

Honorary Consul untuk Upper Austria dan Salzburg


 
Seorang dokter dari Linz, Mr. Dr. Johannes Neuhofer, resmi dipilih sebagai Honorary Consul atau Konsul Kehormatan Republik Indonesia untuk propinsi Upper Austria dan Salzburg. Acara peresmian diadakan pada Jumat (10/04/2015).

Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk memperkuat hubungan dan kegiatan ekonomi Indonesia di lokasi-lokasi luar Wina. Honorary Consul juga merupakan vertretung (representation) untuk Warga Negara Indonesia yang berhubungan dengan pemerintah Austria setempat dalam beberapa hal yang menyangkut hukum, black list, penyewaan, pertukaran budaya dan kepentingan sosial.

Selain itu, seorang consul merupakan vertretung bagi warga negara Austria yang tertarik terhadap Indonesia, memberikan informasi dan atau saran, tentang hal yang berhubungan dengan Indonesia kepada warga Austria yang tertarik untuk investasi dan memperluas cabang perusahaan di Indonesia, atau untuk para peneliti.

Konsul Kehormatan adalah penghormatan terhadap seseorang yang telah berjasa dan berkontribusi terhadap suatu negara, namun tidak dapat dan tidak berhak mengeluarkan visa dan paspor.

Mr. Dr. Johannes Neuhofer adalah seorang dokter spesialis dermatologi, yang sekaligus peneliti dengan fokus penelitian obat-obat tradisional. Beliau meniliti tumbuh-tumbuhan yang biasa dijadikan obat tradisional di Indonesia.

Selain Honorary Consul untuk Upper Austria dan Salzburg, sebelumnya telah dipilih juga Honorary Consul untuk Carinthia, yaitu Mr. Christian Bradach dan untuk Ljubljana, yaitu Mr. Arne Mislej.



(Image Source: KBRI Wina) 

Tuesday, 24 March 2015

What We Learned from the Movie Night (March 2015)



by Yusfan Adeputra


Malam Minggu malam yang panjangMalam yang asyik buat pacaran...

Sepenggal lagu Jamal Mirdad ini kayaknya ga berlaku deh buat kita-kita yang malam Minggu kemaren (21/3) menghabiskan waktu dengan komunitas MoViennachters.

Ini merupakan salah satu program PPI tahun ini sebagai ajang hiburan sekaligus kumpul-kenal (silaturahim) antar pelajar-pemuda seantero Austria. Harapannya juga dari konten yang diputar, bisa kita petik pelajaran di dalamnya.

Nah, yang kemarin itu acaranya diadakan mulai jam 4 sore sampai 8 malam di Ruang Nusantara KBRI dengan mengundang elemen pemuda dan pelajar seantero Austria. Film yang diputar sebenarnya adalah Whiplash. Nah menariknya, saat projector and sound testing, panitia muterin film Penguins of Madagascar. Eh, malah penonton yang hadir berseru 'diterusin aja filmnya' karena kelucuan penguin-penguin itu ternyata menghadirkan canda tawa penonton. Walhasil, Film Penguins pun diputar hingga selesai jam 6 pm.



Saat break, panitia sedikit menghaturkan sepatah kata tentang acara sekaligus menjadi ajang perkenalan bagi penonton yang hadir. Kemudian acara pun dilanjutkan dengan pemutaran film inti yaitu Whiplash. Tak dinyana, saat pemutaran film berlangsung semakin banyak penonton yang datang turut meramaikan.


Film Whiplash sendiri dipilih karena terdapat beberapa pesan moral bagi kita utamanya untuk terus bekerja keras demi menggapai cita-cita. Seperti katanya opa Collin Powell, 'A dream doesn't become reality through magic, it takes sweat, determination and hard work'.


Nah kawan, tunggu kabar pemutaran film berikutnya ya. Pastinya akan lebih seru. Kami tunggu...

Kunjungan ketua Mahkamah Konstitusi ke Wina

by Yusfan Adeputra


 
Senin malam (23/3), dinginnya Wina dihangatkan dengan acara diskusi dengan Ketua Mahkamah Konstitusi RI, Prof. Dr. Arief Hidayat, SH, MS. Diskusi ini sendiri diadakan di Kedutaan Besar Republik Indonesia dengan mengundang beberapa perwakilan WNI di Austria.

Tampak hadir yaitu dari WNI yang bekerja di UN, IAEA, OFID, perwakilan komunitas warga seperti dari Wapena, KKIA dan tentunya PPI Austria. Acara ini diawali dengan ramah tamah dan makan malam bersama dan dibuka oleh Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia, Bapak Rahmat Budiman.

Dalam sambutannya, Prof. Arief menjelaskan kunjungannya kali ini didampingi Sekjen MK dan beberapa staf adalah untuk menjajaki kerjasama dengan MK Austria. Kerjasama ini didasarkan pada beberapa kesamaan sistem hukum yang sama antara Indonesia dan Austria. Harapannya dengan kerjasama ini penguatan hukum di internal maupun eksternal masing-masing negara bisa semakin kuat.



Kesempatan ini pula dimanfaatkan bagi para undangan yang hadir untuk berdiskusi lebih dekat dengan Ketua MK yang baru terpilih secara aklamasi ini. Beberapa isu utamanya yang berkaitan dengan usaha penegakan hukum ditanyakan audiens.

Isu yang berkaitan dengan pra peradilan yang sedang top hit, isu penyerapan modal luar negeri, sampai pada menurunnya optimisme pemuda pada penegakan hukum di Indoensia berusaha dijelaskan dengan gamblang oleh Guru Besar yang juga mantan dekan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro ini.



Sebenanya masih banyak pertanyaan yang ingin diajukan oleh audiens namun karena terkendala waktu yang semakin larut maka acara ditutup oleh Bapak Dubes dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

(sumber foto: KBRI Wina)

Reminder: Earth Hour 2015 (Saturday, 28 March)


 by Rafika Nurulhuda
 This is not only to remind you, but this is mainly as a self-reminder that I would like to share with you all.
I am sure we all have heard about Earth Hour that is celebrated each year on 28th March starting from 8.30 PM to 9.30 PM local time. What do we exactly do at that moment and what is the importance?
It is basically one of the ways to combat global warming. You can participate by simply shutting of lights for an hour. And this simple act actually brings positive impacts. There are some facts about how much energy is conserved just from the one hour time period.
It saves electricity cost, too ;)
I would like to remind myself that, Earth Hour should not only be done every year, but it should be put into my awareness and put into my action for the upcoming days. 
I think we all agree that Valentine shouldn't be celebrated only in February, but showing love to your loved ones should be done everyday, right? 
I think participating in Earth Hour shows our love for Earth, and it should be shown daily.
So cross your heart. Promise me you'll turn off the lights for one hour this Saturday. :)

Friday, 20 March 2015

Dialog Antaragama dan Antarbudaya @ KAICIID



by Rasmi Silasari
 Sebagai ibukota yang terletak di tengah Eropa (cek sendiri kalau nggak percaya), Wina merupakan lokasi mangkal favorit bagi organisasi dan institusi internasional. Selain markas PBB—atau UN lebih hematnya—yang saking luasnya sampai disebut ‘city dan OPEC (Organisation of the Petroleum Exporting Countries) yang Indonesia sudah bukan anggota lagi sejak 2008, Wina juga menjadi tuan rumah bagi KAICIID atau ‘King Abdullah Bin Abdulaziz International Center for Interreligious and Intercultural Dialog.

Organisasi ini bukan cuma punya nama yang panjaaang tapi juga memiliki tujuan mulia: sebagai wadah dialog antaragama dan antarbudaya demi terwujudnya perdamaian dunia (yang sering disebut-sebut oleh mbak-mbak peserta Miss Universe).

—kelihatan garang banget nggak sih bangunannya, lokasinya dekat dengan Börse dan Schottenring
Gimana gitu ‘Interreligious and Intercultural Dialog’ bisa nyambung sama perdamaian dunia?


Ya contohnya kamu punya pohon mangga, akarnya di kebonmu tapi tumbuhnya belok-belok ke kebon tetangga. Walhasil sang tetangga yang kebagian pahitnya mesti bersihin daun yang rontok dan kebagian manisnya juga dari mangga yang jatuh. Terus kamu protes deh soal hak milik si mangga tersebut.
Eh ini kan resminya pohon gue kenapa jadi situ yang makanin mangganya?’, ‘Ya iya lah yang nyapuin daunnya juga gue!’, ‘Kok gitu sih kan akarnya ada di area gue!!’, ‘Makanya mas kalo tanem pohon bilangin dong jangan nyasar-nyasar ke kebon orang!!!’, ‘Lo menghina Angie (red: nama si pohon tsb)??!*LEMPAR-LEMPARAN SANDAL*.

Walaupun seru sayangnya perang sandal nggak akan menyelesaikan masalah. Dalam hal ini lah dialog berperan besar. Kalau sama-sama duduk, ngobrol dan mengerti masalah satu sama lain kan lebih adem mencari jalan keluarnya. Baru sengketa antarkebon aja bisa bikin geger sekampung. Apalagi kalau konflik antaragama dan antarbudaya?

Mending kalau masih dalam satu wilayah, kalau perseteruannya lintas negara terus lempar-lemparan sandal rudal?? Maka dari itu KAICIID bermisi untuk memfasilitasi segala bentuk dialog antaragama dan antarbudaya untuk mencegah berkembangnya konflik menjadi ‘lempar-lemparan sandal’ dalam skala yang lebih brutal.

infografik konflik antaragama di USA yang dirangkum organisasi Tanenbaum
Awal mula terbentuknya KAICIID adalah inisiatif mewujudkan dialog global yang disampaikan pada Islamic Summit di Mekkah tahun 2005 dan diteruskan oleh almarhum King Abdullah Bin Abdulaziz pada pertemuan dengan Paus Benedict XVI tahun 2007.


Setelah beberapa konferensi di Mekkah, Madrid, Wina dan Geneva, para peserta menyepakati perlu dibentuk suatu lembaga resmi yang mewadahi aktifitas dialog global ini. Maka pada Oktober 2012 para negara pendiri (Arab Saudi, Austria dan Spanyol) menandatangani perjanjian pembentukan KAICIID di Wina.

Kemudian pada November 2012 KAICIID meresmikan kantor pusat yang terletak di daerah Schottenring. Dalam kurun waktu 2 tahun, KAICIID menyelenggarakan konferensi internasional antar-pemuka agama pada November 2014 di Wina. Konferensi dengan tema “United against Violence in the Name of Religion” ini menghimpun saran, inisiatif dan pernyataan dari para peserta dalam gerakan melawan kekerasan yang mengatasnamakan agama.

—KAICIID menekankan pentingnya bertukar informasi antaragama dan antarbudaya untuk memupuk toleransi seperti  yang dilakukan the historic world’s travellers: Marco Polo, Zheng He & Ibn battuta (foto: KAICIID)

Selain konferensi antar-pemuka agama, KAICIID juga menyelenggarakan fellowship (ini nggak ada hubungannya dengan misi bawa-bawa cincin ke gunung berapi) yang bertujuan membekali para aktivis dan akademisi keagamaan dari berbagai agama dan bangsa dalam pengembangan dialog antaragama dan antarbudaya di daerah masing-masing.

KAICIID International Fellows Programme periode 2015-2016 diadakan di Wina selama seminggu (13 – 20 Februari 2015) yang dilanjutkan selama setahun secara online dan evaluasi di akhir tahun kembali di Wina. Sebanyak 20 peserta mengikuti fellowship ini yang merepresentasikan 5 agama (Buddha, Hindu, Kristen, Islam dan Yahudi) dan 17 negara (Arab Saudi, Austria, Guatemala, India, Indonesia, Inggris, Irak, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Sri Lanka,  Thailand, Turki, Uganda, USA, Venezuela dan Yordania). Oho, rupanya ada juga perwakilan dari Indonesia!

—kata beliau-beliau ini Indonesia adalah negara yang sangat diperhatikan karena keragaman agama dan budayanya; menarik tapi juga rawan konflik (foto: KAICIID)

Peserta dari Indonesia yang mengikuti fellowship periode 2015-2016 ini adalah Pak Yusuf dan Bu Wiwin. Pak Yusuf adalah aktivis dari ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) yang sudah menerbitkan empat buku dan kerap memberikan workshop mengenai toleransi antarumat bergama. Selain mendapatkan dua gelar master dari UI (Program Studi kajian Timur Tengah dan Islam) dan ICAS London (Master of Philosophy and Islamic Mysticism) beliau juga menerima beasiswa dari Vatikan untuk mendalami interreligious studies di tiga universitas di Italia.  

Bu Wiwin juga seorang aktivis dari Institut DIAN/Interfidei yang berpusat di Yogyakarta. Beliau sudah sangat lama (15 tahun!) berkecimpung dalam kegiatan dialog antaragama dan turut berperan dalam mengorganisir sejumlah konferensi nasional. Bu Wiwin mendapatkan gelar MA dari UIN Sunan Kalijaga (Hubungan Antaragama) dan juga mengajar di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.
—acara penutupan KAICIID International Fellows Programme


Selama di Wina Bu Wiwin pernah menginap di rumah penulis (yang berakhir penulis ikutan nginep di hotelnya Bu Wiwin karena kepo ;p—‘BREAKFAST BUFFET DI HOTEL CUY!’ pikirku dengan penuh semangat ‘khas mahasiswa’) yang berbuah manis undangan dari Bu Wiwin yang baik hati untuk ikut hadir di acara penutupan.

Yah, sebenarnya yang diundang adalah WG penulis, Dr. rer. nat. Ningrum, secara beliau yang berdedikasi nungguin si Ibu datang, masak-masak dan mengantarkan Bu Wiwin ke mana-mana.

Alhamdulillah karena sang Dr. rer. nat. Ningrum mencari teman untuk datang ke undangan tersebut akhirnya penulis pun kebagian rejekinya~ Setelah lama penasaran seperti apa dalamnya gedung yang depannya sangar ini akhirnya bisa masuk juga! Sayangnya penulis tidak sempat foto-foto arsitektur dan interior di dalam karena keasikan cemal-cemil dan foto narsis.
 —bukan orang Indonesia kalau nggak foto-foto, haha! Bersama Dr. rer. nat. Ningrum, Bu Wiwin dan Pak Dody sebagai undangan perwakilan dari KBRI

Terlepas dari cemal-cemil yang bikin nggak sempat foto-foto tersebut, hari itu tetap ditutup dengan makan malam di all-you-can-eat & pay-as-you-wish favorit di daerah Schottentor: Deewan. Mohon diperhatikan bahwa ini semata-mata untuk kepentingan wisata alias menunjukkan pada Bu Wiwin tempat makan di Wina yang enak, halal, murah dan banyak (buat yang belum pernah ke sini: SITU KEMANE AJE), jadi bukan karena penulis nggak bisa berhenti makan dan nggak bisa nolak traktiran (terima kasih banyak Bu Wiwin!).
—terima kasih banyak Bu Wiwin untuk dinner-nya, dan Dr. rer. nat. Ningrum untuk fotonya :D

*Setelah ngebahas makanan jadi lupa inti artikelnya apa* Ah ja, jadi kalau suatu waktu ada yang punya konflik antar-apapun yang pelik, baiknya jangan dihadapi dengan anarkisme meskipun sebatas perang sandal.

Hadapi konflik dengan rasional dan diskusi, jangan terhasut ngelempar sandal hanya karena terlihat seru dan seneng lihat lawannya kesakitan :(.

Ambil kursi, bikin Melange, suguhin Sachertorte, dan mulai dengan ‘Das Wetter ist gut oder?’ *lho*. Selamat berdialog dengan asik :)