/* Whatsapp css setting */ .tist{background:#35BA47; color:#fff; padding:2px 6px; border-radius:3px;} a.tist:hover{color:#fff !important;
Showing posts with label By: Syifa. Show all posts
Showing posts with label By: Syifa. Show all posts

Tuesday, 30 June 2015

Buka Bersama di Graz


 by Syifa Nurhanifah
Images by Sri Yuliyanti and Vina



Salah satu hikmah dari bulan Ramadhan adalah “nikmatnya kebersamaan”. Jika dibandingkan dengan bulan-bulan selain bulan Ramadhan, acara makan bersama itu tergolong sesuatu hal yang “jarang terjadi” mungkin bisa dikatakan yah paling sering sebulan sekali makan bareng teman-teman. Selebihnya ya kita sibuk masing-masing.

Tetapi ketika Ramadhan datang, rasa kebersamaan itu seakan sebuah kebutuhan yang jika tak dipenuhi terasa tak afdhol Ramadhannya. Seminggu pun bahkan bisa 2 sampai 3 kali ada acara “Iftar” (atau kalo orang Indonesia bilangnya Bukber). Apalagi yang tinggal di Wina, asyik bener deh kalo udah Ramadhan, ada KBRI dan Wapena yang selalu mengadakan Bukber ini tiap minggunya dengan menyuguhkan makanan-makanan Indo dan kajian Ramadhan.... mmmmm... bikin hilang rasa kangen kampung halaman :D


Kebersamaan adalah juga merupakan “pondasi” dari sebuah Komunitas yang harus dijaga kekokohannya supaya komunitas ini tetap berdiri kuat. Berangkat dari semangat inilah, PPI Austria juga mengadakan acara Bukber di bulan puasa ini yang bertujuan untuk terus memupuk tali silaturrahmi dan keeratan antar anggota. Dan kali ini yang mengadakan Bukber adalah teman-teman PPI di Graz! Lho kenapa Graz?? Jawabannya bisa kalian dapatkan setelah selesai membaca artikel ini ;)

Kalo boleh saya jujur, saya sangat bangga dan salut terhadap temen-temen PPI yang hidup di Graz. Kekompakkan dan solidaritas mereka sesama mahasiswa dari Indonesia bisa dikatakan menakjubkan.. hehe
Dibawah Komando wanita-wanita luar biasa seperti Mbak Marini, mbak Nursis, mbak Ossy dan dan mbak Fitri bumbu-bumbu dan sayur mayur itu disulap menjadi sebuah makanan yang sangat lezat... ada es campurrrr dan teh manis sebagai minuman pembuka, kemudian ada Ayam balado, tempe bacem, cap-cay dan Bakso sebagai menu utama, dan terakhir ada tiramisu dan kue bolu... sertaaaaa melon! :D (yang batal hadir.. pokoknya nyesellll deh! :P )

Saking senengnya ada banyak makanan ini sampai lupa klo perut saya kecil :D bersama-sama dengan mbak Ossy kita terkapar kekenyangan :D :D (ups.. :P )

Ketika yang lain ketawa-ketiwi dengan banyolan si Jo kita berdua cuma bisa nyengirr aja sambil mengelus elus perut mencoba mencari celah untuk bernapas.

Memang beda kalo kita bukber bareng sesama student, ngga ada deh jai’im-ja’iman. Kultum-pun bukan mengupas sekitar tema Ramadhan melainkan tentang Paper dan tugas-tugas kuliah :D menunggu waktu sahur pun bukan dengan tidur, melainkan dengan diskusi dan sharing pengalaman.. luar biasa! :D :D

Terima kasih banyak untuk temen-temen di Graz atas dedikasinya mengadakan Buka puasa ini. Acaranya sukses banget! Buat yang batal hadir mas-mas dari Wina, Sisko, Bram, Peb, mas helmy, mas khoiri juga yang dari Leoben mas Andy dan Anda, salam kalian udah saya sampaikan pada panitia di Graz.. hihi :D


Salam kompak selalu!


Friday, 26 June 2015

Be Active during Ramadan!

by Syifa Nurhanifah, Evi Mulyani


Menjalankan puasa di musim panas di Eropa tengah memang tidak mudah, selain panas menyekat juga jarak antara terbit dan terbenamnya matahari mencapai sekitar 18 jam, juga ditambah dengan godaan godaan lain dari orang-orang disekeliling kita yang mayoritas tidak berpuasa, mantap sudahlah tantangan-tantangan bagi kaum muslim yang berpuasa di bulan Ramadan ini.

Bagi yang baru pertama kali merasakan bagaimana menjalankan ibadah puasa yang lamanya 18 jam ini pasti rasanya sulit sekali dan terkadang berpikir untuk menyerah. Ditambah lagi ketika kita merasa sendirian, sahur sendiri.. buka puasa sendiri. Sediih rasanya tuh (maklum di Salzburg kan ngga ada wapena)

Tapi seiring berjalannya waktu perasaan sedih itu kian sirna, ketika saya mulai mengenal beberapa teman-teman muslim di tempat kuliah, tepatnya teman-teman muslim dari MJÖ (Muslimische Jugend Österreich).  Pada awalnya waktu itu saya diundang Iftar bareng mereka, kemudian juga diundang di acara-acara lain seperti kajian ramadan dan yang terakhir di undang untuk ikut dalam Projekt mereka ”Ramadan, Teilen ohne Grenze” atau kalo dalam bahasa Indonesia ”Ramadhan, berbagi tanpa batas”. Sebuah Projekt yang bertujuan untuk memperkuat kesadaran sosial, solidaritas dan keterlibatan partisipatif anak-anak dan remaja muslim di Austria terhadap masyarakat, terutama terhadap mesyarakat yang membutuhkan.

Melalui Projekt yang biasa disebut dengan FTH (Fasten, Teilen Helfen) ini  kaum muda muslim di Austria memiliki peluang untuk saling membantu dan saling berbagi selama menjalankan puasa dan bersama sama beribadah kepada YME. Dari yang biasanya diam di rumah sendirian menunggu waktu buka puasa, menjadi keluar rumah aktif dalam kegiatan sosial seperti bakti sosial membersihkan kuburan muslim, mengunjungi panti-panti jompo, panti asuhan, dan juga masyarakat pengungsi (Refugee) untuk memasak dan sekedar meluangkan waktu bersama mereka.


Belajar mengenal Ramadhan dari segi sosial dan segi spiritual yang berbeda adalah hal yang ingin di capai MJÖ dalam projekt ini. Pertama kali saya mengikuti Projekt ini adalah tahun 2013 di Lebenshilfe Salzburg, rumah panti jompo dan orang-orang cacat. Disana kami dari MJÖ bersama orang-orang yang tinggal di panti ini bersama-sama memasak apple cake. 

Bagi saya pribadi pengalaman memasak bareng orang-orang di panti ini merupakan pengalaman yang luar biasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Berinteraksi bersama orang-orang yang memiliki “cara berkomunikasi yang berbeda” ini membuat hati saya luluh, apa lagi melihat senyum lebar dan garis tawa dalam wajah mereka. Hal ini bukan saja membuat saya sendiri bahagia, namun insha Allah juga bagi mereka penghuni panti.



Berangkat dari pegalaman pertama, saya memiliki semangat untuk tetap mengikuti Projekt ini di setiap tahunnya, dan Alhamdulillah saya diberikan kesempatan lagi untuk mngikuti Projekt ini di Wina tahun 2015 ini. Dan alangkah lebih senangnya lagi kali ini saya ditemani oleh teman sesama suku- Evi Mulyani (Danke Evi, fürs Mitmachen!). 

Bertepatan dengan “Weltflüchtlingstag” tgl 20 Juni lalu, kami tim dari FTH mengajak anak-anak dari keluarga pengungsi untuk berekreasi ke Cobenzl tepatnya ke Kinderbauernhof untuk mengunjungi hewan-hewan ternak dan mengenal lebih dekat bagaimana kehidupan mereka disana. Ada 20 anak yang ikut dalam rekreasi ini dan berumur mulai dari 3 sampai 14 tahun. Anak-anak yang mungkin sangat jarang sekali atau bahkan tidak memiliki kesempatan bisa berekreasi ini terlihat sangat bahagia ketika mereka kami jemput dari rumah penampungan dan bersorak sorai “Ich bin dabei” Ich bin dabei!!”. Kebahagiaan itu amat lagi bisa terlihat ketika mereka berlarian mengejar kelinci-kelinci dan kucing, memberikan kambing dan domba makanan serta melihat kehidupan keluarga ayam dan itik-itiknya.

“Anak-anak memang melelahkan untuk di awasi, namun kelelahan itu sirna ketika kita menyaksikan anak-anak itu tersenyum lebar karena bangga telah memberikan kambing makan. Tak perlu lah kita mengeluarkan banyak uang untuk bersedekah, apalagi kita yang masih sulit ini, namun cukup senyuman dan menghadiahkan waktu kita untuk mereka  insha Allah jg termasuk sedekah.” Evi.


Tak terasa waktu terus berjalan. 5 jam lebih kami menghabiskan wktu bersama anak-anak ini. Tapi selama 5 jam tersebut tak sekalipun lapar dan dahaga  kami rasakan. Yang terasa adalah perasaan Fit dan Energik bersama anak-anak ini. Pulang-pulang langsung saaatnya mempersiapkan buka puasa.

Inilah manfaat yang besar dari aktifitas ini di bulan Ramadhan. 18 jam itu terasa akan sangat cepat berlalu jika kita mengisinya dengan berbagai aktifitas yang membuat kita lupa akan “perut kosong” kita, dan Insha Allah, Allah meridhai segala aktifitas yang bisa memberikan manfaat positif kepada yang lain.

Untuk yang ingin bergabung dalam Projekt FTH ini, silahkan untuk mendaftarkan diri di link berikut: http://ramadan-helfen.at

Tuesday, 26 May 2015

Persebaran Anggota PPI Austria per 26 Mei 201

by Syifa Nurhanifah

Sering kali banyak yang bertanya dan berdengung di telinga, ada berapa sih anggota PPI Austria? 

Memang agak-agak susah dan gampang untuk menjawab  pertanyaan ini. Karena satu sisi, jika kita berpacu hanya dengan anggota aktifnya saja, maka bisa dihitunglah dengan jari berapa orangnya dan siapa-siapa orangnya. Namun jika kita menengok dan melototin database PPI Austria, maka jumlahnya lumayan banyak, dan susah untuk mengatakan angka pastinya, karena ternyata banyak juga anggota-anggota yang keberadaanya tidak diketahui, alias Unknown, apakah si dia-dia ini masih di Austria atau tidak, ditambah lagi ada juga si dia-dia yang sering nongol dan aktif dalam kegiatan-kegiatan PPIA, namun namanya tak terdaftar dalam database. Sehingga membuat galau sang pemegang database apakah si dia-dia ini bisa dikatakan anggota atau tidak. 

Tetapi untuk bisa menjawab pertanyaan: “berapa anggota PPI Austria saat ini?” 

Berikut saya lampirkan tabel dan grafik persebaran anggota PPI Austria yang bersumber dari database PPI Austria dari tahun 2008 – 2015
Selamat menyimak!


Tabel Persebaran Anggota Berdasarkan Kota dan Status Keberadaan:


Berikut ini adalah grafik perbandingan status antara Anggota yang tercatat aktiv dengan Anggota yang hanya sebatas terdaftar:



Dari grafik diatas terlihat sekali bahwa anggota PPIA yang aktif sebagian besar hanya berkisar kurang lebih 50% atau setengah dari keseluruhan anggota yang terdaftar masih di Austria, sisanya pasif dan tidak diketahui keberadaanya. 


Demikian sementara yang bisa saya sampaikan. Selebihnya kami memohon kepada rekan-rekan yang baru datang dan yang  telah datang, namun belum sempat mendaftarkan diri  untuk melaporkan/mendaftarkan diri as soon as possible di link berikut ini: 


Selanjutnya jika data memungkinkan dan telah ter-update lagi, maka akan ada tambahan kategori seperti quantitas jurusan-jurusan studi, jenjang studi yang diambil oleh anggota PPI Austria dan yang unik lainnya.

Jadi, ayook mari sama-sama dukung kegiatan sensus penduduk PPI Austria! 



Wednesday, 13 May 2015

Simposium PPI Amerika – Eropa 2015

by Syifa Nurhanifah



Pada tanggal 06 sampai 09 Mei 2015 telah diselenggarakan Simposium PPI kawasan Amerika dan Eropa (Ameropa) yang merupakan kegiatan rutin tahunan PPI Dunia. Simposium ini telah diikuti oleh Delegasi-delegasi PPI dari 13 negara, diantaranya: Austria, Belanda, Belgia,  Rep. Ceko, Denmark, Estonia, Inggris, Italia, Jerman, Kanada, Perancis, Portugal dan Rusia.

Pada periode 2014 – 2015, melalui Dewan Presidium Dunia dan kesepakatan PPI kawasan Ameropa, tertunjuklah PPI Rusia atau yang di sebut sebagai PERMIRA (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia) sebagai tuan rumah untuk kegiatan simposium ke dua ini setelah sebelumnya diadakan di Turki pada tahun 2013 lalu.

Simposium kali ini mengangkat tema “Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam menghadapi ASEAN Community 2015”. Seperti yang telah diketahui bahwa berdasarkan hasil dari deklarasi Bali Concord II tahun 2003 negara-negara ASEAN  telah menyepakati dan berkomitment untuk menyatukan Visi, mimpi dan Identitas menuju negara-negara yang makmur dan sejahtera.

“One Vision, One Identity, One Community” sebuah Motto yang sejatinya bermaksud untuk meningkatkan kerjasama dan solidaritas antar negara-negara ASEAN ini berbasis pada 3 pilar, yakni; Kommunitas politik dan keamanan, Kommunitas ekonomi dan kommunitas sosial budaya. Tujuan dari ketiga pilar tersebut adalah meningkatkan stabilitas keamanan, ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia baik itu dari sisi budaya, ilmu pengetahuan dan juga  kesehatan. 

Indonesia sebagai founding fathers ASEAN tentunya harus mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan dari terbentuknya ASEAN Community ini khususnya dalam menghadapi pasar tunggal ASEAN (AEC). Misalnya dari sisi sumber daya manusia dan regulasi pemerintah terkait dalam melindungi dan menjaga daya saing masyarakatnya.  Atas hal-hal tersebutlah Simposium PPI Amerika-Eropa diadakan, yaitu sebagai bentuk kepedulian putra-putri bangsa yang ingin berkontribusi terhadap Indonesia.

Kegiatan yang diadakan di MGIMO University of International Programms - Moscow ini mengundang pembicara-pembicara baik dari kalangan politik seperti Menteri Luar Negeri Indonesia Ibu Retno Marsudi, kalangan Akademisi seperti Executive Director Institute of Defence and Security Studies - Ibu Dr. Connie Rahakundini Bakrie dan juga kalangan Pengusaha seperti Executive Director The Indonesian Palm Oil Producers Association – Bapak Fadhil Hasan, PhD.

Setelah mendapatkan kuliah umum dari para Pembicara tersebut diatas, dibahaslah berbagai gagasan-gagasan generasi muda dalam Sidang Paripurna Simposium terkait persiapan Indonesia menghadapi ASEAN Community 2015 . Kemudian hasil  yang telah disepakati dalam sidang tersebut ini diramu menjadi sebuah rekomendasi yang disebut dengan ‘Manifesto Moskow’ dan akan disampaikan langsung kepada Pemerintah RI (dalam hal ini adalah Bapak President kita Ir. Joko Widodo). 
Rekomendasi tersebut  diantaranya adalah tuntutan kepada pemerintah untuk lebih memajukan good governance, menghilangkan ego sektoral, meningkatkan mutu SDM melalui reformasi Pendidikan serta mempercepat pembangunan Infrastruktur. 

Selain menghasilkan rekomendasi tersebut, dalam Simposium ini telah dibahas juga mengenai Action Plan para pemuda yang tersebar di berbagai negara di Amerika-Eropa yang tergabung dalam PPI Amerika-Eropa untuk terjun langsung ke masyarakat. Yang disebut sebagai Action Plan ini adalah berbagai kegiatan-kegiatan masing-masing PPI di seluruh kawasan Ameropa untuk mengangkat tema ASEAN Community beserta mensosialisasikan dampak, tantangan dan kesempatan bagi Indonesia kepada masyarakat, baik itu di dalam ataupun luar negeri.






Friday, 24 April 2015

“Revolusi Sembako” Bikin Tempe Laris Manis

by Syifa Nurhanifah

Ketika kita masuk dalam supermarket, tak asing lagi jika kita menemukan produk-produk yang berlabelkan "Veggie".

Hal ini tak lain disebabkan oleh pemenuhan kebutuhan para vegetarian dan vegan yang jumlahnya tiap tahun selalu meningkat. Di Austria sendiri jumlah masyarakat veggie sampai tahun 2013 berjumlah 760.000 orang atau 9% dari keseluruhan penduduk.

Berdasarkan EU-Eurobarometer, angka ini meningkat dari 2,9% di tahun 2005 (sekitar 238.000 orang) atau mencapai peningkatan sekitar 200% dalam kurun waktu 8 tahun (Sumber: österreichische Vegan-Gesellschaft).

Wow...! peningkatan yang luar biasa.

Kadang hati kecil ini bertanya-tanya, eh trend banget yah makan tanpa daging disini? Hmm.. penyebabnya apa sih?

Setelah berbincang-bincang dengan teman-teman yang veggie dan juga baca sana sini, akhirnya saya pun mengerti kenapa mereka memutuskan menjadi bagian dari masyarakat Vegeta (Veggies).

Jika dilihat dari definisinya sendiri, kita pun semua tau bahwa yang di maksud dengan Veggies adalah orang-orang yang hanya mengkonsumsi tumbuh-tumbuhan dan tidak makan daging. Atau mereka lebih dikenal dengan masyarakat Vegetarian. Namun bagi sebagian komunitas, menolak untuk mengkonsumsi daging sendiri tidak cukup untuk bisa dikatakan sebagai masyarakat Vegeta, yang secara hakikatnya memang harus benar-benar bebas dari kandungan hewani! 

Jadi segala makanan yang mengandung unsur hewani, apapun itu, haram hukumnya untuk di makan! Contohnya telur dan susu.. (wuah.. lebih susah nyarinya dong, dibandingkan makanan Halal untuk kaum muslim :D) Makanya komunitas ini membedakan diri dengan Vegetarian, dan menamakannya sebagai Vegan, yaitu pengerucutan dari kata VEGetariAN.

Jadi segala makanan yg mengandung unsur hewani, misal telur dan susu, entah itu kue, es cream, ataupun coklat harus bebas dari kandungan telur dan susu. Bagi sebagian besar masyarakat (seperti saya misal) mungkin hal ini tak bisa dibayangkan karena saya suka makan kue.. Apfestrudel, Topfenstrudel, spetzle, Mie kocok/goreng,  Sacher Torte, Marlenka, nutella, suka coklat, suka dadar gulung, suka... aaah pokoknya banyak deh yang mengandung telur, susu dan madu  and I can't live without it :D

Tapi jujur sejujur jujurnya, saya pribadi sangat salut dengan orang-orang yg memilih hidup sebagai Vegan. Bukan hanya alasan kesehatan saja mereka memilih hidup sebagai Vegan, namun juga sebagai rasa solidaritas sosial yang tinggi terhadap sesama makhluk hidup, yaitu sebagai bentuk respect mereka terhadap hewan; menolak exploitasi hewan, menuntut adanya keadilan pangan bagi petani dan juga peduli terhadap lingkungan dengan mengurangi jumlah kosumsi daging. 

Btw, berdasarkan studi aktual dari Uni Wien  dan Netherlands En-vironmental Agency, 1Kg daging sapi yang diproduksi di Brazil mampu memproduksi 335 Kg CO2, yang bisa mecemarkan lingkungan sejauh 1.600 Km (hitungan ini berdasarkan Life Cycle Assessment). Atau sama saja dengan jarak antara Jakarta – Denpasar. (Wuidiih baru aja sekilo, efeknya buu, lumayan gede.)


(Sumber: https://vebu.de/themen/umwelt/klimawandel/1316-1-kg-rindfleisch-so-klimaschaedlich-wie-eine-1600-km-lange-autofahrt)

Oleh karena hal-hal yang disebut diatas tadi, masyarakat Vegan lebih mengutamakan untuk mengkonsumi produk-produk organic yang regional dan fair trade demi menjaga kelangsungan ekosystem dan mendukung sustainable development. Alasannya dikarenakan bahwa produk-produk organic bebas dari bahan kimia, memiliki kualitas tinggi, lebih menyehatkan daripada produk non-organic dan ramah lingkungan. 

Produk regional berarti produk lokal dan bukan import, alasannya untuk mengurangi polusi udara akibat transportasi dan distribusi produk-produk tersebut, dan fair trade-produk untuk mendukung adanya kedaulatan pangan bagi petani lokal dan keadilan sosial bagi buruh dan pekerja.

Kadang memang kita berfikir menjadi Vegan itu adalah hal yg extrem, karena tantangannya (bisa dikatakan) langsung terhadap pola dan nafsu makan kita, karena menjadi Vegan berarti kita harus merubah semua komposisi makanan yg mengandung unsur hewani dan menggantinya dengan komposisi yg berunsur nabati. Yaaa bisa kita katakan hal ini sebagai Revolusi Sembako. ;-)

Tapi berdasarkan pengalaman teman-teman yg menjadi Vegan,  semua tantangan ini (menariknya) malah menjadikan mereka lebih kreativ, khususnya dalam menciptakan alternativ makanan pokok. Untuk semua bahan makanan yg mengandung telur, mereka ganti dengan tepung kedelai, susu sapi mereka ganti dengan susu kedelai (bahkan ada juga rice milk! Aha...), madu diganti dengan marple syrup, daging diganti dengan tahu bahkan Tempe!! Ya.. iya tempe!! Tempenya orang Indo, he’eu!



Selain tahu, tempe yang dulu hanya bisa ditemukan di Asia Shop kini bisa ditemukan di segala supermarket yang berlabelkan Biomarkt. Apakah itu Denns, Veganz, Reformhaus, PLAN-Bio dan lain-lain. Lebih terpukaunya lagi, tempe ini diproduksi dan diolah secara regional di Austria dan Jerman oleh (ehm) orang eropa!! Wow bgt kan?! (siapa yang ngajarin, hayo..??!)

Tempe kini bukan cuma terkenal dan laris manis diburu oleh para Veggies di Eropa Tengah. Tempe juga (oleh orang sini) diolah dengan berbagai macam kreasi, apakah itu ala orang Asia atau juga Western style.  Dari mulai gemüse-Wok, tempe goreng sampai smoked tempe pun ada dan bisa di sulap menjadi bacon ataupun sosis! Resepnya bisa dicoba di: http://www.vegetariantimes.com/recipe/tempeh-bacon/

Nama Indonesia pun melejit ke atas di kalangan Veggies ini. Resep-resep masakan indonesia dicari dan dicoba oleh mereka. Bahkan ada beberapa teman Vegan yang pernah mencoba membuat tempe sendiri, namun sayangnya GAGAL. (yoweis bisa dicoba lagi)

Terlintas rasa bangga dong produk lokal masyarakat indonesia bisa mendunia seperti ini. Apalagi bahkan di hargai dan disanjung rasanya. Selain nasi goreng, mungkin kedepannya “tempe mendoan” akan tenar di Eropa. Siapa yang mau taruhan, yuk..?! ;-)

Yang terakhir, bagi kita-kita yang Omnivora :D dan peduli lingkungan (cie..), mungkin bisa memulai dengan mengurangi konsumsi daging yang berlebihan dan memperbanyak berdzikir daripada belanja.. (haha... huuuuuuuu....) :D :P

Eh makan tempe yuk? :P

Tuesday, 24 March 2015

Berburu Bärlauch

by Syifa Nurhanifah

I like the flowers, I like the daffodils,
I like the mountains, I like the rolling hills.
I like the fireplace, when the light is low.
Dum, di da, di dum, di da, di dum, di da, di dum, di da, di

Yeaaah spring is coming!! :D let’s sing this song once more..!

I like the flowers, I like the daffodils,
I like the mountains, I like the green hills.
I like the fire stone, I like to walk alone.
Dum, di da, di dum, di da, di dum, di da, di dum, di da, di

Oho..!! ;-)

Siapa sih yang ngga sumringah dengan kehadiran kehangatan matahari dan warna warni bunga-bunga musim semi?

Daffodils, crocus, tulip dan juga snowdrops mulai bermekaran di mana-mana. Apalagi jika kita lewat taman-taman kota, wuaaah keinginan untuk selfie dengan bunga-bunga inipun kian menggelora.. ;)

Eiitsss tak disangka tak menyangka bahwa selain bunga-bunga spring ini tumbuh pula satu jenis tanaman liar yang memiliki rasa lezat jika di makan dan bisa dijadikan rempah atau bumbu dapur serta bisa mengobati penyakit.

WOW… jenis tumbuhan apakah ini?

Dialah Allium ursinum. Orang disini menyebutnya Bärlauch yang berarti "bawang beruang" dan kayaknya masih sepupu sama bawang bombay deh ;)
atau dalam bahasa Inggris tanaman ini lebih dikenal dengan wild garlic.



Tumbuhan ini adalah sejenis bawang-bawangan gitu, TAPI lebih uniknya, tumbuhan ini tidak berbentuk seperti bawang, namun berbentuk DAUN.

Yup, itulah kedahsyatan Bärlauch ini. Jika dimakan, tumbuhan ini memiliki rasa khas yang mirip sekali dengan bawang putih, namun dengan wujud yang sangat berbeda dengan bawang putih.

Bagaimana sih penampakkan tumbuhan ini, yuk kita perhatikan gambar di bawah ini:




Menurut Wikipedia, Bärlauch adalah memang sejenis tumbuhan bawang-bawangan yang berkerabat dengan bawang bombay, bawang putih, bawang merah, lokio dan kucai. Namun tempat tumbuh dan berkembang biak tumbuhan ini sangat berbeda dengan kerabatnya yang lain. 

Bärlauch ini tumbuh secara liar di hutan, kebun atau di pinggiran sungai dan daerah lain yang berudara lembab. Hebatnya lagi, bärlauch tidak bisa dipindah tempatkan, apalagi jika kita tanam di pot di rumah. Kesempatan untuk bertahan hidup di pot hanya 30%.

Namun sayangnya Bärlauch hanya tumbuh di Eropa saja dan sebagian kecil di negara-negara Asia yang memiliki 4 musim.



Tumbuhan ini mulai tumbuh biasanya di Awal bulan Maret tiap tahunnya. Penampakkanya bisa dikatakan pertanda bahwa musim semi akan segera atau sudah datang. Yang spesial dari Bärlauch ini tentu saja bukan hanya dari keunikan-keunikannya saja, namun dari manfaat tumbuhan ini bagi kesehatan jasmani.

Orang Eropa biasa menggunakan tumbuhan ini sebagai jamu tradisional mengobati penyakit Arteriosklerose (penyempitan pembuluh nadi), mengobati maag, mengurangi tekanan darah tinggi dan juga bisa mengobati cacingan http://www.heilkraeuter.de/lexikon/baerlauch.htm.

Kehadiran Bärlauch ini tentu saja sangat dinanti nantikan bagi mereka yang hobby masak dan experiment di dapur, khususnya bagi mereka yang vegetarian dan vegan. Jika kita tanya Google tentang resep maakanan yang menggunakan Bärlauch, kita akan temukan berbagai macam jenis makanan yang beragam.

Saya sendiri paling suka menyulap Bärlauch menjadi Pesto dan Dip. Walaupun bukan vegetarian atau vegan, namun sensasi rasa yang begitu khas dari Bärlauch ini yang membuat saya tergila-gila dan punya semangat juang tinggi untuk memburunya di awal musim semi ;-)

Karena eh karena.. Bärlauch yang baru tumbuh di awal musim semi (atau di akhir winter) memiliki rasa dan aroma yang lebih kuat dibandingkan dengan Bärlauch yang sudah lama tumbuh dan berbunga – yang notabene rasa dan aroma sudah berkurang.

Hal yang paling spesial dari Bärlauch ini adalah rasanya yang sangat mirip dengan Bawang putih. Alhasil dalam hal memasak pun kita bisa menggunakan bärlauch untuk menggantikan bawang putih. Jadi entah masak apapun itu yang berbumbu bawang putih, kita bisa menggantikannya dengan Bärlauch ini. Bagi Students ini mungkin jadi hal yang positiv, karena kita bisa menghemat uang belanja di dapur. Kalo ada yang gratisan, kenapa mesti beli toh? ;)



Yup.. Bärlauch bisa kita dapatkan secara cuma-cuma dan bisa kita panen sebanyak mungkin yang kita mau. Tapi tentu saja di hutan hutan umum dan bukan hutan kawasan lindung yaa..

Di Salzburg markas besar Bärlauch sendiri berada di Glasenbachklamm, dan di Fürstenbrünner Allee (tempat tersembunyi dan sunyi pokoknya). Di Wina sendiri secara takjub saya menemukan markasnya di Pötzleinsdorfer Schlosspark disana terhampar ribuan tunas Bärlauch yang bisa kita panen secara gratis.

ACHTUNG! 

Bagi yang ingin berburu Bärlauch harus dan mesti mengenal dalam-dalam bentuk tumbuhan ini. Karena ada beberapa tumbuhan liar lain yang mirip dengan Bärlauch, namun beracun! Dialah Maiglöckchen (Lilly of the Valley) dan Herbstzeitlose (Meadow saffrons).

Sekilas tiga tumbuhan ini sangat mirip, namun ada beberapa perbedaan yang bisa kita lihat jika di amati secara teliti:



  • Bärlauch tumbuh di awal musim semi (awal maret sampai akhir April dan berbunga sampai akhir Juli) sedangkan Maiglöckchen tumbuh di awal bulan Mei, dan Herbstzeitlose tumbuh sekitar awal oktober.
  • Bärlauch memiliki aroma seperti Bawang putih, sedangkan dua tanaman yang lainnya tidak memiliki aroma apa-apa
  • Daun Bärlauch tumbuh secara single dan terpisah dari daun-daun lainnya walupun satu umbi, sedangkan dua tumbuhan lainnya, daunnya berkelompok mengikuti umbi.
  • Bentuk bunga yang sangat berbeda (lihat gambar)


Bunga Bärlauch

Bunga Maiglöckchen

Kalau sudah pintar dalam membedakan ketiga macam tumbuhan liar ini, yuk kita panen deh si unik Bärlauch ini. Bagi yang mau berexperiment di dapur, boleh di coba resep-resep di website ini: http://www.ichkoche.at/baerlauch-rezepte

Saya sendiri telah mencoba resep Bärlauch Cordon Bleu, Bärlauchsuppe, Bärlauchspesto und Bärlauch Aufstrich, rasanya mmmmm….. karena saking lezatnya dan keburu laperrr saya tidak sempat memotret hasil experiment ini ;-)

Buat yang lain, selamat mencoba!

Tuesday, 10 February 2015

Terpukau oleh "Konser Senandung"


 by Syifa Nurhanifah dan Evi Mulyani

Minggu, 8 Februari 2015, kali lah pertama mahasiswa musik klasik Indonesia mengadakan konser di Vienna. Konser yang bertemakan Senandung ini telah berhasil memikat para hadirin yang jumlahnya hampir 100 orang. Wow, betapa tidak memikat, suara Sopran dua cewek cantik yang sedang study di Vienna Conservatory of Music (Meta dan Indah) ini bertambah memukau seiring dengan dentingan piano yang dimainkan oleh pianist-pianist muda yang sangat piawai memainkan jari-jarinya di atas piano. 

Yup! merekalah Terra, Paulina dan Eudia Lina - Indonesian pianist students yang mengawali bermain piano sejak umur 3, 8 dan 9 tahun. Tak bisa dibayangkan kan, betapa mahir dan piawainya mereka pada saat ini.

Konser yang berlangsung selama 1,5 Jam ini menampilkan karya-karya dari komponist Eropa dan Indonesia seperti J.S. Bach, J. Haydn, G.F. Handel, A. Skrjabin, F. Chopin, M. Reger, M. Embut, Y. Djamin, F.X. Soetopo dan A. Sukarlan. Tak ketinggalan St. Francis of Assisi Church, gereja yang terletak di kawasan Bezirk 2 Leopoldstadt ini telah menjadi tempat bersejarah bagi kesuksesan konser pertama mahasiswa musik klasik Indonesia.
Tujuan utama diadakannya konser ini adalah untuk memperkenalkan bakat dari pelajar musik klasik Indonesia di Vienna, karena dalam kurun waktu 3 tahun ini ternyata jumlah pelajar musik klasik dari Indonesia di Austria kian bertambah. Hal ini pun kemudian diapresiasi oleh Romo Yohanes Monteiro dari KKIA (Keluarga Kristen Indonesia Austria) yang kemudian menggagas dan mengorganisir konser ini.

Ditanya tentang persiapan, kawan-kawan kita ini memulai perencanaan tentang waktu dan durasi konser semenjak Oktober 2014. Sedangkan latihan bersama (antara penyanyi dan pianist) dimulai pada bulan Januari 2015. Secara pribadi kawan-kawan kita ini merasa sangat senang sekali setelah konser, karena mereka tak menyangka bahwa publikum yang hadir begitu banyak dan support yang diberikan oleh warga KKIA pun begitu sangat besar pada mereka.
Kami dari Perhimpunan Pemuda dan Pelajar Indonesia di Austria sangat bangga terhadap prestasi kawan-kawan kita ini di kancah musik klasik. Semoga konser ini mengawali kesuksesan konser-konser selanjutnya. Hut ab! ;-)