/* Whatsapp css setting */ .tist{background:#35BA47; color:#fff; padding:2px 6px; border-radius:3px;} a.tist:hover{color:#fff !important;
Showing posts with label Apa Kabar Wina?. Show all posts
Showing posts with label Apa Kabar Wina?. Show all posts

Wednesday, 28 October 2015

Movie Screening “99 Cahaya di Langit Eropa”

by Maulida Kusumaningsari



99 Cahaya di Langit Eropa adalah film drama religi yang diangkat dari novel berjudul sama karya Hanum Salsabiel Rais dan Rangga Almahendra. Film yang terdiri dari dua bagian ini menceritakan tentang kehidupan mahasiswa muslim asal Indonesia bernama Rangga Almahendra, bersama istrinya Hanum Salsabiela, saat menempuh studi untuk mendapatkan gelar PhD di Wirtschaftsuniversität, Vienna, Austria. Acha Septriasa dan Abimana Aryastya adalah dua pemeran utama di film yang disutradarai oleh Guntur Soeharjanto ini.


Setelah sukses di Indonesia, Rangga Almahendra sang penulis, ingin memperkenalkan film ini di Vienna, tempat di mana sebagian besar film ini dibuat. Bekerja sama dengan Austria Indonesia Society Vienna dan PPI Austria, movie screening 99 Cahaya di Negeri Eropa dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober 2015 bertempat di OeAD Haus, Ebendorferstraße, Vienna. Acara ini diawali dengan pembukaan oleh ketua panitia, Sonya Luddin, Vice President of Austria Indonesia Society.




Acara ini dihadiri oleh Prof. Dr. Graninger Wolfgang, VP of Science and Education of Austria Indonesia Society, Dr. Denise Quistrop dari Ministry of European and International Affairs, Ibu WIna Retnosari dan Bapak Winko dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Vienna, Prof. Schlegelmilch dan Prof. Nell dari Wirtschaftsuniversität Vienna, ibu-ibu pengajian Vienna, grup Shivanata Bali Dance, dan pelajar baik dari Indonesia, maupun Eropa.



Movie screening ini diakhiri dengan diskusi terbuka yang langsung dipimpin sendiri oleh Dr. Rangga Almahendra. Salah satu feedback yang didapatkan dari audience adalah bahwa film ini harus ditonton secara masal di Eropa khususnya di Austria, karena film ini mampu menggambarkan perspektif yang berbeda dari Islam yang biasa diketahui oleh orang Eropa.







Monday, 26 October 2015

Carla: belanja barang bekas yang bukan di Flohmarkt

By: Rasmi Silasari

Siapa sih yang nggak suka jalan-jalan ke Flohmarkt? Walaupun adanya cuma di saat-saat tertentu, penuh sesak, barang jualannya suka aneh-aneh, dan sebenernya nggak ada yang ingin dibeli juga, muter-muter lihat dagangan di Flohmarkt selalu ada daya tariknya tersendiri. Meskipun rencananya cuma lihat-lihat pasti ada aja yang tiba-tiba menarik: buku, baju, sepatu, mebel, mainan, atau paling engga jajanannya yang bisa dimakan sambil jalan-jalan seperti es krim atau Lángos. Tapi gimana dong kalau lagi perlu sesuatu banget dan sayang beli baru? *gaya banget bilang 'sayang', ngaku aja 'ga ada duit'* Cari di Flohmarkt yang lagi ada mungkin nggak nemu barangnya, cari di willhaben juga nggak ada yang pas, kira-kira di mana lagi ya tempat nyari barang bekas yang lumayan lengkap dan nggak kucing-kucingan waktu bukanya?? Ini jawabannya: Carla.

Flohmarkt di Naschmarkt yang selalu ada hari Sabtu dan selalu ajaib barang-barangnya (sumber)

Cantik banget ya namanya~ Carla ini adalah toko barang bekas, salah satu bagian dari usaha Caritas, yang barang dagangnya berasal dari sumbangan orang-orang yang bisa langsung dibawa sendiri ke salah satu pusat Carla atau minta diambil oleh pihak Carla dengan membayar ongkos angkut. Kalau kalian suka nemu kotak baju bekas punya Caritas di area tempat sampah khusus, ini adalah salah satu sumber barang dagangan Carla. Tapi nggak seperti Humana (yang juga punya kotak barang bekas sendiri) yang hanya jualan baju, tas, dan sepatu, di Carla apa aja ada. Apa aja. 'Apa aja'-nya apa aja toh? Semuanya, kecuali barang-barang ini yang mereka tidak terima untuk alasan tertentu.

Kotak baju bekas Caritas yang menarik hati karena warna-warni (sumber)

Di Wien pusat Carla ada dua: di pusat kota di distrik 5, dan di daerah utara di distrik 21. Ada juga Carla yang lebih kecil di daerah selatan di distrik 10 yang tidak menjual mebel dan peralatan elektronik berukuran besar. Barang-barang di Carla kondisinya beragam (tergantung hoki yang belanja) tapi untuk barang elektroniknya sudah dijamin berfungsi dengan baik (bahkan ada yang bergaransi), sedangkan mebelnya semua dalam kondisi layak. Yang pasti mainan anak-anaknya semuanya bikin kepingin (terutama boneka-bonekanya, beruang empuk yang enak dipeluk-peluk CUMA 5€ *kasus langka di mana duit cukup tapi tempat nyimpennya engga*), dan buku-bukunya bikin terharu karena cuma 0.50 - 2€ dan ADA BAHASA INGGRIS PULA. Sudahlah, biar nggak penasaran silakan disimak foto-foto berikut yang diambil di Carla distrik 5 yang terbagi dalam empat gudang besar dan luasnya mencapai 4000 m². 

Yang nggak tahu kalau ini toko barang bekas pasti ngira garasi dari depannya

Koleksi bajunya lumayan lengkap: mulai dari topi sampai sepatu, untuk cowok maupun cewek!

 Perlu matras doang? Ada! Cuma perlu Lattenrost-nya? Juga ada! Tempat tidur kemahalan, tidur di karpet? Ok juga!

 Ruang keluarga, ruang tamu, dapur, kantor; ruang apapun ada mebelnya di sini

 Barang elektroniknya bergaransi! Iya termasuk televisi yang jadul ituh

 Pilihan buku-bukunya banyak dan murah, mau cari CD yang besar (laser disk) atau kecil tinggal pilih

 Kalau bawa anak jangan kelewatan bagian Kinder yang ada area bermainnya juga!

 Kalau bosen pakai set alat makan atau panci+tutup yang seragam, silakan cari yang beda-beda

 
Semakin ke dalem barangnya semakin menarik: lampu gantung antik, alat-alat kantor, peralatan ski, bahkan ada piano juga!

Seru kan~ Bagi yang berminat, langsung aja samperin cabang-cabang Carla berikut:

carla mittersteig
Mittersteig 10
1050 Wien
Mo-Fr 09.00-18.00
Sa 09.00-13.00

carla nord
Steinheilgasse 3
1210 Wien
Mo-Fr 09.00-18.00
Sa 09.00-13.00

carla ankerbrotfabrik (lebih kecil)
Absberggasse 27 / Objekt 19
1100 Wien
Mo-Fr 10.00-18.00

Friday, 23 October 2015

Kunjungan Dikti ke Austria


Selama seminggu (27/9-2/10), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemenristekdikti melakukan kunjungan kerja dan evaluasi ke Wina, Graz dan Linz. Dalam kesempatan kali pertama ini, Dikti diwakili Dr. John Pariwono dan Fine Resyalia ke Austria untuk melihat lebih dekat perkembangan kemajuan masing-masing karyasiswa di bawah naungan Dikti. 

Pada hari kedua (29/9), diorganisir oleh Prof. A Min Tjoa, National Coordinator of Asea-Uninet Austria, diadakan pertemuan dengan enam mahasiswa doktorat untuk ‘hearing’ permasalahan yang menghambat masing-masing karyasiswa Dikti di Wina. Dari pertemuan ini pula, tersarikan beberapa poin penting terutama berkaitan dengan akademis dan urusan birokrasi pra keberangkatan yang dialami oleh semua calon mahasiswa doktorat tujuan Austria. Sorenya, tim Dikti berkunjung ke Institut Sejarah Arsitektur TUW bertemu Prof. Erich Lehner yang kebetulan saat ini sedang membimbing dua mahasiswa Dikti. 

Keesokan harinya, tim Dikti bertolak ke Linz untuk mengevaluasi satu mahasiswa Dikti di sana sekaligus bertemu dengan Koordinator Regional OeAD Linz. Sekembalinya dari Linz, tim Dikti dijamu makan malam oleh OeAD dan mengundang seluruh mahasiswa doktorat Indonesia se-Austria. Acara ini sendiri manjadi ajang silaturahim antar mahasiswa Indonesia di Austria yang selama ini belum pernah bertemu muka. Tercatat empat mahasiswa dari Innsbruck, dua dari Leoben, satu dari Linz, tiga dari Graz dan tentu saja dari Wina meramaikan acara makan malam ini. Turut pula dalam undangan dari KBRI, Bapak Febrian Ruddyard selaku DCM, Mas Doddy dan Mbak Wina dari Pensosbud. Esoknya (1/10), tim Dikti melakukan evaluasi di Graz bertemu dengan tiga supervisor dari tiga mahasiswa Dikti di sana. 


Dalam rangkaian kunjungan ini, banyak catatan penting yang didapatkan tim Dikti guna meningkatkan pelayanan bagi karyasiswa dan calon karyasiswa ke Austria nantinya. Selain masalah birokrasi, ke depan, upaya-upaya kerjasama akan lebih ditingkatkan lagi oleh OeAD dan Dikti serta universitas-universitas di Indonesia.  

Friday, 25 September 2015

clean€uro Workshop

by: Rasmi Silasari
photo: Evi Mulyani


Hi everyone! Since autumn is finally starting and the leaves are turning yellow and brown, have you managed to live green the whole summer? (sorry for all the puns, intended or not) If yes, GUT!! If not, come finish this sentence and go to the second paragraph; I'll force show you how to live greener in an easy way!

Look how cute the poster is~

So earlier this month, 5th of September to be exact, PPI Austria in corporation with the NGO 'SOL - Menschen für Solidarität, Ökologie und Lebensstil' arranged a short workshop about 'How to shop the clean€uro way' (yep, you have to write that with the €) . You know that we, human, require so many resources to satisfy our needs. We need clothing, housing, education, recreation, and the most basic of all: food!

PPIA clean€uro workshop with Vera from SOL!

Now, have you ever thought about the way you do grocery shopping? Do you plan it carefully to 5 different shops to get 5 different items at the lowest cost? Do you just buy everything that comes in bulk so you won't have to shop for another 10 years? Do you buy the ones advertised by the ethereal, beautiful-looking people with their seductive voice? Or do you simply go to the bread & cheese shelf and that's it? (I swear it's not me). Well, what I'm about to tell you might make you want to consider more what's inside your shopping bag!


Vera showing us what to look from a product

In the beginning of our 2 hours workshop, Vera our wonderful mentor told us about the goal of clean€uro, which is to reduce our ecological footprint. Basically, this ecological footprint is how the scientists measure the natural resources that a person needs every year. The common way to measure it is to measure the productive land and sea area required to fulfill the needs; since it's an area, the unit is in global hectares per person (gha/pers).

So, the person that needs to eat meat would need more hectare than the person who eat vegetables, since the cow aside from needing space to live also needing space to grow its feed. In 2007, research found that the average ecological footprint of people on Earth is 2.7 gha/pers, while the Earth can only supply 1.8 gha/pers; it means that we have 0.9 gha/pers that keeps deteriorating every year! Well everyone can argue that: 'that's such a rough calculation', or 'it's the rich countries' fault', or 'the Earth looks fine to me', or 'who cares as long as I can eat my bread & cheese' (swear again, it's not me), etc., etc... but it won't hurt to be a nice citizen of the Earth and help our lovely planet to sustain better, right? =D So let's try to reduce our ecological footprint by shopping the clean€uro way!

(source)
The steps of implementing clean€uro in your shopping routine is simple, you just have to remember these 3 points when stepping into the supermarket fully armed with shopping basket ready for the 'stock-the-fridge' mission:

1. FAIR!
Forget about buying stuffs that were made/grown/assembled by workers that aren't treated fairly! Please do look for the 'fair trade' logo on your items. This point strives for a more humane working conditions and improve social standard around the globe. And Vera made a good point on how funny it is that the 'fair trade' gets its own logo. Like, what, so the other items are allu from 'unfair trade'? HOW UNFAIR!

(source)
2. ECO!
It's time for you to visit those green bio products shelfs! (or just visit a bio supermarket, why not) Please do look for the 'bio' logo on your items. When displaying the bio logo, the product actually has made lots of ecological improvement such as less waste and less harmful substance. There are lots of bio logo in this universe as many as the stars the supermarket, but you may want to look for the 'starry leaf' one as it's published by the EU with pretty strict standards. If you make excuse that bio products are more expensive, I dare you to compare the fruits' prices! You will find that it's actually just 30-50 cents/kg higher than regular ones!

(source)
3. LOCAL!
I think it's not necessary to eat cheese shipped all the way from Italy when they produce the same cheese here in Austria, right? (and nope, I'm not talking to myself) Please do look for the 'made in ....' or something similar on your items. Actually this locality is more about the mileage, the goal is to use less resources to bring the item from the producer to your hand. So as the clean€uro website gives an example: if you live in Wien it might be better to drink milk from western Hungary that's quite close, rather than that from Tirol. So you know what you should do~ Learn your world map right!

(source)

If all these rules make you dizzy and don't have place anymore to hang in your head among the periodic table or music score or economic equations, you can simply head to the alternative. It's easier, and will save you lots of money as well ;) It's the 'cut your consumption' way!!
1. Buy nothing
2. Buy less
3. Lend and Share
4. Favor services (as in just call the plumber instead of buying new tools and other resources and do the acrobat to fix that broken pipe by yourself)
5. Use second-hand (WILLHABEN RULEZZ!!!)
6. Reconsider shopping methods
7. Inquire


The more you buy the more item to check... so let's just buy less!

Perhaps you'll wonder if these simple acts will bring any difference. Oh, don't underestimate the force of demanding buyers, my friend. Vera told us the story of how Starbucks started to sell fair trade coffee just because the consumers pressured them to do so! Imagine if this happens to McDonalds and their burgers, it must be pretty interesting~ Anyway, that's all I have for 'How to shop the clean€uro way'! Next time you're in the supermarket, please consider being a nice Earth citizen and do at least one point to at least one of the item you buy. You might think it's nothing... but since you already think so, let's do this anyway! =D Cheers!

(source)

Sunday, 20 September 2015

Resepsi Diplomatik HUT RI Ke-70

source:kbrwina.at

Berbagai pertunjukkan seni yang dibawakan oleh masyarakat Indonesia menyambut para tamu dalam Resepsi Diplomatik HUT RI Ke-70. Resepsi Diplomatik yang diselenggarakan oleh KBRI Wina pada September 4, 2015 pukul 18.00 mengambil tempat di Wisma Duta Besar KBRI Wina.


source: kbriwina.at

Beberapa lagu tradisional Indonesia dinyanyikan dengan indah dan diiringi dengan uara unik angklung yang dimainkan oleh staff KBRI Wina. Selain itu, seorang Young Violinist bernama Fakhri Pratama juga menunjukkan talentanya di hadapan para tamu.

source: kbriwina.at
Untuk mempromosikan kuliner Indonesia, para tamu juga dimanjakan oleh makanan khas Indonesia, antara lain, kue lumpur, kue lapis legit, dadar gulung, sate ayam, sate kambing, rendang, dan nasi goreng.

Beberapa anak muda Indonesia yang sedang mengambil studi di Austria membantu menjadi runner dalam acara Resepsi Diplomatik ini. Total runner 9 orang dan tugas mereka adalah mempersiapkan makanan di meja, minuman, menjaga stand, dan menjawab pertanyaan para tamu tentang kuliner Indonesia.





"Pokoknya harus siap siaga!" kata Evi Mulyani, salah satu runner. "Saya juga harus siap jika ada beberapa tamu yang tanya tentang makanan yang saya tawarkan."


source: kbriwina.at
Resepsi Diplomatik adalah acara yang diadakan hampir seluruh kedutaan besar terutama pada hari nasional mereka, untuk mempererat hubungan kedua bangsa dan juga bangsa-bangsa lain. Tentunya, acara seperti ini juga dimanfaatkan sebagai ajang promosi Indonesia.



Tuesday, 1 September 2015

Pesta Rakyat 2015


Pesta Rakyat yang diselenggarakan pada tanggal 22 Agustus silam merupakan kegiatan puncak dari serangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Dirgahayu RI ke-70. Seperti pesta rakyat sebelumnya, pesta rakyat tahun ini pun dihelat di kantor KBRI di Wina. Antusias pengunjung yang didukung dengan cuaca yang cerah membuat acara Pesta Rakyat tahun ini semakin meriah. 

Acara dibuka sekitar pukul 10.15 oleh Laron Band dengan membawakan hits kemerdekaan dari groupband Cokelat dengan judul Bendera, yang selanjutnya diikuti kata sambutan oleh bapak Dubes, pak Rachmat Budiman. 

Semangat Mellisa membawakan lagu 'Bendera'
Tahun ini kurang lebih ada sekitar 11 stand Bazar yang turut meramaikan pesta rakyat. Nggak tanggung-tanggung makanan khas Indonesia tersedia mulai dari bakso, nasi padang, gudeg, nasi bali, sate sampai es mambo. Semua riang, semua kenyang! 

Warungnya PPIA warung Anti galau.
Nggak mau kalah dengan ibu-ibu kita yang jago masak, PPIA juga ikutan eksis di pesta rakyat tahun ini. Dengan mengusung ide 'anak gaul', stand kreatif PPIA diberi nama Warung Anti-Galau. Niat mulianya sih setiap pengunjung yang datang akan meninggalkan stand kita dengan senyum pepsoden :D. Jualannya nggak heboh kok; ada nasi kucing garong, es buah mainstrim, roti chuby, sama es mambo unyu. Semoga tahun depan eksis lagi! Jangan kapok ya PPIA! :D. 

All in all acara pesta rakyat berlangsung sukses; terutama buat mellisa dan pastor yang menang ngeborong hadiah tombola, dan membuat semua pengunjung pulang dengan perut yang super kenyang. Berikut adalah kumpulan foto-foto dari Pesta Rakyat 2015:

Tari Ngarojeng oleh Federica
Paduan Suara OFID
Ngebakso dulu

Yuk mari nyate dulu!
Masnya sangat menghayati sekali

Nom nom nom

Penyerahan hadiah oleh bapak Dubes

serunya loncat-loncat pake karung :D

Friday, 28 August 2015

Literary Evening with Ayu Utami



Ayu Utami, penulis Indonesia yang dikenal dengan karyanya yang berjudul "Saman", menjadi salah satu keynote speaker pada conference EUROSEAS (European Association for South East Asian Studies) yang diselenggarakan pada 11 - 14 Agustus 2015, di Vienna.

Photo by Felix Abrudan


Literary Evening with Ayu Utami di Cafe Prückel pada 14 Agustus adalah salah satu programnya, dengan mana Ayu Utami berbagi cerita dan pikiran dari buku terbarunya "Cerita Cinta Enrico" yang diterbitkan pada 2013.

Anak laki-laki dalam cerita tersebut bernama Enrico yang lahir bersamaan dengan pemberontakan PRRI. Buku ini menceritakan kisah cinta dari sudut pandang seorang anak (Enrico) hingga ia dewasa, di dalam bentangan sejarah Indonesia sejak era pemberontakan daerah hingga Reformasi.

"It is a story of a boy who is now my husband. It has 3 chapters: First Love, Broken Heart, and Last Love."
Photo by Felix Abrudan

Kemudian ia membacakan bab pertama yang menceritakan perjalanan kehidupan Enrico saat baru lahir hingga kanak-kanak dengan setting peristiwa sejarah pada saat itu. Pada bab pertama ini, terdapat banyak cerita mengenai ibu Enrico, bagaimana Enrico mengagumi ibunya yang menurut deskripsinya, merupakan ibu yang cantik, memiliki keterampilan menjahit, dan memiliki sepatu pantovel. 

Sekitar 100 audiens datang untuk menghadiri Literary Evening ini. Ayu Utami mengawali acara ini dengan bernyanyi lagu tradisional Indonesia kemudian dilanjutkan dengan membacakan bab pertama, dan diakhiri dengan selesainya bab pertama.



Friday, 21 August 2015

Perayaan HUT ke-70 RI di Wina, Austria

by Redaksi PPIA


Acquilla, Syifa, dan Bram: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10204882997731118&set=a.10201752171582421.1073741825.1125007511&type=1&theater
Menyambut hari peringatan kemerdekaan Indonesia ke-70, warga Indonesia di Austria melakukan upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi di KBRI Wina, Austria.

Untuk tahun 2015, yang bertugas menaikkan Bendera Merah Putih adalah ketua PPI Austria 2015 Syifa, Bramantio, dan Acquilla.

Bramantio atau biasa disapa Bram yang bertugas sebagai komandan pengibar bendera bercerita sedikit mengenai pengalaman pertamanya menjadi petugas pengibar bendera.

"Saya dan teman-teman latihan paskibra 6 kali dalam waktu 2 minggu sebelum 17 Agustus."
Saat itu cuaca panas, suhu sampai 34 C jadi agak panas juga."

Karena ini pertama kalinya menjadi petugas paskibra, ada beberapa tantangan seperti mengingat komando dan mengambil keputusan kapan harus berhenti.

"Agak susah waktu menentukan kaki yang mana dulu yang berhenti, karena udah lama enggak latihan baris berbaris jadi agak bingung juga. Selain itu juga menyamakan gerakan, karena langkah kaki kami berbeda-beda, saya cepat sedangkan yang lain harus ngejar saya, jadi saya diminta sedikit melambatkan tempo, nah itu lumayan challenging," Bram bercerita.

Latihan mereka tidak sia-sia, karena mereka sukses menaikkan Sang Merah Putih dengan lancar.

"Persiapan sebelum hari H cuman makan saja kalau saya, haha, selain berdoa banyak malam harinya. Dan 30 menit sebelum mulai kita bertiga latihan baris berbaris untuk nyamain tempo dan gerakan. Selesai acara lega banget, hehe. Untungnya kesalahan waktu di latihan tidak terulang di hari H, hehe."



"Terima kasih banyak untuk Mas Wingko, Mas Indra, Mas Ario, dan untuk Pak Rahmat yang sudah melatih kami dan memberi masukan serta Ibu Sugi dan Pak Hono yang mengurusi pakaian dan makanan untuk kami, terima kasih banyak."

Foto bersama tim Pelatih (sumber: KBRI Wina)

PPI Austria mengucapkan selamat hari kemerdekaan RI yang ke 70, semoga kita jadi penerus bangsa yang berbudi pekerti luhur dan berjiwa pejuang. 

"Arti kemerdekaan sendiri kalau buat saya: Merdeka itu hak semua WNI untuk mendapatkan kesetaraan dalam pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Merdeka!"

Foto bersama teman-teman PPI Austria (sumber: KBRI Wina)