/* Whatsapp css setting */ .tist{background:#35BA47; color:#fff; padding:2px 6px; border-radius:3px;} a.tist:hover{color:#fff !important;
Showing posts with label Phd Story. Show all posts
Showing posts with label Phd Story. Show all posts

Monday, 30 November 2015

Phd Story: Hendrati Dwi Mulyaningsih (University of Klagenfurt)

Hallo, teman-teman! 

Kali ini Phd Story berasal dari Hendrati Dwi Mulyaningsih yang saat ini sedang mengikuti program PKPI di University of Klagenfurt, dengan judul disertasinya "Knowledge-based Social Innovation Process within Social Enterprises toward Value Creation". Yup, Social Enterprise atau Social Entrepreneurship.

Apa itu Social Entrepreneurship? Mungkin kita sudah sering mendengar dan paham istilah 'entrepreneurship', namun term 'social entrepreneurship' sepertinya masih jarang diketahui di Indonesia, walaupun sudah banyak organisasi yang secara tidak sadar sudah menerapkan kegiatan ini. Apa pengertian Social Entrepreneurship? Apa perbedaannya dengan 'entrepreneurship'? Kenapa Social Entrepreneurhip penting? Apakah sama dengan non-profit organization?

Hendrati Dwi Mulyaningsih atau yang biasa disapa oleh murid-muridnya Ibu Yani menyempatkan waktu untuk memperkenalkan apa itu Social Entrepreneurship. Dalam tahun ketiganya di program S3 Doctoral Science Management SBM ITB, beliau mendapatkan beasiswa dari Dikti di program PKPI (Peningkatan Kualitas Publikasi Ilmiah) atau seperti program sandwich, di University of Klagenfurt.

Beliau berbagi ilmunya tentang social entrepreneurship, mengapa Indonesia perlu hal ini, dan apa yang beliau ingin lakukan ke depannya untuk Indonesia. Yuk, ditonton perbincangan menarik ini. 

Semoga bermanfaat!


Monday, 5 October 2015

Phd Story: Nur Ainun Pulungan (Innsbruck)



Nur Ainun Pulungan adalah mahasiswi Geografi dari Leopold-Franzens Universitaet Innsbruck dan  akan menyelesaikan program Phd-nya pada November 2015. Perempuan kelahiran 21 Agustus ini akan berbagi cerita mengenai studinya yang ia tekuni selama beberapa tahun.

1.      Bisa dijelaskan program Phd-nya tentang apa?

Riset PhD saya adalah tentang genesis tanah atau yang dikenal dengan nama pedogenesis. Pedogenesis merupakan salah satu kajian dalam ilmu tanah yang membahas tentang asal-usul terbentuknya tanah di suatu area. Kenapa asal-usul tanah perlu dikaji? Karena sebenarnya tanah yang membalut permukaan Bumi kita ini tidak hanya berasal dari 1 proses tertentu saja - seperti yang pernah kita pelajari waktu SD bahwa “tanah berasal dari proses pelapukan mekanik pada batuan”. Faktanya, asal-usul terbentuknya tanah sangatlah bervariasi, apalagi untuk daerah tropis dan daerah yang dikelilingi oleh jejeran gunung api seperti Indonesia. Adanya proses dari dalam Bumi (seperti letusan gunung api, proses pengangkatan daratan akibat patahan lempeng ) maupun proses di permukaan Bumi (seperti longsor, erosi, dan banjir) akan mempengaruhi  asal-usul tanah disuatu area. Walaupun secara kasat mata tanah terlihat hampir sama disemua area, namun secara detail belum tentu tanah tersebut memiliki asal-usul pembentukan yang sama. Dampaknya, berbeda asal-usul pembentukan tanah maka akan menghasilkan karakteristik tanah yang berbeda pula, yang mana artinya hal ini akan berpengaruh pada kapabilitas tanah tersebut untuk diolah ataupun dijadikan objek aplikasi.


2.      Bagaimana proses penelitian atau proyekny?
Karena penelitian saya ini termasuk ke dalam lingkup geografi fisik/lingkungan maka penelitian ini bersifat induktif, yaitu berbasis pada pencarian objek permasalahan di lapangan – lain halnya dengan lingkup geografi manusia yang melakukan penelitian bersifat deduktif, yaitu penelitian diawali dengan studi literature/konsep.

Survey lapangan menjadi kegiatan dasar dalam penelitian ini. Penentuan topik genesis dalam penelitian tanah ini, baru didapat setelah dilakukan beberapa kali survey lapangan untuk menggali permasalahan tanah yang unik untuk dikaji. Berdasarkan survey lapangan, saya mendapati bahwa tanah di lereng Gunung Api Sumbing-Jawa Tengah, memberikan variasi morfologi tanah yang spesifik. Kemudian, dilanjutkan dengan pengambilan sampel tanah berdasarkan analisis spasial dari peta ataupun citra satelit. FYI, analisis spasial adalah pendekatan yang menganalisis pola fenomena alam secara keruangan (space), yang mana pendekatan ini merupakan pendekatan andalan yang biasa digunakan dalam kajian geografi ataupun kajian kebumian lainnya. Penelitian dilanjutkan dengan analisis laboratorium untuk mengidentifikasi properti fisik, kimia, maupun mineralogi tanah. Sebagai tahap akhir dalam penelitian induktif ini, pembandingan teori/konsep terdahulu dilakukan untuk melihat pembaruan apa yang telah kita hasilkan. 


3.      Apa saja tantangannya?
Tantangannya salah satumya adalah meng-sinkron-kan pemikiran dengan para supervisor disini. Karena saya membawa topik baru bagi mereka (kajian tanah vulkanik di daerah  tropis) yang berbeda dengan kajian tanah disini sehingga membutuhkan extra-effort dalam diskusi. Disisi lain, pemikiran-pemikiran mereka yang maju dan taktis membuat “conventional thinking” yang terbawa dari negara asal harus bisa saya ubah   

4.      Suka duka dan pengalaman menarik dalam menekuni program ini?
Sukanya: dapat teman baru, ilmu baru, pengalaman baru terutama dalam menyikapi “scientific problem”, dan tentunya dapat menyalurkan hobi jalan-jalan karena Austria memiliki banyak tanggal merah hehee
Dukanya adalah pada saat crosscheck hasil tentative laboratorium. Apabila data hasil laboratorium bias atau tidak sesuai dengan karakteristik tanah yang sy temukan di lapangan maka saya harus menunggu sampai semester berakhir untuk melakukan survey tambahan ke Indonesia.

5.      Hasil dari proyek? Sudah sejauh apa penelitiannya?
Bahwa genesis tanah di DAS Bogowonto secara umum berasal dari empat macam pembentukan: (1) tanah residu material Tersier, (2) tanah residu abu vulkanik Quarter, (3) tanah deposit akibat tertransport oleh longsor, (4) tanah terusik akibat aktivitas manusia. Keempat macam genesis tanah ini kemudian saya integrasikan secara spasial dengan pendekatan “soil-landscape system” dengan harapan dapat dijadikan acuan bagi penelitian genesis tanah di daerah lain yang memiliki karakteristik serupa – yaitu area vulkanik.       



5.      Rencana ke depan? 
Ingin rehat sejenak dari yang namanya “sekolah”. Kembali dulu ke negara tercinta untuk mengaplikasi ilmu yang sudah diperoleh, beberapa tahun yang akan datang baru memikirkan untuk Post Doc.

6.      Kegiatan lain selain Phd?
Kegiatan lain biasanya pengajian Wapinn 2 minggu sekali, kumpul bareng teman-teman PPI-Innsbruck di rumah ibu asuh kami atau bahkan piknik bareng. Kalau untuk kerja sampingan tidak ada karena tidak diperbolehkan dari pemberi beasiswa. 


Monday, 21 September 2015

Phd Story: Dewi Wardani (Linz)

















Dewi Wisnu Wardani adalah mahasiswi Phd program Computer Science, dari University of Linz. Dalam tahun ketiganya, student Phd yang memiliki hobi fotografi ini sedang "ngebut" kejar target publikasi dengan berharapan menyelesaikan program Phd-nya tahun depan.

"Alhamdulillah 4 publikasi sudah. Masih ada 2 jurnal lagi sepertinya, hehe. Rencananya yang berhubungan dengan Phd ada 6 publikasi dan beberapa papers yang tidak terlalu berhubungan dengan topik Phd. Jadi selama Phd sekitar 9 atau 10 publikasi."

Institute tempat ia bekerja bernama Institute for Application Oriented Knowledge Processing. Penelitiannya berkisar berkisar data, informasi, dan knowledge, dimana beliau lebih cenderung pada knowledge processing dengan pendekatan semantic technology.



"Lebih spesifik pada managing complex knowledge graph yang fokus pada elaborasi fungsi rich-link. Saya berusaha provide formal model dan tentu contoh domain terapannya."

Proses penelitiannya dilakukan secara umum dan sesuai dengan tahap-tahap dasar untuk penelitian di bidang computer science, yaitu dimulai dengan ide kasar, menyusun formula dan algorithma, untuk kemudian dibandingkan dengan penelitian sebelumnya.

"Setelah ide kasar dan formula dan algorithma-nya sudah disusun, komparasi dengan penelitian yang sudah ada untuk memastikan novelty-nya, dilanjutkan dengan eksperimental dengan beragam kuantitas, sesuai kebutuhan."

Bagi perempuan kelahiran Oktober 26 ini, tantangan terbesar adalah menentukan benchmarking dari ide Phd. Dengan pemahaman bahwa tujuan utama Phd adalah kontribusi state of art dari cabang riset tertentu, yang menjadi tantangan adalah saat fase pensil dan kertas, fase menyusun fondasi dasar. Setelah melewati fase ini sekaligus publikasinya, selebihnya akan lebih ringan. 



"Kita didorong hingga limit kemampuan untuk belajar hal baru dan menemukan hal yang baru. Menciptakan yang sebelumnya belum ada kemudian menjadi ada. Bentuknya nyatanya saat paper kita diterima oleh komunitas peneliti."

Tantantan lain baginya adalah pada saat paper-nya ditolak oleh komunitas peneliti.

"Dukanya ketika paper saya ditolak, merasa sangat bodoh, apalagi jika hasil review-nya buat patah hati hehe. Tapi Alhamdulillah, fase fondasi telah terlewati. Sebuah new model knowledge presentation. Tinggal layer di atasnya, 2 layer lagi. Masih banyak yang harus dikerjakan. Mohon doanya."






Monday, 24 August 2015

Phd Story: Chitra Hapsari Ayuningtyas



Chitra Hapsari Ayuningtyas adalah mahasiswi yang mengenyam pendidikan di University of Klagenfurt atau Alpen-Adria-Universität Klagenfurt yang sebentar lagi akan mendapatkan gelar PhD-nya dari bidang studi Informatika.

Smart Home adalah proyek penelitiannya. Apa itu Smart Home? Mungkin istilah ini sama dengan term Internet of Things, yang sederhananya, berarti benda-benda yang dapat tersambung dengan internet, misalnya mobil yang dapat terkoneksi dengan smartphone sehingga kita tidak perlu memegang smartphone saat mengendari mobil. Dan Smart Home adalah benda-benda dalam rumah yang dapat saling terkoneksi, benar tidak Mbak Chitra? 

Lebih jelasnya, mari kita tanya perempuan kelahiran Malang ini...


Bisa jelaskan sedikit tentang penelitian PhD-nya?

Penelitian PhD saya adalah mengenai analisis data sensor dari smart home. Smart home adalah sebuah rumah yang dilengkapi teknologi dengan kemampuan intelegensia untuk mengenali apa yang terjadi pada penghuni dan lingkungannya, serta memberikan respons yang disesuaikan dengan situasi.

http://www.ecnmag.com/sites/ecnmag.com/files/legacyimages/GreenPeak-SmartHome.png
Contoh aplikasinya, dengan mengenali kebiasaan penghuni, smart home bisa menyalakan alarm di pagi hari, mengeset suhu air di kamar mandi sesuai kesukaan, menyalakan mesin kopi dan mengeset televisi pada channel favorit, dengan timing yang disesuaikan dengan aktivitas penghuni. 

Untuk mengamati lingkungannya, pada smart home dipasang berbagai sensor yang dapat mengenali lokasi dan pergerakan penghuni rumah. 

Tugas saya adalah untuk melakukan analisis data dari sensor untuk membangung profil kebiasaan penghuni rumah, sehingga berbagai fungsi rumah dapat dijalankan secara otomatis. 


Bagaimana proses penelitiannya?

Setelah studi literatur, yang harus dilakukan adalah mencari rumah tinggal untuk dijadikan sebagai test bed penelitian. Kemudian dilakukan identifikasi aktivitas penghuni rumah yang akan diamati, dan dirancang sistem sensor yang sesuai. 


Setelah semua sensor dipasang, dilakukan pengambilan data secara terus menerus selama beberapa minggu agar didapatkan data yang cukup. Proses terakhir adalah melakukan analisis data, di antaranya untuk mengetahui pola spasial-temporal aktivitas penghuni rumah.

Apa yang menjadi tantangan di program ini?

Tantangan terberat adalah pada saat pengambilan data, antara lain kendala bahasa untuk berkomunikasi dengan penghuni rumah yang tidak semua lancara berbahasa Inggris (sedangkan bahasa Jerman saya pun pas-pasan). 

Sensor yang kadang rusak sehingga data menjadi tidak akurat dan keterbatasan untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di dalam rumah (sebagai ground truth dalam analisis data) dengan kondisi saya sebagai pengamat eksternal.



Suka duka selama penelitian?

Bisa jalan-jalan, dapat banyak kenalan, dan bisa mengenal secara detail kehidupan keluarga di Austria (walau kadang berasa seperti di acara Big Brother). Dukanya terasa kalau sedang kangen rumah atau sedang capai melihat data yang kadang sudah susah-susah dikumpulkan tapi ternyata tidak bisa terpakai, jadi sedih. 


Bagaimana hasilnya?

Data sudah berhasil dikumpulkan dan akan dibuka untuk publik karena saat ini public dataset dari smart home masih terbatas dan belum ada standard. Untuk analisis data sekarang masih dalam tahap visualisasi data sensor. Berikutnya akan diimplementasikan beberapa algoritma untuk mengenali aktivitas penghuni berdasarkan pola kebiasaanya sehari-hari.

Rencana ke depannya apa?

Sedang menimbang-nimbang antara mengajar atau menjadi independent data analyst (atau jadi ibu rumah tangga, haha)


Monday, 10 August 2015

Bincang Rame Komunitas (calon) Doktor (Bicara Kotor) di Austria

by Redaksi PPI


Dok. KBRI Wina

Dalam rangkaian semangat peringatan 70 tahun Kemerdekaan RI , Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Austria didukung oleh Kedutaan Besar RI di Wina pada sabtu (1/8) menyelenggarakan acara Bincang Rame Komunitas Doktor Austria. 

Acara ini sendiri merupakan inisiasi awal dari komunitas kandidat doktor Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Austria sebagai ajang tukar pikiran menyikapi perkembangan di luar keilmuan yang sedang digeluti masing-masing. 

Saat ini terdaftar 38 orang kandidat doktor tersebar di seantero Austria. Para cendekia ini tersebar di beberapa negara bagian seperti di Wina, Graz, Leoben, Linz, Klagenfurt dan Innsbruck. Bidang yang digeluti pun bermacam-macam, mulai dari bidang sosial seperti filsafat dan manajemen hingga di bidang sains terapan seperti informatika, kimia, kedokteran, mesin, sipil, pertambangan, industri, pertanian, dan arsitektur. 

Keberagaman ini tentu saja memiliki nilai-nilai positif yang harapannya nanti dapat diterapkan sekembalinya di tanah air. Lebih khusus lagi kegiatan ini dikaitkan dengan HUT Kemerdekaan RI yang ke-70, dengan bertemakan “Implementasi Semangat 70 tahun Kemerdekaan RI dalam Keilmuan” agar para kandidat doktor ini sudah bisa mengarahkan fokus penelitiannya nanti akan diarahkan kemana guna mendukung pembangunan bangsa. Selain itu, kegiatan ini harapannya mampu mendorong percepatan penyelesaian studi. 

“Semoga acara semacam ini dapat terus berkesinambungan pelaksanaanya sehingga memantik semangat untuk terus mengembangkan diri diantara calon doktor khususnya semangat untuk terus belajar bagi sarjana dan master”, sambut Ketua PPI Austria, Syifa Nurhanifah.

Dok. KBRI Wina
Tampil sebagai pembicara utama dalam kesempatan ini Duta Besar berkuasa penuh untuk Austria, Slovenia dan PBB di Wina, HE Rachmat Budiman. Dari komunitas doktor tampil lima mahasiswa, Arlavinda Rezqita, Fajar Juang Ekaputra, Peb Ruswono Aryan, Rasmiaditya Silasari dan Yusfan Adeputera Yusran. Masing-masing membawa materi yang berkaitan dengan keilmuan yang digeluti.

Di awal sesi, Fajar membuka dengan presentasi mengenai pentingnya Ontology dalam pengolahan informasi. Salah satu kajian dalam bidang ilmu informatika ini dikembangkan olehnya untuk mempermudah dalam pengaturan sematik web. Sesi selanjutnya diisi oleh Arlavinda dengan penelitiannya tentang baterai Li-ion selama ini di AIT. Silikon menurutnya dapat memperpanjang kemampuan baterai Li-ion bekerja. Giliran selanjutnya oleh Peb dengan presentasi mengenai pengaturan data untuk memudahkan pengelompokan informasi. Dengan penelitiannya, dia berharap dapat mengembangkan pengelolaan informasi agar lebih terintegrasi. 


Dok.KBRI Wina

Setelah coffe break, giliran Rasmiaditya dengan mempresentasikan penelitiannya tentang limpasan air yang berguna bagi lahan pertanian. Dalam penelitiannya, Rasmi melihat pola limpasan air hujan pada area tanah yang miring dengan harapan dapat mengontrol erosi dan sedimentasi. Setelah itu, materi yang dibawakan berkaitan dengan upaya konservasi rumah tradisional di Indonesia. Materi yang dipresentasikan Yusfan ini mengupas hasil penelitiannya selama di Austria yang mengamati banyaknya open-air museum di sana dan melihat ini sebagai kesempatan untuk coba diterapkan di Indonesia demi menyelamatkan rumah tradisional yang faktanya di beberapa daerah di tanah air terancam rusak dan punah. 

Di penghujung acara, tampil sebagai pembicara Dubes RI berkuasa penuh untuk Austria, Slovenia dan PPB di Wina, Rachmat Budiman memaparkan tentang implementasi keilmuan terhadap pembangunan bangsa. “Tujuan dari kegiatan ini adalah bagaimana para calon doktor ini mempresentasikan sejauh mana ilmu yang didapat dan juga sebagai ajang pertukaran informasi sehingga dapat diintegrasikan dengan kebutuhan bangsa saat ini”, ujar Dubes Rachmat Budiman dalam presentasinya.

Dok. KBRI Wina
Acara ini dihadiri oleh masyarakat dan mahasiswa yang tinggal di Austria. Selain itu dihadiri pula oleh akademisi dari beberapa universitas dan masyarakat Austria yang tergabung dalam Austria Indonesia Society (Perhimpunan Masyarakat Indonesia – Austria). “Semoga acara ini menjadi agenda yang berkelanjutan”, ujar Prof. A Min Tjoa, salah satu audiens yang juga direktur institut sistem interaktif dan teknologi perangkat lunak di Vienna Institute of Technology. 

Monday, 29 June 2015

Phd Story: Andi Abidah (Arsitektur Wina)

by Evi Mulyani

 




















"Phd Story" kali ini datang dari seorang "newbie" Phd dan "newbie" anggota PPIA asal Sulawesi yang bernama Ibu Andi Abidah. Di Wina sejak Agustus 2014, beliau sedang menenuki program Arsitektur di TU Wien. Gelar S2 didapatkannya di ITB dalam program Arsitektur Rancang Kota (Urban Design). PNS sejak 2006 hingga saat ini, beliau sempat mengajar di Universitas Makassar.

Ibu satu anak ini menyempatkan waktu untuk chit chat dengan tim PPIA. Yuk, dibaca hasil obrolan pendek kami tentang penelitiannya pada salah satu rumah tradisional Indonesia.

Tapi jangan kaget ya, ibu Andi ternyata suka ngelucu... :)

  •  Program Phd apa yang sedang diambil?  
    • Phd? Ngeri banget euy. Nama jurusannya "Faculty of Architecture and Regional Planning" di Vienna University of Technology.
  •  Bagaimana penelitiannya? 
    •  Proyek yang dijalani banyak di Indonesia. Penelitian saya kebetulan di Indonesia dengan tema "Arsitektur Bugis Tradisional House".
  • Ohya? Bisa dijelaskan lebih spefisik topik penelitiannya?
    • Ngerti banget euy pertanyaannya. Tapi risetnya tentang perbandingan rumah bangsawan dan rumah biasa. Kemudian membandingan rumah orang Bugis yang beragama Kristen dan beragama Islam. Apakah proses mendirikan rumah tersebut tetap sama atau berbeda, dan sejauh mana perubahannya rumah Bugis.
  • Apa saja tantangannya?  
    • Tantangannya banyak. Salah satunya menelusuri makna-makna filosofi yang ada pada elemen rumah.
  •  Contohnya?  
    • Contohnya orang Bugis itu memandang rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai tempat dilahirkan, dibesarkan, menikah dan meninggal. Mereka memegang filosofi sulapa eppa (segi empat) dimaknai sebagai air, udara, angin, dan api. Selain itu, tangga sebagai simbol laki-laki karena laki-laki bertanggung jawab memberi nafkah sama istrinya dan keluarganya. Sementara core pole (tiang inti) adalah simbol perempuan, yaitu wanita adalah inti dari kehidupan rumah tangga, menejemen uang dan lain-lain.
  •  Suka duka dalam menekuni program ini? 
    •  Sedikit ribet karena selama ini saya kurang paham tentang tradisional house. Sukanya, saya bisa pulang kampung riset. Dukanya tidak punya uang bulak balik survey, hehehe. Karena tidak ada biaya survey dari beasiswa, jadi harus menabung.
  •  Sejauh ini penelitiannya seperti apa?  
    • Sebelumnya saya kurang begitu tertarik dengan namanya sejarah, menelusuri sesuatu yang telah terjadi. Tetapi setelah saya mendalaminya, ternyata menarik. Saat ini saya masih mengumpulkan literatur tentang rumah bugis. 
    • Dan mengumpulkan literatur itu menurut saya sedikit susah karena harus melirik kebelakang, yang mungkin saat ini sudah tidak bisa kita temukan, karena masyarakat lebih memilih modern house.
    • Februari kemarin saya ke Leiden University Belanda untuk mencari data tentang rumah bugis. Disana banyak buku tua, bahkan lontara suku bugis ada disana, original ada disana. Diangkut pada jaman penjajahan Belanda sepertinya. Bukan hanya rempah-rempah saja ya diangkut, hehe. Dan alhamdulillah disana banyak data rumah bugis jaman bahela.
  • Apa rencana ke depan?
    • Rencana selesai 3 tahun. Ya saya berharap kelar studi 3 tahun dan bisa pulang ke Indonesia dan mengabdi disana.
  • Kegiatan selain Phd apa nih? :)
    • Hobi numpang makan di rumah Yusfan (waktu PPI) hahaha. Iya itu si Yusfan jago banget kalau masak, saya langsung teringat masakan mamaku. 
    • Jalan-jalan juga, hehe. Naik trem satu ke trem yang lain, hehe. Dan kalau dapat view yang bagus langsung singgah dan take picture
    • Saya juga hobi jalan-jalan di Mariahilferstrasse, dari ujung ke ujung, hehehe. Uangnya enggak cukup buat belanja jadi cuman tawaf doang disana, hehehe.

    Monday, 25 May 2015

    Phd Story: Agung Dewanto

    by Rafika Nurulhuda

    Dokter Agung Dewanto melukis outdoor, dikerubuti oleh anak-anak

    "Keduanya tak saling mengganggu, malah saling melengkapi."  

    Itulah jawaban dokter Agung Dewanto SpOG(K) yang berjiwa seniman ini, ketika ditanya, "Jika disuruh pilih, menjadi dokter atau pelukis?"

    Menurutnya, pertanyaannya itu sama seperti pertanyaan, "Milih makan nasi saja atau telur saja?"

    ..............

    Menekuni program Phd di bidang Ginekologi dan belajar seni lukis adalah dua dunia dan tentunya, prestasi yang tidak bisa lepas dari pria kelahiran 1973 ini. (Btw, manggilnya "pak", "dokter", "om", "bang", atau apa ya? hehe)

    "Teman di bawah umur 30 panggil aku simbah, karena sudah tua, hehe, sudah 42 nih."

    (Yang penting tetap young spirit dan berprestasi, mbah, hehehe)


    Selama 3 tahun di Innsbruck, beliau mendalami masalah endometriosis sebagai topik risetnya. Saya pun langsung semangat bertanya-tanya mengenai hal ini, karena sepertinya zaman sekarang banyak wanita yang mengalami masalah ini. 

    "Dari istilahnya, endometriosis mirip endometrium. Endometrium adalah jaringan yang letaknya melingkupi bagian dinding bagian dalam rongga rahim. Pada endometriosis, terdapat jaringan mirip endometrium tapi letaknya di luar dinding bagian dalam rongga rahim," jelasnya.


    Beberapa teori penyebab endometrisis tersebut adalah antara lain "Dari sebab imunologi, dan sebab sebab metaplasia, yaitu perubahan bentuk dan sifat cell. Ada orang  yang tidak terdeteksi menderita endometriosis, sampai kemudian secara kebetulan ditemukan karena ada masalah infertil atau sulit punya anak, sampai ke penyebaran endometriosis ke organ dalam seperti usus, saluran kencing, dan menimbulkan gejala terutama nyeri kronis dan gejala lainnya tergantung pada organ mana yang terkena endometriosis."

    Lalu, bagaimana pengobatannya?


    "Pertama, diagnosis ditegakkan dengan laparoskopi, yaitu operasi dengan laparoskopi, alat yang dirancang seperti teropong. Jadi dilihat lewat kamera. Jika diagnosis telah tegak, jaringan endometriosis dibuang atau dieksisi (dipotong bagian endometriosisnya). Pengobatan dengan hormon bisa dilakukan untuk mengurangi rasa nyerinya, meski bukan jaminan."

    Risetnya saat ini adalah tentang bagaimana jaringan endometriosis tumbuh dan berkembang, mengapa dapat infiltrasi, dengan melihat dan menganalisa beberapa growth factors dan receptors, dan bagaimana persarafannya.

    "Sejauh ini hasilnya seperti hipotesis yang saya buat. Agak beda dengan riset yang sudah dipublikasi oleh peneliti sebelumnya."



    "Sebelum tahun 2011, saya bukan dosen. Saya jadi dosen ketika selesai sekolah konsultan. Dokter konsultan disini disebut Oberartz. Oberartz itu kan harus Fachartz dulu. Fachartz saya Obsgyn. Oberartz saya endokrin ginekologi. Kemudian saya ditarik jadi dosen disuruh S3," ceritanya.

    Sebenarnya, Berlin adalah awal tujuan tempat studinya. Namun, karena ada masalah dengan administrasi, beliau pindah ke Innsbruck. Uniknya, proposal thesisnya tetap sama, supervisornya ada dua, yaitu dari Berlin dan Innsbruck, dan bahkan sebagian sampel dari Charite Berlin. 

    Hal yang menjadi tantangan sendiri adalah tingginya standard riset S3 di Eropa, dan adanya dua professor supervision dari beda negara dan beda universitas. 

    "Aku dulu pegangnya pisau bedah, tiba-tiba pegang pipet di usia tak muda lagi. Pingin dan kangen balik ke ruang operasi. Kangen kerja di daerah terpencil lagi, hehe."




    Selain kesibukannya sehari-hari dalam riset, dokter asal Jogjakarta ini menyempatkan waktu 1-2 jam sehari untuk mendalami hobinya melukis. Sudah 1,5 tahun, sebulan sekali, beliau mengambil kursus melukis di Akthof Munchen (akthof.de). 


    "Sekarang masih belajar classic. Masih basic. Apa yang dilihat itu yang digambar. Di tempat kursus, disediakan dan diajari melukis dan drawing model. Modelnya bisa orang, barang, buah sayur, landscape, semua lah.  Semua itu untuk mempelajari komposisi, warna, proposisi, proyeksi, itu standard ilmu fine arts."

    Alangkah indahnya jika dapat menenuki hal-hal yang diimpikan tanpa harus meninggalkan salah satu. Bakat dan minat dalam bidang seni ternyata sudah muncul sejak "dibelikan pensil warna", namun tidak sempat dikembangkan, karena menurutnya, jika dibandingkan dengan seni tarik suara, seni lukis tidak terlalu dihargai di Indonesia. (Kalau sekarang, menurut kalian, sudah dihargai belum ya? :))

    "Saya waktu kecil milih menyanyi daripada melukis, karena lebih dihargai dan lebih sering mendapat penghargaan, walaupun bukan no 1. Dan cita-cita saya jadi arsitek."

    Pada saat itu, nilai biologinya lebih baik daripada fisika dan kimia, tetapi pilihan pertama tehnik. Namun, nasib berkata lain, jadilah beliau seorang dokter yang tidak melupakan passion-nya dalam berseni.


    "Umumnya orang Indonesia bilang lukisan saya biasa saja. Ketika saya iseng melukis teman saya disini, mereka bilang bagus. Banyak support dari teman bule, bahkan mereka mau jadi model gratis. Itu modelnya teman bule, rela pakai dindrl. Takjub deh saya. Di Indonesia lukisan saya dianggap jelek. Emang jelek sih ya, haha."


    Menurutnya, sulit menemukan orang Indonesia yang bersekolah dan paham tentang seni, karena pengalamannya sendiri, sejarah seni dan ilmu seni di Indonesia sangat kurang diajarkan di sekolah umum. 

    "Saya pikir, oh rupanya beda selera, tapi bule sini yang sekolahan juga tahu seni, sejarah seni, renaissance, impresionism, bahkan pointilismus juga tahu."

    Sejauh ini, jumlah lukisannya sudah mencapai sekitar 30 dan ada beberapa yang dibeli dan diberi ke orang lain sebagai hadiah natal, hadiah pernikahan, atau ulang tahun. 

    "Saya enggak niat jual awalnya. Buat hadiah, eh malah dikasih duit. Katanya, ini terlalu berlebihan untuk sebuah hadiah."



    Ternyata, rumah sakit di Eropa disediakan tempat pameran lukisan dan itulah kesempatannya untuk memamerkan karya-karya seninya. 

    "Memang disediakan untuk lokal artis tapi harus pesan 1 tahun sebelumnya. Senang bisa menghibur pasien. Kalau di Indonesia kan bisa hilang tuh. Dan di Indonesia isinya program penyuluhan bukan karya seni."

    Tiap orang memiliki bakat yang berbeda-beda, yang jika tidak diasah, akan sia-sia. Jadi yang terpenting adalah, keep on practising. Bahkan orang yang tidak berbakat "dari sananya", tapi karena dia tetap menekuninya, dia bisa lebih "sukses" daripada yang secara lahiriah berbakat. Intinya, just keep on going, whatever the society says.

    "Guru lukis saya di Munich lulusan Akademi Bildende Kunst bilang: tahu apa mereka tentang lukisanmu. Terus aja melukis. Tentang bakat, kamu tahu ga, bakat itu cuma sekian persen dari kesuksesan pelukis. Masalah tehnik itu butuh latihan."

    Sumber foto: Agung Dewanto (Facebook)


    Wednesday, 22 April 2015

    Phd Story: Dhota Pradipta (Wina)


    by Terra Rimba



    Phd Story kali ini, datang dari lelaki kelahiran Malang, 25 Agustus 1986. Dia adalah Dhota Pradipta.

    Dhota mengambil Program S3 dengan program studi Geodesy and Geoinformatics - Advanced Geodasy di Technische Universitat (TU) Wien dan sedang menunggu ujian akhir saat ini.

    Apa sih Geodesy and Geoingormatics - Advanced Geodasy itu?

    "Investigasi sinyal GNSS (Global Navigation Satellite System), dalam hal ini modernized GPS(US) dan Galileo (European Union) untuk penentuan posisi.
    GNSS terdiri dari GPS (US), Galileo (EU), Glonass (Russia), Beidou (China), dan yg bersifat komplemen/pelengkap adalah QZSS (Japan) dan IRNSS (India). Sinyal pada setiap satelit ada 2 tipe yaitu,

    data code - data informasi untuk navigasi, biasa digunakan untuk navigasi mobil, kapal, dan pesawat, dan memiliki akurasi desimeter hingga meter.

    data fase - merupakan sinyal pembawa code, biasa digunakan untuk riset, contohnya untuk earth science (gempa bumi, deformasi gunung api, monitoring high and massive bulding, weather prediction, dll) dan  military purposes (precision guided ammunition - smart bomb, artilerry shell, dll), memiliki akurasi milimeter hingga centimeter. Nah, riset saya menggunakan data fase pada satelit Galileo.

    Galileo punya 2 jenis data fase, E1, E5 (yang terdiri dari E5a dan E5b dengan bandwidth dan frekuensi masing2).

    Sederhananya, yang saya lakukan adalah: memverifikasi bahwa sinyal E5 Galileo dapat memberikan performa terbaik dan mampu bertahan dari efek pelemahan sinyal yang disebabkan oleh lapisan ionosfer dan  efek propagasi sinyal dalam penentuan posisi"



    Bagaimana proses penelitian selama ini dan tantangan apa saja sih yang seringkali dihadapi?

    "Proses penelitian menggunakan real data yang dikomparasikan dengan data dari simulator. Sinyal satelit yang diterima kemudian saling dikombinasikan (nama metodenya double differencing and linear combination) untuk mereduksi gangguan saat sinyal dalam perjalanan dari satelit ke alat penerima. 

    Tantangannya adalah ketersediaan data, karena satelit Galileo yang aktif baru sedikit dan alat penerima sinyal yg belum banyak digunakan karena sistem Galileo direncanakan baru akan aktif tahun 2020, saat ini baru tahap tes dan belum dapat digunakan oleh umum."

    Lelaki yang mempunyai hobi hiking, trekking dan fotografi ini menceritakan juga tentang suka duka dan juga pengalaman yang dialami selama mengerjakan penelitian.

    "Menunggu data Galileo dari ESA (European Space Agency), waktu nunggunya itu bisa bulanan, belum kalau ada problem dan perlu dikoreksi, efeknya bakal nunggu lagi. Pernah juga beberapa kali mimisan depan komputer dan bisa tidur siang gara-gara ada kasur untuk ibu hamil di ruangan (punya kolega satu ruangan), profesor yg cerewet masalah perspektif penulis (beda style)"

    Meskipun tantangan yang besar untuk melakukan penelitian tersebut, tidak mengurungkan niat Dhota mengisi waktu luangnya sekaligus menyalurkan hobi nya dengan jalan - jalan keliling Austria bersama teman-teman. Menurutnya Austria merupakan tempat terbaik untuk menyalurkan hobi fotografi nya. 




    Apa hasil dari penelitian yang telah dilakukan Dhota?

    "Sinyal E5 Galileo memiliki potensi dan kelebihan daripada sinyal lainnya terutama kemampuan sinyal bertahan  terhadap obstruksi dari atmosfer dan propagasi. E5 memiliki performa terbaik bila dikombinasikan dengan sinyal GNSS lainnya sehingga bisa dijadikan sebagai alternatif untuk penentuan posisi selain GPS."

    Sudah ada rencana apa setelah lulus?

    "Jika mendapatkan kesempatan, akan mencari post doc di Eropa terutama ke practical applications."

    Kita doakan agar Dhota selalu sukses ya ke depannya apa pun yang dilakukan.

    Monday, 20 April 2015

    PhD Story: Nurfitriani (Graz)

    by: Rasmi Silasari

    Imut penampakannya, lembut suaranya dan manis wajahnya (maaf kalau agak gombal tapi memang bener—tanya aja suaminya ya kan Ken); itulah Nurfitriani, biasa disapa Fitri, mahasiswi tahun pertama S3 Molecular Biotechnology TU Graz. Walaupun tergolong muda banget, lahir 1 Mei 1991 di Bandung, Fitri sudah menyelesaikan studinya di Kimia ITB dan melanjutkan studi doktoral di Graz, Austria. Mungkin ada pembaca yang bertanya-tanya, "semangat banget sih si eneng ini studi S3 di usia yang belia? memang molecular biotechnology itu segitu menyenangkannya kah?" Jawabannya 'iya', karena kapan lagi kalian bisa punya piaraan banyak yang bisa diutak-atik gennya tanpa ditodong PETA? Tapi mungkin lebih tepatnya lagi: 'iya', karena kapan lagi bisa kuliah di Eropa barengan suami tercinta? ;p


     
     Nggak salah toh kalo aku bilang imut & manis :D

    Sekelumit intermezzo tentang Fitri: (preventive measure untuk kalian yang siap-siap mau naksir) kalau ada yang pernah kenal Keni lulusan S3 Kimia di Uni Wien hai Ken, beliau ini adalah Pak Fitri sejak tahun 2013 lalu. Demi menyusul sang suami inilah salah satu motivasi Fitri mencari S3 ke Austria (motivasi lain pasti untuk riset dan sains dong! *background music Star Wars*). Setelah alhamdulillah mendapat jawaban positif dari pembimbing di TU Graz dan pendanaan beasiswa OeAD, ternyata Pak Fitri yang sudah lulus tahun 2014 hai lg Ken mendapatkan posisi postdoc di Uni Helsinki. Berhubung beliau nampaknya betah di sana, sepertinya kecil kemungkinan akan berkehidupan di Austria lagi dalam waktu dekat.... Yah, tapi paling nggak lumayan lah ya masih bisa naik bus seharian kalau mau saling berkunjung~

    Hmmm ini kenapa jadi ngomongin Pak Fitri sih gmn ini Ken. Kembali ke Fitri betulan, kalau penasaran dengan topik riset dan kehidupannya di Graz, silakan simak wawancara berikut!


      Jalan-jalan dengan anak-anak Erasmus

    1. Riset Phd-nya tentang apa sih Fit?
    Programnya lebih ke arah genetic engineering di ragi, jadi memodifikasi sel agar menghasilkan suatu produk (protein, enzyme,dll) atau sistem sel yang diinginkan. Kerjaannya lebih ke arah cloning, mutasi gen, menghilangkan dan menambahkan suatu gen ke dalam genome suatu makhluk hidup (ragi).

    2. Sedang dalam tahapan apa sekarang? 
    Untuk saat ini masih literature study dan magang di project senior agar lebih tahu teknik yang umum digunakan di lab seperti apa.

    3. Tantangan, hambatan dan aral-melintang yang sudah ditemui?
    Tantangannya banyak sih, hehe. Yang pertama itu masalah adaptasi, karena ini baru pertama kali saya jauh dari keluarga dan sekalinya pergi dari rumah langsung jauh banget. Yang kedua perbedaan culture di sini dengan di Indonesia, kadang suka ngerasa kikuk sama temen-temen di lab, apalagi kalau ada party... hehe. Mulainya malam banget dan ngobrolnya lama banget (nggak kuat nahan ngantuk!). Tapi alhamdulillah mereka baik2 dan care. Yang terakhir kualitas penelitian di sini jauh banget dengan di Indonesia. Awal-awal baca paper banyak nggak ngertinya, ngerasa nggak tau apa-apa. Alhamdulillah lambat laun bisa mengikuti. Sekarang setelah 4 bulan baru bisa mulai enjoy sekolah di sini.

    4. Ada suka dan duka atau pengalaman menarik selama 4 bulan ini?
    • Suka:
    Banyak ilmu baru yang didapatkan, soalnya untuk biotechnology di ragi, lab saya yang sekarang termasuk salah satu lab yang leading di bidang tersebut di dunia. Dulu waktu sekolah di Indonesia cuma tahu sebatas teori. Di sini karena fasilitasnya bagus banget, jadi nggak cuma tahu teori aja tapi juga penggunaan dan aplikasinya seperti apa. Di lab yang sekarang hampir semua mahasiswa S3 menghasilkan paten, semoga saya juga bisa menghasilkan paten. Aamiin.

    Dulu di Indonesia penelitiannya ke arah biotechnology ragi juga. Setelah ikut kuliah dan seminar di sini ternyata penelitian yang saya lakukan di Indonesia dulu banyak salahnya, hohoho... Ini sebagai proses meningkatkan kuaitas diri juga, karena setelah menjalani sekolah di luar negeri ternyata nggak semudah yang dibayangkan—butuh kesabaran dan persistensi tinggi, hehe.

    • Duka:
    Profesor saya sibuk banget, jadi susah banget untuk diskusi. Kalau mau diskusi biasanya butuh 2 minggu untuk buat appointment. Kalau dulu ada senior yang men-training dan bisa dijadikan teman diskusi projek di lab, tapi sekarang senior tersebut sudah lulus bulan Februari lalu dan postdoc di Australia. Jadi sekarang dituntut lebih mandiri lagi.

    • Pengalaman menarik :
    Sebulan lalu saya ambil lab course dan selama lab course saya ngerasa 'wow' banget karena profesor sendiri terjun langsung ke lab. Beliau sendiri yang ngasih briefing dan mengawasi selama praktikum berlangsung (3 minggu, dari jam 12 siang sampai 7 malam) dan asisten praktikumnya postdoc semua. Ngerasa 'wow' karena dulu di Indonesia biasanya dosen nggak terjun langsung seintensif itu di mata kuliah praktikum, biasanya cuma pengawas di awal-awal praktikum saja.

    5. Sudah ada hasil dari progress sekarang?
    Belum ada karena masih di studi literatur. In sya Allah bulan depan udah mulai experiment di lab.

    6. Lalu apa nih untuk rencana ke depannya?
    Kalau setelah S3 ini kayaknya mau rehat dulu sebentar, pengen punya dedek bayi dulu. Kalau diijinkan suami pengennnya postdoc di negara dan kota yang sama dengan suami, hehehe...

    7. Di Graz ada kegiatan rutin selain studi?
    Apa ya? Paling di Graz suka ikut pengajian ibu-ibu 2 minggu sekali. Terus ada rencana ambil kursus Jerman bulan depan.

    Bersama ibu-ibu pengajian di Graz

    Terima kasih banyak ya Fitri, sudah mau diwawancara oleh blog PPIA! Jangan kapok ya nampang di artikel blog ;D Semoga studinya lancar, eksperimennya sukses, harapannya tercapai, makin betah di Graz dan nggak kejar-kajaran negara lagi dengan suami iya nggak Ken. Aamiin!

    Tuesday, 24 March 2015

    Phd Story: Idhamsyah Eka Putra (Linz)

    by Evi Mulyani



    Idhamsyah Eka Putra lulus dari Program S3 Humanities and Cultural Sciences dari Johannes Kepler University of Linz pada 11 Februari 2015.

    Rekan kita yang mendapat gelar Dr Phil ini berencana untuk mengembangkan term yang ia perkenalkan, yaitu 'meta-prejudice'.

    *Googling term 'meta-prejudice'*

    "Meta-prejudice adalah bagaimana saya sebagai bagian dari kelompok, memandang orang lain (anggota kelompok) berpikir (dengan cara negatif) terhadap orang lain," ia menjelaskan secara singkat.

    Ia lulus 2,5 tahun dengan hasil "distinction". Penelitiannya dilakukan di wilayah Indonesia bagian Barat (Jawa) dan Timur (Flores), dengan data dari kelompok (Sunni) Muslim, Kristen (Katolik dan Protestan), dan Ahmadiyah, dengan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif (5 studi lapangan).

    Terdengar sangat menantang, bukan? :)

    Menurut Dr. Phil Idhamsyah, tantangan besar yang ia hadapi selama pembuatan disertasi adalah professornya.

    "Banyak tuntutan dari professor, (untuk) keluar dari bingkai teori yang ada, dan mencoba memahami dengan tidak terkotakkan oleh suatu teori."

    Pastinya selama menjalani S3 ada rasa suka dan dukanya, salah satunya adalah professornya yang benar-benar ahli di bidang yang Idhamsyah kembangkan.

    "Dukanya, pembimbing saya memiliki standar kualifikasi yang  sangat tinggi, sehingga untuk mencapai standar yang beliau inginkan rasanya seperti harus teriak di puncak gunung 100 kali."

    Weww, bisa dibayangkan...

    Selama di Linz, ia juga membantu beberapa penelitian yang dilakukan oleh beberapa staf akademik di JKU. Ia juga pernah terlibat sebagai pengurus PPIA 2012.

    Harapan kita semua dari PPIA kepada Dr.Phil Idhamsyah, semoga sukses selalu dan ilmunya bisa dikembangkan di tanah air. Sukses!

    Thursday, 5 March 2015

    Phd Story: Sarrah Ayuandari (Innsbruck)


    by Sri Yuliyanti


     
    Sarrah Ayuandari, wanita kelahiran 4 April 1987, Banjarbaru, Kalimantan Selatan ini adalah seorang dosen Muda di Bagian Obstetri dan Ginekologi (kebidanan dan kandungan) di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang  sedang menuntut ilmu  S3 nya di Innsbruck, Austria. Mari kita simak lebih dalam apa rahasia kesuksesan Sarrah hingga membawanya sampai ke Universitas Innbruck?

    Aktivitas apa yang saat ini sedang Sarrah lakukan?
    Pada tahun 2009, saya lulus dari Fakultas Kedokteran UGM dan saya sempat  bekerja di Rumah Sakit di Palangka Raya lalu di Yogyakarta. Namun saya memiliki cita-cita untuk mengajar, maka kemudian di Universitas Gadjah Mada saya mendaftarkan diri untuk menjadi seorang dosen.  Alhamdulillah, saya lulus tes dan menjadi  dosen muda untuk  melakukan beberapa kegiatan di UGM, di antaranya adalah mengajar keterampilan-keterampilan dasar pada mahasiswa S1 di Fakultas Kedokteran UGM. Sementara itu, saya mulai mencari kesempatan untuk melanjutkan Program S3/ PhD dan mencari beasiswa untuk mengambil PhD tersebut.
    Alhamdulillah, kemudian di tahun 2011 saya mendapatkan beasiswa dari Dikti untuk studi PhD di Departemen Ginekologi dan Endokrinologi, Medical University of Innsbruck, Innsbruck, Austria. Tahun pertama, diisi dengan kuliah dan kursus- kursus wajib, lalu memasuki  tahun ke 2 dan ke 3 baru masuk ke riset atau proyek penelitian di laboratorium. Saat ini saya memasuki tahun terakhir dalam program PhD tersebut dan sedang dalam proses penulisan publikasi ilmiah serta disertasi.
    Titik fokus pada proyek penelitian saya disini adalah masalah kesuburan atau fertilitas pada pasien kanker yang sedang menjalani terapi atau pengobatan kanker. Pasien yang sedang menjalani terapi untuk penyakit kanker (kemoterapi dan radioterapi) mempunyai resiko untuk menjadi tidak subur karena obat dari terapi kanker tersebut dapat mempengaruhi fungsi dari indung telur, sehingga pada akhirnya kemampuan untuk memiliki keturunan dapat berkurang. Tujuan penelitian kami di sini adalah untuk mengembangkan solusi-solusi serta meningkatkan tingkat keberhasilan dari solusi tersebut dalam mempertahankan kesuburan pada pasien kanker yang telah menjalani terapi pada kanker.

    Apa yang dimaksud dengan Publikasi dan Disertasi?
    Publikasi adalah atikel Ilmiah mengenai riset yang saat ini kita lakukan dan dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah yang dapat mencakup ruang lingkup Internasional. Publikasi ilmiah selalu berisi pengetahuan dan hal-hal terbaru dari suatu bidang, misalnya bagi saya adalah bidang kebidanan dan kandungan.
    Sedangkan yang dimaksud dengan disertasi adalah ulasan kegiatan riset atau penelitian kita selama 3-4 tahun mengikuti program PhD. Disertasi tersebut akan dipresentasikan di depan pembimbing dan penguji, dan kemudian jika sudah disetujui, maka akan dikumpulkan resmi di universitas sebagai syarat kelulusan.

    Apa yang menjadi tantangan selama mengambil program Phd ini? 

    Tantangan utama ada di penelitian itu sendiri.  Kita harus selalu mencari Ide-ide baru dan mengembangkan Ide-ide tersebut agar hasilnya dapat memperkuat penelitian sebelumnya atau bahkan langsung bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, seringkali eksperimen yang kita lakukan tidak selalu berhasil dan disitu kita dituntut untuk sabar dan belajar dari kegagalan supaya eksperimen selanjutnya bisa lebih baik lagi. Apalagi program Phd ini memiliki waktu terbatas. Selain itu, pengelolaan keuangan, alat-alat, dan bahan-bahan di laboratorium juga membutuhkan perhatian ekstra. 
    Rekan-rekan di laboratorium serta pembimbing saya sangat suportif dan selalu menyediakan waktu untuk berdiskusi, baik mengenai persoalan riset maupun di luar itu. Semua rekan-rekan di tim riset saya sudah saya anggap sebagai keluarga.

    Apa pencapaian selama di Innsbruck selama ini?
    Selama mengikuti Program Phd ini saya mendapatkan banyak sekali pelajaran dalam kehidupan yang sangat berharga, seperti mengetahui etos kerja orang-orang di Austria yang disiplin, lalu mengetahui bagaimana cara bekerja dalam sebuah tim, dan bagaimana merancang serta melakukan suatu riset itu sendiri. Selain itu, alhamdulillah saya sempat beberapa kali mendapat penghargaan pada beberapa seminar/konferensi internasional yang saya ikuti dengan mempresentasikan data dari proyek riset kami di Innsbruck. Selain itu, saya juga berkesempatan untuk menjalin network dengan peneliti dari universitas lain dan saya juga berkesempatan untuk membawa nama Indonesia dalam forum internasional tersebut. Kesempatan-kesempatan yang baik tersebut saya gunakan sebagai inspirasi dan pemicu motivasi untuk dapat menjadi lebih baik lagi. 
    Alhamdulillah saat ini saya sudah menjadi co-author dari dua publikasi ilmiah internasional. Mohon doanya agar saya bisa segera mempublikasikan artikel ilmiah saya sebagai first author dalam waktu dekat.

    Suka duka hidup di Eropa?
    Tentunya tidak mudah tinggal jauh dari kampung halaman. Namun sejauh ini, alhamdulillah jauh lebih banyak sukanya daripada dukanya, karena pada dasarnya saya mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, dan saya selalu menikmati hidup di Innsbruck yang sudah saya anggap sebagai kampung halaman kedua ini. Saya banyak mendapatkan sahabat baru selama saya hidup di eropa, terutama teman baru dari berbagai negara, sehingga pikiran saya bisa jauh lebih terbuka dengan mengenal banyak karakter juga budaya. Bersama teman-teman tersebut saya sering melakukan kegiatan yang menyenangkan, seperti hiking atau naik gunung bersama, atau sekedar makan malam di restoran yang menyediakan menu lokal.
    Di Innsbruck sendiri, saya paling cinta dengan pemandangannya, yaitu keindahan pegunungan Alpen. Setiap hari saya memang melihat pegunungan yang sama, namun setiap hari pula lah saya selalu merasa kagum yang tidak ada habis-habisnya. Udara dan air di Innsbruck juga sangatlah bersih dan segar. 

    Tips-Tips atau rahasia sukses?
    Saya selalu berusaha untuk menyeimbangkan semua hal. Kita sebagai manusia mempunyai banyak sekali potensi yang sebenarnya bisa kita kembangkan. Sebisa mungkin pikiran kita terbuka untuk hal baru. Ambil hikmah dari setiap hal, tidak mengeluh, dan selalu syukuri segala nikmat serta kesempatan yang kita punya. Oleh karena itu saya sangat suka untuk mengikuti banyak kegiatan, terutama kegiatan yang mengandung nilai manfaat, seperti ikut pengajian dan Liqo di Innsbruck dan forum Muslimah Tirol, menjadi Editor di Majalah 1000 Guru, dll. Satu lagi tips bagi kita semua: senantiasa doakan dan minta doa dari banyak orang, terutama ibu dan ayah kita.

    Harapan?
    Sebagai harapan jangka panjang, setelah saya dan rekan-rekan seperjuangan lain sudah lulus dari PhD, kami sangat ingin untuk menjadikan bidang riset atau penelitian di Indonesia lebih maju lagi serta semakin meningkatnya kesadaran untuk memajukan penelitian dari semua pihak. Saya berharap semoga tahun ini S3 saya bisa selesai dengan baik, kemudian ilmu yang saya dapat selama ini berkah dan bermanfaat untuk masyarakat. Saya berharap agar bidang yang sekarang saya dalami di Innsbruck bisa segera diterapkan di Indonesia, serta semakin banyak lagi rekan-rekan peneliti muda Indonesia yang akan melanjutkan studi-nya kemudian berkiprah bersama untuk negara kita tercinta. Amin ya rabbal alamin.


    ***

    Pengalaman Interview pertama saya dengan Mba Sarrah Ayuandari, menjadi pengalaman yang berkesan. Terima Kasih banyak atas waktu dan kehangatan berbincangnya kepada Mba Sarrah, walaupun jarak dan waktu terbentang antara Indonesia dengan Austria, Alhamdulilah dan Insyaallah perbincangan hangat kita via Skype membawa banyak manfaat serta motivasi bagi Pembaca dan khususnya saya pribadi. Terima Kasih Mba Sarrah!! :)