/* Whatsapp css setting */ .tist{background:#35BA47; color:#fff; padding:2px 6px; border-radius:3px;} a.tist:hover{color:#fff !important;
Showing posts with label By: Rafika. Show all posts
Showing posts with label By: Rafika. Show all posts

Monday, 30 November 2015

Phd Story: Hendrati Dwi Mulyaningsih (University of Klagenfurt)

Hallo, teman-teman! 

Kali ini Phd Story berasal dari Hendrati Dwi Mulyaningsih yang saat ini sedang mengikuti program PKPI di University of Klagenfurt, dengan judul disertasinya "Knowledge-based Social Innovation Process within Social Enterprises toward Value Creation". Yup, Social Enterprise atau Social Entrepreneurship.

Apa itu Social Entrepreneurship? Mungkin kita sudah sering mendengar dan paham istilah 'entrepreneurship', namun term 'social entrepreneurship' sepertinya masih jarang diketahui di Indonesia, walaupun sudah banyak organisasi yang secara tidak sadar sudah menerapkan kegiatan ini. Apa pengertian Social Entrepreneurship? Apa perbedaannya dengan 'entrepreneurship'? Kenapa Social Entrepreneurhip penting? Apakah sama dengan non-profit organization?

Hendrati Dwi Mulyaningsih atau yang biasa disapa oleh murid-muridnya Ibu Yani menyempatkan waktu untuk memperkenalkan apa itu Social Entrepreneurship. Dalam tahun ketiganya di program S3 Doctoral Science Management SBM ITB, beliau mendapatkan beasiswa dari Dikti di program PKPI (Peningkatan Kualitas Publikasi Ilmiah) atau seperti program sandwich, di University of Klagenfurt.

Beliau berbagi ilmunya tentang social entrepreneurship, mengapa Indonesia perlu hal ini, dan apa yang beliau ingin lakukan ke depannya untuk Indonesia. Yuk, ditonton perbincangan menarik ini. 

Semoga bermanfaat!


Tuesday, 26 May 2015

Belajar di Austria dengan Dosen Indonesia?

by Rafika Nurulhuda


Hallo!
Happy Spring! ... or Summer? :)


Apa kabar Klagenfurt? Sudah lama ya tidak dengar kabar dari kota kecil ini. Kami baik-baik saja, dan sedang sangat, sangat (I repeat, sangat) sibuk dengan studinya masing-masing. 

Tapi karena suasana AAU (Alpen-Adria-Universität) Klagenfurt sangat nyaman dan sangat dekat dengan danau Wörthersee...




...dan juga dikelilingi oleh indahnya alam, dengan bersepedaan dan menyapa bebek-bebek di danau, penat kami pun blasss hilang. (Yes, I am a little bit exaggerating.)

(Btw, 'kami' itu sebenarnya hanya saya dan teman saya yang sedang Phd, hehe. Yup, there are only two Indonesians in this university!)

Teman saya ini bernama Zulaicha Parastuty, seorang mahasiswi Phd dari program Innovations Management and Entrepreneurship. Biasa dipanggil Ika. (Jika Anda di bawah 30 tahun, panggilnya 'mbak Ika'. Kalau saya sih panggilnya 'tante Ika', karena saya jauh lebih muda darinya--kidding, mbak!)

Phd student, dosen, and a mother of 2. Perempuan ini memiliki semangat dan kecerdasaan--dan tentunya awet muda ;)

Minggu itu, ketika saya sedang mengambil course tentang Entrepreneurship, tiba-tiba saya dapat WhatsApp message dari mbak Ika: 'Rafika, aku ngajar jam 18.00.'

Sudah lama saya ingin melihatnya ngajar. Dan kebetulan topiknya sama dengan yg saya pelajari saat itu, jadi lumayanlah untuk lebih memperdalam. Walaupun telat karena baru selesai kelas, saya tetap masuk ruang kelasnya...

Saya duduk di row paling depan dan langsung amazed ketika ia mulai berbicara di depan kelas. I thought to myself, "Wow, this woman is really born to be a researcher, and a teacher."




Mbak Ika suka cerita tentang pengalaman-pengalamannya selama menjadi researcher, and I could never imagine myself in her position, so it must be something that she is really passionate about. Plus, dia semangat banget ngajarnya... Suara kerasnya lebih cocok untuk ngajar di lecture hall yang besar tanpa mic (trust me), dan dress code nya pun sengaja dipakai sebagai salah satu topik di lecturenya... thumbs up deh..

Ini jujur loh ya, bukan karena she's my friend, hehe. Bahkan, pada akhir kelas, mbak Ika minta masukan dari murid-muridnya tentang pelajarannya dan apakah ada yang perlu diperbaiki dari cara mengajarnya. Dan sepertinya hampir semuanya suka dengan cara ngajarnya, karena dia sangat enthusiastic... yang tadinya ngantuk, langsung bangun deh, apalagi waktu itu cuaca sedang mendung, enaknya tidur dalam kelas, hehe. Tapi di lecture mbak Ika, everybody has to listen.. not only because she has a loud voice, but also because the topic is interesting, yaitu Entrepreneurship.



Jujur, dulu saya dengar kata 'entrepreneurship' aja enggak suka. First, it's hard to pronounce. Second, it's hard to spell. Jadi dulu saya pikir, apaan sih...
Tapi, topik ini ternyata sangat menarik. 

Basically, menurut Wikipedia:
"Entrepreneurship is the process of starting a business or other organization. The entrepreneur develops a business plan, acquires the human and other required resources, and is fully responsible for its success or failure."

Kalau kita bicara entrepreneurship dari scratch (making a completely new business), proses ini dimulai dengan identifying, seeking, and exploiting an (business) opportunity. Pertanyaan-pertanyaan seperti, apa yang orang-orang butuhkan sekarang ini, yang bisa saya ambil kesempatannya? Find a gap in the market and try to fill it. Atau, kita bisa tanya diri sendiri, saya butuh teknologi apa atau benda apa yang bisa mempermudah hidup saya? Kemudian dibuatlah business modelnya (tentukan produk atau service apa yang ingin dibuat, apa yang membuat produk ini memiliki nilai lebih dari produk lain, target marketnya siapa, sumber dana, distribution and promotoion channel). Menurutku, seorang entrepreneur (baik yang sukses maupun tidak) itu dari awalnya sudah hebat: mereka berani mengambil resiko. There are always risks and uncertainties. 

Dan kenapa belajar entrepreneurship? Well, selain untuk menambah pengetahuan di bidang lain, siapa tahu ternyata kita jadi punya keingingan dan skills untuk membuat business dan membuka lapangan kerja. Isn't it nice if we are the ones making a job rather than finding a job? :)

Mungkin, pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana proses entrepreneurship?
Ada dua cara: causation (planning) vs effectuation (improvising). 

Screenshot ini saya ambil dari slide professor saya, Robert Breitenecker:


Intinya, cara causation (planning) berawal dari rencana dan tujuan yang pasti, kemudian means dan resources mengikuti. Dan effectuation (improvising) dimulai dengan melihat means (who am I? what  do I know? whom do I know? what do I have?) dan terbuka dengan ide-ide baru. 

Untuk memperjelas, mbak Ika memberikan contoh sederhana, "Coba, kamu pikirkan, kamu nanti malam mau makan apa?"

Jika Anda berkata, "Saya mau makan pizza."
Dan saya menjawab, "Saya ada pizza di freezer, jadi saya akan makan pizza juga."
Kemudian mbak Ika menambahkan, "Tapi ternyata kalian enggak punya pizza. Apa yang akan kamu lakukan?"

"Ah, saya akan ke supermarket dan beli pizza," Anda bersikeras, sambil mengerutkan alis.
"Oh, ya udah, saya akan lihat ada apa saja di kulkas, ya itu dinner saya," saya jawab dengan muka melas.

So, it was a simple example that you use the causation (planning) theory karena Anda memiliki target and you do anything to get it, dan saya menggunakan effectuation theory karena saya lebih memanfaatkan apa yang saya punya dari awal dan terbuka dengan hal baru. Understood? Stood...


Lebih tepatnya, mbak Ika mengajar course 'International Innovation Management and Entrepreneurship' untuk bachelor students. Karena ada kata 'international' nya, inilah kesempatan mbak Ika untuk memperkenalkan Indonesia. 

Untuk tema 'from local heritage, science to global taste', mbak Ika ber pose di depan kelas, "First, I want to ask you, what do you think about what I'm wearing today? Do you see anything different? Interesting?"

She goes on to explain that what she was wearing is a traditional clothing from Indonesia, with a design art called batik but a bit modernized. And interestingly, the drawings are mathematically designed.

"So this is a combination of art, science, and technology, which you will see in this video."

Happy watching, and hopefully you'll be inspired to become an entrepreneur :)


Monday, 25 May 2015

Phd Story: Agung Dewanto

by Rafika Nurulhuda

Dokter Agung Dewanto melukis outdoor, dikerubuti oleh anak-anak

"Keduanya tak saling mengganggu, malah saling melengkapi."  

Itulah jawaban dokter Agung Dewanto SpOG(K) yang berjiwa seniman ini, ketika ditanya, "Jika disuruh pilih, menjadi dokter atau pelukis?"

Menurutnya, pertanyaannya itu sama seperti pertanyaan, "Milih makan nasi saja atau telur saja?"

..............

Menekuni program Phd di bidang Ginekologi dan belajar seni lukis adalah dua dunia dan tentunya, prestasi yang tidak bisa lepas dari pria kelahiran 1973 ini. (Btw, manggilnya "pak", "dokter", "om", "bang", atau apa ya? hehe)

"Teman di bawah umur 30 panggil aku simbah, karena sudah tua, hehe, sudah 42 nih."

(Yang penting tetap young spirit dan berprestasi, mbah, hehehe)


Selama 3 tahun di Innsbruck, beliau mendalami masalah endometriosis sebagai topik risetnya. Saya pun langsung semangat bertanya-tanya mengenai hal ini, karena sepertinya zaman sekarang banyak wanita yang mengalami masalah ini. 

"Dari istilahnya, endometriosis mirip endometrium. Endometrium adalah jaringan yang letaknya melingkupi bagian dinding bagian dalam rongga rahim. Pada endometriosis, terdapat jaringan mirip endometrium tapi letaknya di luar dinding bagian dalam rongga rahim," jelasnya.


Beberapa teori penyebab endometrisis tersebut adalah antara lain "Dari sebab imunologi, dan sebab sebab metaplasia, yaitu perubahan bentuk dan sifat cell. Ada orang  yang tidak terdeteksi menderita endometriosis, sampai kemudian secara kebetulan ditemukan karena ada masalah infertil atau sulit punya anak, sampai ke penyebaran endometriosis ke organ dalam seperti usus, saluran kencing, dan menimbulkan gejala terutama nyeri kronis dan gejala lainnya tergantung pada organ mana yang terkena endometriosis."

Lalu, bagaimana pengobatannya?


"Pertama, diagnosis ditegakkan dengan laparoskopi, yaitu operasi dengan laparoskopi, alat yang dirancang seperti teropong. Jadi dilihat lewat kamera. Jika diagnosis telah tegak, jaringan endometriosis dibuang atau dieksisi (dipotong bagian endometriosisnya). Pengobatan dengan hormon bisa dilakukan untuk mengurangi rasa nyerinya, meski bukan jaminan."

Risetnya saat ini adalah tentang bagaimana jaringan endometriosis tumbuh dan berkembang, mengapa dapat infiltrasi, dengan melihat dan menganalisa beberapa growth factors dan receptors, dan bagaimana persarafannya.

"Sejauh ini hasilnya seperti hipotesis yang saya buat. Agak beda dengan riset yang sudah dipublikasi oleh peneliti sebelumnya."



"Sebelum tahun 2011, saya bukan dosen. Saya jadi dosen ketika selesai sekolah konsultan. Dokter konsultan disini disebut Oberartz. Oberartz itu kan harus Fachartz dulu. Fachartz saya Obsgyn. Oberartz saya endokrin ginekologi. Kemudian saya ditarik jadi dosen disuruh S3," ceritanya.

Sebenarnya, Berlin adalah awal tujuan tempat studinya. Namun, karena ada masalah dengan administrasi, beliau pindah ke Innsbruck. Uniknya, proposal thesisnya tetap sama, supervisornya ada dua, yaitu dari Berlin dan Innsbruck, dan bahkan sebagian sampel dari Charite Berlin. 

Hal yang menjadi tantangan sendiri adalah tingginya standard riset S3 di Eropa, dan adanya dua professor supervision dari beda negara dan beda universitas. 

"Aku dulu pegangnya pisau bedah, tiba-tiba pegang pipet di usia tak muda lagi. Pingin dan kangen balik ke ruang operasi. Kangen kerja di daerah terpencil lagi, hehe."




Selain kesibukannya sehari-hari dalam riset, dokter asal Jogjakarta ini menyempatkan waktu 1-2 jam sehari untuk mendalami hobinya melukis. Sudah 1,5 tahun, sebulan sekali, beliau mengambil kursus melukis di Akthof Munchen (akthof.de). 


"Sekarang masih belajar classic. Masih basic. Apa yang dilihat itu yang digambar. Di tempat kursus, disediakan dan diajari melukis dan drawing model. Modelnya bisa orang, barang, buah sayur, landscape, semua lah.  Semua itu untuk mempelajari komposisi, warna, proposisi, proyeksi, itu standard ilmu fine arts."

Alangkah indahnya jika dapat menenuki hal-hal yang diimpikan tanpa harus meninggalkan salah satu. Bakat dan minat dalam bidang seni ternyata sudah muncul sejak "dibelikan pensil warna", namun tidak sempat dikembangkan, karena menurutnya, jika dibandingkan dengan seni tarik suara, seni lukis tidak terlalu dihargai di Indonesia. (Kalau sekarang, menurut kalian, sudah dihargai belum ya? :))

"Saya waktu kecil milih menyanyi daripada melukis, karena lebih dihargai dan lebih sering mendapat penghargaan, walaupun bukan no 1. Dan cita-cita saya jadi arsitek."

Pada saat itu, nilai biologinya lebih baik daripada fisika dan kimia, tetapi pilihan pertama tehnik. Namun, nasib berkata lain, jadilah beliau seorang dokter yang tidak melupakan passion-nya dalam berseni.


"Umumnya orang Indonesia bilang lukisan saya biasa saja. Ketika saya iseng melukis teman saya disini, mereka bilang bagus. Banyak support dari teman bule, bahkan mereka mau jadi model gratis. Itu modelnya teman bule, rela pakai dindrl. Takjub deh saya. Di Indonesia lukisan saya dianggap jelek. Emang jelek sih ya, haha."


Menurutnya, sulit menemukan orang Indonesia yang bersekolah dan paham tentang seni, karena pengalamannya sendiri, sejarah seni dan ilmu seni di Indonesia sangat kurang diajarkan di sekolah umum. 

"Saya pikir, oh rupanya beda selera, tapi bule sini yang sekolahan juga tahu seni, sejarah seni, renaissance, impresionism, bahkan pointilismus juga tahu."

Sejauh ini, jumlah lukisannya sudah mencapai sekitar 30 dan ada beberapa yang dibeli dan diberi ke orang lain sebagai hadiah natal, hadiah pernikahan, atau ulang tahun. 

"Saya enggak niat jual awalnya. Buat hadiah, eh malah dikasih duit. Katanya, ini terlalu berlebihan untuk sebuah hadiah."



Ternyata, rumah sakit di Eropa disediakan tempat pameran lukisan dan itulah kesempatannya untuk memamerkan karya-karya seninya. 

"Memang disediakan untuk lokal artis tapi harus pesan 1 tahun sebelumnya. Senang bisa menghibur pasien. Kalau di Indonesia kan bisa hilang tuh. Dan di Indonesia isinya program penyuluhan bukan karya seni."

Tiap orang memiliki bakat yang berbeda-beda, yang jika tidak diasah, akan sia-sia. Jadi yang terpenting adalah, keep on practising. Bahkan orang yang tidak berbakat "dari sananya", tapi karena dia tetap menekuninya, dia bisa lebih "sukses" daripada yang secara lahiriah berbakat. Intinya, just keep on going, whatever the society says.

"Guru lukis saya di Munich lulusan Akademi Bildende Kunst bilang: tahu apa mereka tentang lukisanmu. Terus aja melukis. Tentang bakat, kamu tahu ga, bakat itu cuma sekian persen dari kesuksesan pelukis. Masalah tehnik itu butuh latihan."

Sumber foto: Agung Dewanto (Facebook)


Friday, 24 April 2015

Vienna Marathon 2015





by Rafika Nurulhuda

Olahraga apa yang paling murah?

Lari.
Ya udah. Itu saja yang saya ingin katakan. (penulisnya lagi ngantuk berat.)

Ya, lari, atau mungkin bahasanya kerennya "jogging". Entah apa yang dikejar di depan sana.
Kata adik saya lari itu kurang seru karena seperti "ngejar sesuatu tapi gak dapet dapet."

Ya, mungkin. Tapi, lari itu manfaatnya banyak. Kita tanya saja Ulfah Nurzannah yang ikut berpartisipasi dalam Vienna Marathon 2015. Sudah 32 kali event ini diadakan dan sekitar 40,000 orang ikut berpartisipasi, dari 120 negara, diantaranya Indonesia.




(Penulis sedang membayangkan, alangkah indahnya jika di Indonesia juga bisa diadakan event seperti ini... jadi lebih fit, lebih produktif, meningkatkan kebersamaan.. tapi tambah banyak juga deh sampah dimana-mana... setiap acara publik di Indonesia pasti tambah banyak sampah dimana-mana, ya gak sih?)

Yuk, kita tanya Ulfah soal pengalamannya marathon pada 12 April kemarin.

1.  Di Vienna Marathon 2015, ikut berpartisipasi berapa kilometer?

"Aku ikut berpartisipasi untuk 21,097 km yang disebut Halb Marathon atau Half Marathon dari total keseluruhan 42 km."

2. Lokasi marathon tepatnya dimana dan half marathon itu dimana saja?

"Jadi Vienna City Marathon mempunyai 5 program: a) Coca Cola Run 2 km untuk anak-anak 6-10 tahun, b) Coca Cola Run 4 km untuk anak-anak 10-18 tahun, c) Vienna Marahon, 41,195 km, d) Relay Marathon 42,195 km. Start grup beranggotakan 4 orang. Aku dari grup Coca Cola."

Ini plan/ track Vienna City Marathon:


3. Apa syaratnya untuk bisa ikut marathon?

"Syaratnya hanya harus daftar dan bayar. Karena aku telat daftar, aku bayar 76 EUR. Aku masuk yang gelombang terakhir. Kalau daftar gelombang pertama lebih murah, bisa hanya 50-an EUR. Dapat chip time yang dipasang di sepatu untuk mengukur lari dan kecepatan saat race (tapi harus dibalikin lagi) dan dapat medali di finish.

4.  Apakah ini pertama kalinya dan apa saja persiapannya?

"Ya, ini halb marathon pertamaku. Persiapannya latihan dari Februari awal. Seminggu 4-5 kali. Asupan makanannya lebih banyak seperti karbohidrat dan minum air. Aku berlari bersama teman, Nathalie, tapi dia lebih cepat dari aku. Aku tidak memburu waktu" "




5. Boleh tahu, apa motivasi Ulfah untuk ikut berpartisipasi?

"Lari hanya sebatas hobi. Tapi halbmarathon ini salah satu resolusiku tahun ini."

6. Bagaimana rasanya ikut berpartisipasi dalam marathon kemarin?

"Aku excited banget, setiap seruan semangat bikin aku ceria sepanjang 21,2 km. Tak pernah aku lewatkan untuk bertepuk tangan atau high five dengan anak-anak yang melambaikan tangannya di pinggir jalan."

7. Menurut Ulfah, apa manfaat lari? 

"Bagus untuk kesehatan, penghilang penat, dan melatih kita disiplin. Tanpa latihan yang tekun, es leider night losgehen."


8. Apa saran Ulfah untuk para pemula yang ingin mulai "jogging"?

"Latihan yang rajin dan tekun. Perhatikan asupan makanan, pola tidur, app Nike+ juga bisa menjadi acuan kita, persiapkan sepatu yang tepat dan nyaman serta pakaian olahraga. Dan pantang menyerah. Untuk seberapa jauh kita lari itu bertahap. App Nike + juga sangat membantu (karena ada coach atau trainer dalam App tersebut yang kasih kita jadwal dan target."

9. Rencananya tahun depan mau berpartisipas lagi?

"Ya, ini halbmarathon pertamaku. Rasanya sangat  luar biasa karena aku bisa berlari sampai finish dan puas serta bersyukur atas semuanya. Terima kasih untuk semua yang selalu mendukung, teman serta keluarga. Tahun depan aku masih ingin ikut serta, ingin mencoba Relay Marathon. Semoga aku dapat rekan yang mau menjadi grup Relay tahun depan."




Tuesday, 24 March 2015

Reminder: Earth Hour 2015 (Saturday, 28 March)


 by Rafika Nurulhuda
 This is not only to remind you, but this is mainly as a self-reminder that I would like to share with you all.
I am sure we all have heard about Earth Hour that is celebrated each year on 28th March starting from 8.30 PM to 9.30 PM local time. What do we exactly do at that moment and what is the importance?
It is basically one of the ways to combat global warming. You can participate by simply shutting of lights for an hour. And this simple act actually brings positive impacts. There are some facts about how much energy is conserved just from the one hour time period.
It saves electricity cost, too ;)
I would like to remind myself that, Earth Hour should not only be done every year, but it should be put into my awareness and put into my action for the upcoming days. 
I think we all agree that Valentine shouldn't be celebrated only in February, but showing love to your loved ones should be done everyday, right? 
I think participating in Earth Hour shows our love for Earth, and it should be shown daily.
So cross your heart. Promise me you'll turn off the lights for one hour this Saturday. :)

Monday, 23 February 2015

Paraglider Indonesia Menyabet Gelar Terbaik di Liga Paragliding Austria 2014



by Rafika Nurulhuda

Dari hobi melayang-layang di udara akhirnya menjadi juara dan menjelajah langit Austria. Kalau saya bayangkan, seperti menerbangkan layang-layang: perlu ketelitian dan kesabaran dan akhirnya bisa terbang di udara--tapi yang satu ini orangnya ikut terbang!

Paragliding, atau dalam bahasa Indonesianya "paralayang" adalah "olahraga terbang bebas dengan menggunakan sayap kain (parasut)...untuk tujuan rekreasi atau kompetisi" (menurut Mas Wikipedia). Ngomong-ngomong kompetisi, ternyata ada orang Indonesia yang saat ini berdomisili di Klagenfurt, Austria, yang telah memenangi kompetisi paragliding pada tahun 2014 lalu.

Sebut saja Yoshi Pasha (bukan nama samaran). Pada ajang Liga Paragliding Austria 2014, ia berhasil mendapatkan nilai tertinggi sehingga menjadi juara pertama. Not only that, he is the first Indonesian and first Asian to win this award. *claps*

Apa sebenarnya yang dinilai dalam kompetisi paragliding? Apakah ada "kesenangan tersendiri" dalam berlayang-layang di udara? Bagi para adrenaline seekers dan yang tertarik untuk coba, apa syarat untuk menjadi paraglider dan tandem (terbang berdua dengan trainer)?


Olahraga paralayang terinspirasi dari parasut yang digunakan saat Perang Dunia ke-1. Kemudian, bentuk parasut dikembangkan untuk lebih memudahkan melayang di udara, dan dikembangkan lagi untuk rekreasi dan terbentuklah olahraga paragliding. Paragliding World Championships yang pertama diadakan di Kossen, Austria pada tahun 1989. (http://www.circlinghawk.com/history.html)

"Olahraga udara ekstrim yang tidak hanya menuntut kemampuan fisik, tapi juga membutuhkan skill dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi", begitu kata Yoshi.

Walaupun dapat dikategorikan sebagai olahraga ekstrim, bagi paragliders, it is worth the try, karena katanya sih.. kita bisa merasakan kebebasan berpetualang dan pastinya menikmati pemandangan yang indah dengan bird's eye view (atau layang-layang view :p)


Berbagai tempat di Indonesia telah ia jelalahi, diantaranya Danau Toba, Puncak, Majalengka, Parangtritis, Wonogiri, Kemuning, Batu, Nusa Dua, dan Maninjau. Baru-baru ini, langit Austria menjadi saksi kemenangan paraglider Indonesia ini. Berkat bekal ilmu dari Indonesia dan setahun belajar di klub lokal di Klagenfurt, ia qualified untuk mengikuti Liga Paragliding Austria.

"Tahun 2014 saya mendapat beberapa podium dan raihan nilai saya tertinggi di akhir seri, yang menjadikan saya juara 1 di kelas yang saya ikuti dan mendapat trofi Pendatang Baru Terbaik 2014." Kompetisi ini terdiri dari 12 seri di 12 kota setiap tahunnya. "Tapi tahun kemarin karena cuaca kurang mendukung, cuma 4 yang terselenggara." Dari mengikuti ke-4 seri ini, ia mendapat total nilai tertinggi. (http://www.paragleiter.org/)

Ia pun menjadi orang Asia pertama yang qualified di Liga Austria dan orang Asia pertama yang bisa jadi juara 1, dan dilakukan di tahun pertama. Dan hingga saat ini, ia masih tercatat sebagai orang Indonesia dengan rekor terbang paragliding terjauh dalam beberapa kategori, dan berdiri di rank 1 Indonesia pada daftar Paragliding yang dikeluarkan oleh FAI (Badan Olahraga Udara Internasional).


Paragliding memerlukan beberapa disciplines. Yang paling bergengsi dan tingkat kompetisinya tinggi adalah paragliding XC. "Lombanya secara deskripsi hampir sama dengan rally tapi di udara. Start dalam waktu yang bersamaan dan menuju beberapa waypoint yang telah di set sebelumnya via GPS. Menuju finish di titik yang sama, dan dihitung waktu tercepat."

Itulah yang membuat ia menang. Ia juga sering mengikuti kompetisi baik di Austria (HöheWand Pokal, Austrian Open, dan Schmittenpokal) maupun di negara lain, seperti Slovenia (Paragliding Winter Cup, Parastajerka Open, dan Soca Valley Open), Spain (GIN Wide Open), dan Jerman (Hessische Landesmeisterschaft).

Selain itu, paraglider kelahiran Batu, 27 Juli ini memiliki sekolah paragliding yang ber-homebase di Batu. Ia menjelaskan, bahwa untuk bisa menjadi paraglider, perlu training khusus, yaitu mengikuti course basic selama sekitar satu bulan untuk memperoleh lisensi beginner. Dan hasil riset sang penulis di Mbah Google, harga course (di Indonesia) berkisar antara 3 juta sampai 6 juta, tergantung paket yang dipilih (dan setiap sekolah paragliding memiliki harga yang berbeda-beda). Harga perlengkapan komplit sekitar 2000-3000 USD dan ada second hand juga loh (http://gendonsubandono.blogspot.co.at/2006/01/). 

"Di course tersebut akan ada materi teori, groundhandling (mengendalikan parasut di darat), simulasi takeoff-terbang-landing, terbang dengan panduan instruktur, ujian, dan lisensi. Perlengkapan paragliding ada parasut paralayang, harnes, carabiner, parasut cadangan, helm, dan radio komunikasi."


Namun, bagaimana dengan orang-orang yang hanya ingin coba sekali dua kali?

"Paragliding bisa secara instan dirasakan sensasinya melalui tandem, dengan biaya 150€ (Austria) atau Rp.350rb (Indonesia). Jika adrenaline saat tandem dirasakan cukup menarik hati, bisa dipertimbangkan untuk belajar terbang solo. Atau di sekolah paragliding saya di Indonesia, www.ayokitakemon.com", ajaknya.

Terdapat banyak sekolah paragliding di Austria. Tetapi menurutnya yang paling ekonomis adalah belajar melalui klub paragliding. "Di Austria terdapat batas jelas antara sekolah paragliding (profit oriented) dan klub paragliding (non profit oriented). Ada ratusan bahkan mungkin ribuan tempat start paragliding di Austria dengan pegunungan Alps nya. Carinthia juga memiliki banyak area terbang, tetapi ada beberapa yang populer bagi para paraglider: Emberger Alm - Gerlitze - Radsberg - Goldeck - dan lain-lain." Ia pun gabung dengan komunitas paragliding di Indonesia yang bernama PGPI (Persatuan Gantole dan Paralayang Indonesia) dengan nomor anggotta PG 0823.



Olahraga yang ia tekuni selama 8 tahun ini membawa hasil yaitu membawa nama Indonesia di luar negeri dan pastinya banyak sekali pengalaman-pengalaman berharga dan tak terlupakan.

"Di Gemona-Italy 2014, saat harus mendarat, di lokasi yang jauh dari mana-mana dan membutuhkan waktu 4 jam hiking dengan bantuan GPS ke desa terdekat, sambil membawa tas parasut 20 kg, sendirian, malam hari, enggak ngerti bahasa Itali, duit tinggal 20 EUR," ceritanya.

Selain itu, pastinya lebih banyak fun, seperti melihat panorama dan landscape yang tak bisa dilihat dari darat, bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara dan background, berdiri di podium, dan berpetualang seru di setiap event.



"Mohon dukungan dari pembaca.. doa, like, follow, apa aja diterima dengan senang hati untuk musim kompetisi 2015."

Yuk, mari, kita doakan dan dukung Yoshi Pasha!

Great Adventures, Happy Landings!



Referensi foto-foto:
FB Paragliding Indonesia in Europe
@yoshipasha (instagram)
yoshipasha.webs.com

Friday, 20 February 2015

Phd Story: Andriati Ningrum (Wien)

by Rafika Nurulhuda


Beberapa hari yang lalu, salah satu mahasiswi S3 di Wina telah berhasil lulus dissertation defence di Institute of Food Science BOKU, dalam program "Laboratory of Food Chemistry". Perempuan kelahiran Jakarta 13 Juni ini menyempatkan waktu untuk berbagi ilmu dan pengalaman menulis disertasinya, yang berjudul "Flavor Compounds from Carotenoids Oxidation in Pandan Leaves (Pandanous amaryllifolius Roxb.)". Bagi orang awam seperti saya (sang penulis), judul tersebut membuat saya bertanya-tanya, apa itu Carotenoids Oxidation? Mari kita tanya Dr.rer.nat Andriati Ningrum, karena terdengarnya sangat menarik. Jangan sampai kita pahamnya hanya ‘pandan leaves’ saja ;) 


Btw, selain sibuk penelitian, ia juga sempat menjadi guru di salah satu sekolah internasional di Wina loh, mari kita tanya ibu guru ini tentang S3-nya!

Bisa dijelaskan disertasinya tentang apa dan apa yang dimaksud dengan "carotenoids oxidation"?
Wahh haha, jadi ingat waktu dissertation defence, ada pertanyaan itu... 
Aku ingin promote salah satu biodiversity dari Indonesia, dan pandan itu kan salah satu tanaman indigenous dari Indonesia, native dari Indonesia, dengan nama latinnya Pandanus amaryllifolius. Nama'pandan' nya kan dari Indonesia walaupun daun pandan itu bisa juga ditemukan di beberapa negara lain, seperti di Malaysia, Thailand, Vietnam, dan sebagainya, tapi genusnya itu asli dari Indonesia. 

Jadi aku ingin mengangkat salah satu tanaman native dari Indonesia. Fungsi daun ini banyak sebenarnya, dari zaman nenek moyang digunakan untuk pewarna, untuk pewangi, bahkan untuk improve aroma beras. Beras biasa jadi bisa punya aroma seperti premium rice, seperti Jasmin.

Ini sebenarnya lumayan menarik loh untuk diinvestigasi lebih lanjut, terutama kaitannya dengan food fraud. Jadi kan sekarang banyak sekali kriminalitas dalam bidang pangan. Mungkin Rafika pernah dengar yang kebab, dibilangnya ini Kebab Huhn, kebab chicken tapi ternyata dagingnya daging kuda yang sudah tua, kuda pacuan yang sudah banyak disuntik berbagai macam obat untuk meningkat stamina mereka untuk pacuan, bahaya yaa, ya itu food fraud. 

Mungkin di Indonesia, saya pernah dengar beras biasa disimpan dengan pandan tapi dia bilang "Oh ini beras Cianjur", yang harganya bisa jauh lebih tinggi. Kalau ini dilanjutkan risetnya cukup menarik juga, bagaimana membedakan beras biasa yang disimpan dengan daun pandan dengan beras premium rice, bagian apa yang bisa dilihat untuk membedakannya. Dan ternyata fungsinya bisa sebagai anti-insect loh. Ternyata kecoa itu enggak suka sama daun pandan dan ini alami. Kalau back to nature kan lebih sehat.

Jadi, disertasi topikku judulnya adalah
"Flavor Compounds from Carotenoids Oxidation in Pandan Leaves". Melihat fungsi-fungsi dari daun pandan tadi, saya ingin melihat bagaimana aroma daun pandan terbentuk dari pewarna alami yang jenisnya carotenoid. Mungkin kalau misalnya Rafika pergi ke DM atau BIPA, banyak suplemen carotenoid, itu sebenarnya salah satu jenis pewarna alami yang banyak ditemukan di sayur, buah, bahkan di orange juga ada, di salmon juga ada, dan itu bagus banget untuk antioxidant. 


Kalau dingin gini ya, antioxidant bagus untuk meningkatkan imunitas kita dari beberapa senyawa yang berbahaya. Untuk mata, misalnya dari kecil suka makan sayur atau buah, mungkin bisa menurunkan kemungkinan untuk terkena mata minus-- haha mungkin aku dulu kurang makan buah atau sayur jadi harus pakai kacamata tebal...


http://manfaat.co.id/manfaat-daun-pandan

Nahh... untuk "carotenoid oxidation" sendiri, jadi dari oksidasi si pewarna ini bisa menghasilkan aroma. Bagaimana aroma dalam makanan itu bisa terbentuk dari pigmen alami dari daun ini. "Carotenoid oxidation" itu oksidasi dari pewarna alami yang bisa menghasilkan aroma. Bagaimana aroma daun pandan bisa terbentuk dari carotenoid, salah satu jenis pewarna dalam daun pandan itu.

 Waktu itu aku ikut seminar tentang Flavour and Fragrance. Flavour lebih orientasi ke aroma makanan, dan fragrance itu aroma untuk kosmetik. Sebenarnya beberapa sumber dari Indonesia, seperti kayu cendana, banyak di expose di seminar itu. Memang kita banyak biodiversitas cuman sayangnya pemanfaatannya kurang. Ini alasan kenapa aku ingin menonjolkan salah satu biodiversity dari Indonesia. Karena aku cuma sendiri, kalau ada tim, bisa lebih banyak sumber daya yang bisa kita investigasi. Mudah-mudahan ke depannya bisa dapat chance untuk lebih promote beberapa sumber daya alam kita. 

Proses penelitiannya seperti apa?
Aku programnya minimal 3 tahun ya. Awalnya aku nulis proposal untuk risetnya dulu, ehh terus bosku tanya "What are you doing? What do you want to do here?" Haha.. Terus dikomunikasikan lah dengan beliau.

Selain proposal penelitian, kita juga harus menuliskan mata kuliah apa saja yang akan diambil. Kami diminta minimal 20 ECTS, sisanya penelitian. Setelah proposal di-approve, baru keluar bescheid-nya. Bescheid itu approval dari universitas tentang riset kita selama beberapa mata kuliah yang di approve itu. Lalu saya coba untuk menemukan metode *ketawa entah kenapa* 

Aku lab work, eksperimen di lab. Waktu pertama aku dibantu oleh salah satu mahasiswa Master dari Vietnam. Kita coba establish satu metode baru, untuk analisa aroma, namanya .. *sang penulis enggak ngerti dan kebingungan* , jadi kayak needle untuk absorb, terus diinject ke gaskromatografi (GC), itu salah satu tehniknya. 

Dari situ bisa kelihatan profil aromanya apa saja, dan ternyata ratusan! *ketawa* 
Jadi ada ratusan senyawa di daun pandan, tapi aku identifikasi senyawa untuk risetku dan ada beberapa analisa instrumen lainnya. Tadi GC untuk aroma, kalau untuk analisa carotenoidnya, pewarnanya itu aku pakai instrumen lain... Ya seperti itulah *ketawa lagi*


Alat GC

Jadi tahun pertama, persiapan proposal, submit proposal, dan establish metode yang akan digunakan. Akhir tahun, bos aku minta diseminasi hasil riset sementara dari proses percobaan metode-metode tadi untuk analisanya itu. Waktu itu ke Jerman dan Sweden untuk presentasi disana. 

Jadi sempat ambil mata kuliah sampai tahun kedua, terus ada beberapa seminar yang harus dihadiri, dan professorku udah minta, "Bagaimana? Untuk kelulusan kan diminta publikasi internasional", yang harus terindeks, jurnal yang terakreditasi, bukan jurnal sembarangan, ya dicoba propose. Alhamdulillah, tahun ketiga awal, paper pertama baru keterima, karena ternyata itu butuh 6 bulan sampai 1 tahun sampai diterima oleh si jurnalnya itu. Kita mengirimkan ke editorial jurnalnya, mereka akan lihat ini layak dipublish atau tidak. Kalau tidak layak ya akan direject, "maaf, kurang cocok", dengan bahasa yang lebih halus ya. Saya dapat dua kali surat penolakan cinta dari jurnal *ketawa* oh sedih banget, kita udah riset, begadang, eh ditolak. 

Setelah proposal di approve, ke Indonesia untuk ambil sample daun pandan?
Sebelum ke Wina, waktu itu aku sempat bawa beberapa sample, tapi bukan daun pandan saja, banyak juga daun-daun lainnya, daun jeruk dan sebagainya. Pokoknya ingin promote salah satu tanaman kita lah. Masa kita jauh-jauh sekolah tidak ada yang bisa kita berikan ke Indonesia. Ya setidaknya untuk mempromosikan, mungkin kalau ada teman yang bisa membantu lebih banyak ada beberapa yang bisa aku teliti juga. Tapi sekarang daun pandan saja dulu. Akhir tahun sempat pulang ke Indonesia dan aku sempatkan lagi untuk ambil sample. Sebenarnya disini juga bisa dapat daun pandan cuman dari Thailand dan Vietnam. 

Ada pengalaman menarik selama penelitian? Suka duka?
Wah banyak ya, ini bisa jadi novel haha...
Saya merasa belajar di tingkatan Phd itu, kita harus independent ya. Ini benar-benar dinilai Anda harus indepedent, dari konsep sampai penelitian. Hubungan dengan supervisor, dia hanya sebatas kasih suggestion, beda dengan tingkatan lainnya yang masih di guide. Yang menarik lainnya selain harus bersikap lebih independent, yang pastinya harus lebih dewasa, kita juga diminta untuk tanggung jawab. Kita di lab, yang Phd cuma aku sendiri, ada beberapa teman Master dan Bachelor, jadi sharing knowledge.. menarik diskusi dengan orang-orang yang asalnya beda negara, cukup memberikan masukan ke aku.

Instrumen yg aku pakai agak mahal, jadi harus hati-hati. Kalau rusak, biaya servis mahal sekali. Waktu di Jepang, sampai 3 milyar biaya servisnya. Kita pakai alat tapi harus take care juga. Dengan metode baru (SPMI) yang aku pakai, saat itu alatnya enggak bisa adaptasi dengan baik, jadi bocor gasnya haha.. temanku sih yang pakai, tiba-tiba dia bilang ada danger activity, tapi pas aku coba enggak apa-apa, jadi memang harus take care. 

Kita juga berinteraksi dengan bahan-bahan kimia, kita harus selalu pakai glove dan coat, untuk melindungi kita. Kita membutuhkan bahan-bahan kimia untuk menganalisa senyawa-senyawa untuk memperoleh data primer. Alhamdulillah selama disini enggak ada yang major, tapi waktu di Jepang, glove ku pernah bolong dan terkena nikrogen cair, jadi kapalan, terus ke klinik. Sayangnya disini enggak ada klinik di uni jadi harus langsung ke dokter. Tapi disini safety cukup ditekankan. Kalau mau masuk lab harus tanda tangan satu kontrak, ada effect safety yang harus kita patuhi. Ada salah satu teman di Tulln, beliau pakai jilbab, diingatkan oleh salah satu kepala labnya, "Jilbab kamu jangan pakai salah satu jenis polyester ya", cepat kebakar kalau kena panas. Bagus ya strict tapi memang harus hati-hati. 

Secara singkat, hasil risetnya?
Profil aroma daun pandan, profil pewarna alami dari carotenoid, dan bagaimana aroma bisa terbentuk dari carotenoid, dengan salah satu reaksi enzimatis, dan cukup green chemi. Sekarang banyak istilah green chemistry, kimia yang lebih environmental friendly, jadi pembentukan aroma dari senyawa pigmen dengan reaksi kimia yang environment friendly itu bagaimana. 





Ada efek samping jika berlebihan mengonsumsi daun pandan? 
Sejauh ini menunjukkan banyak banget efek positifnya, bahkan kalau di Indonesia banyak banget tradisional medicine ya, yang herbal, sirsak dan lain-lain. Kalau dari salah satu penelitian lain, dia menemukan salah satu senyawa dari daun pandan, yang namanya pandanin, itu bisa berefek anti virus. Anti influenza virus, anti herpes-- bagus kan. Terus juga anti oksidan juga cukup tinggi untuk meningkatan imunitas tubuh kita. Kemarin sempat melihat bagaimana aplikasi daun pandan ke minyak yang bisa meningkatkan aktifitas anti oksidan minyak, jadi enggak cepat tengik.

  Apa rencana ke depan? Ngajar lagi?
InsyaAllah kalau bisa, langsung ngajar di Jogja, kembali lagi ke kampus biru UGM. Aku sempat ngajar 2 tahun di Jogja sebelum S3. Alhamdulillah, mudah-mudahan ilmunya bermanfaat.