/* Whatsapp css setting */ .tist{background:#35BA47; color:#fff; padding:2px 6px; border-radius:3px;} a.tist:hover{color:#fff !important;
Showing posts with label By: Evi. Show all posts
Showing posts with label By: Evi. Show all posts

Friday, 25 September 2015

clean€uro Workshop

by: Rasmi Silasari
photo: Evi Mulyani


Hi everyone! Since autumn is finally starting and the leaves are turning yellow and brown, have you managed to live green the whole summer? (sorry for all the puns, intended or not) If yes, GUT!! If not, come finish this sentence and go to the second paragraph; I'll force show you how to live greener in an easy way!

Look how cute the poster is~

So earlier this month, 5th of September to be exact, PPI Austria in corporation with the NGO 'SOL - Menschen für Solidarität, Ökologie und Lebensstil' arranged a short workshop about 'How to shop the clean€uro way' (yep, you have to write that with the €) . You know that we, human, require so many resources to satisfy our needs. We need clothing, housing, education, recreation, and the most basic of all: food!

PPIA clean€uro workshop with Vera from SOL!

Now, have you ever thought about the way you do grocery shopping? Do you plan it carefully to 5 different shops to get 5 different items at the lowest cost? Do you just buy everything that comes in bulk so you won't have to shop for another 10 years? Do you buy the ones advertised by the ethereal, beautiful-looking people with their seductive voice? Or do you simply go to the bread & cheese shelf and that's it? (I swear it's not me). Well, what I'm about to tell you might make you want to consider more what's inside your shopping bag!


Vera showing us what to look from a product

In the beginning of our 2 hours workshop, Vera our wonderful mentor told us about the goal of clean€uro, which is to reduce our ecological footprint. Basically, this ecological footprint is how the scientists measure the natural resources that a person needs every year. The common way to measure it is to measure the productive land and sea area required to fulfill the needs; since it's an area, the unit is in global hectares per person (gha/pers).

So, the person that needs to eat meat would need more hectare than the person who eat vegetables, since the cow aside from needing space to live also needing space to grow its feed. In 2007, research found that the average ecological footprint of people on Earth is 2.7 gha/pers, while the Earth can only supply 1.8 gha/pers; it means that we have 0.9 gha/pers that keeps deteriorating every year! Well everyone can argue that: 'that's such a rough calculation', or 'it's the rich countries' fault', or 'the Earth looks fine to me', or 'who cares as long as I can eat my bread & cheese' (swear again, it's not me), etc., etc... but it won't hurt to be a nice citizen of the Earth and help our lovely planet to sustain better, right? =D So let's try to reduce our ecological footprint by shopping the clean€uro way!

(source)
The steps of implementing clean€uro in your shopping routine is simple, you just have to remember these 3 points when stepping into the supermarket fully armed with shopping basket ready for the 'stock-the-fridge' mission:

1. FAIR!
Forget about buying stuffs that were made/grown/assembled by workers that aren't treated fairly! Please do look for the 'fair trade' logo on your items. This point strives for a more humane working conditions and improve social standard around the globe. And Vera made a good point on how funny it is that the 'fair trade' gets its own logo. Like, what, so the other items are allu from 'unfair trade'? HOW UNFAIR!

(source)
2. ECO!
It's time for you to visit those green bio products shelfs! (or just visit a bio supermarket, why not) Please do look for the 'bio' logo on your items. When displaying the bio logo, the product actually has made lots of ecological improvement such as less waste and less harmful substance. There are lots of bio logo in this universe as many as the stars the supermarket, but you may want to look for the 'starry leaf' one as it's published by the EU with pretty strict standards. If you make excuse that bio products are more expensive, I dare you to compare the fruits' prices! You will find that it's actually just 30-50 cents/kg higher than regular ones!

(source)
3. LOCAL!
I think it's not necessary to eat cheese shipped all the way from Italy when they produce the same cheese here in Austria, right? (and nope, I'm not talking to myself) Please do look for the 'made in ....' or something similar on your items. Actually this locality is more about the mileage, the goal is to use less resources to bring the item from the producer to your hand. So as the clean€uro website gives an example: if you live in Wien it might be better to drink milk from western Hungary that's quite close, rather than that from Tirol. So you know what you should do~ Learn your world map right!

(source)

If all these rules make you dizzy and don't have place anymore to hang in your head among the periodic table or music score or economic equations, you can simply head to the alternative. It's easier, and will save you lots of money as well ;) It's the 'cut your consumption' way!!
1. Buy nothing
2. Buy less
3. Lend and Share
4. Favor services (as in just call the plumber instead of buying new tools and other resources and do the acrobat to fix that broken pipe by yourself)
5. Use second-hand (WILLHABEN RULEZZ!!!)
6. Reconsider shopping methods
7. Inquire


The more you buy the more item to check... so let's just buy less!

Perhaps you'll wonder if these simple acts will bring any difference. Oh, don't underestimate the force of demanding buyers, my friend. Vera told us the story of how Starbucks started to sell fair trade coffee just because the consumers pressured them to do so! Imagine if this happens to McDonalds and their burgers, it must be pretty interesting~ Anyway, that's all I have for 'How to shop the clean€uro way'! Next time you're in the supermarket, please consider being a nice Earth citizen and do at least one point to at least one of the item you buy. You might think it's nothing... but since you already think so, let's do this anyway! =D Cheers!

(source)

Monday, 29 June 2015

Phd Story: Andi Abidah (Arsitektur Wina)

by Evi Mulyani

 




















"Phd Story" kali ini datang dari seorang "newbie" Phd dan "newbie" anggota PPIA asal Sulawesi yang bernama Ibu Andi Abidah. Di Wina sejak Agustus 2014, beliau sedang menenuki program Arsitektur di TU Wien. Gelar S2 didapatkannya di ITB dalam program Arsitektur Rancang Kota (Urban Design). PNS sejak 2006 hingga saat ini, beliau sempat mengajar di Universitas Makassar.

Ibu satu anak ini menyempatkan waktu untuk chit chat dengan tim PPIA. Yuk, dibaca hasil obrolan pendek kami tentang penelitiannya pada salah satu rumah tradisional Indonesia.

Tapi jangan kaget ya, ibu Andi ternyata suka ngelucu... :)

  •  Program Phd apa yang sedang diambil?  
    • Phd? Ngeri banget euy. Nama jurusannya "Faculty of Architecture and Regional Planning" di Vienna University of Technology.
  •  Bagaimana penelitiannya? 
    •  Proyek yang dijalani banyak di Indonesia. Penelitian saya kebetulan di Indonesia dengan tema "Arsitektur Bugis Tradisional House".
  • Ohya? Bisa dijelaskan lebih spefisik topik penelitiannya?
    • Ngerti banget euy pertanyaannya. Tapi risetnya tentang perbandingan rumah bangsawan dan rumah biasa. Kemudian membandingan rumah orang Bugis yang beragama Kristen dan beragama Islam. Apakah proses mendirikan rumah tersebut tetap sama atau berbeda, dan sejauh mana perubahannya rumah Bugis.
  • Apa saja tantangannya?  
    • Tantangannya banyak. Salah satunya menelusuri makna-makna filosofi yang ada pada elemen rumah.
  •  Contohnya?  
    • Contohnya orang Bugis itu memandang rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai tempat dilahirkan, dibesarkan, menikah dan meninggal. Mereka memegang filosofi sulapa eppa (segi empat) dimaknai sebagai air, udara, angin, dan api. Selain itu, tangga sebagai simbol laki-laki karena laki-laki bertanggung jawab memberi nafkah sama istrinya dan keluarganya. Sementara core pole (tiang inti) adalah simbol perempuan, yaitu wanita adalah inti dari kehidupan rumah tangga, menejemen uang dan lain-lain.
  •  Suka duka dalam menekuni program ini? 
    •  Sedikit ribet karena selama ini saya kurang paham tentang tradisional house. Sukanya, saya bisa pulang kampung riset. Dukanya tidak punya uang bulak balik survey, hehehe. Karena tidak ada biaya survey dari beasiswa, jadi harus menabung.
  •  Sejauh ini penelitiannya seperti apa?  
    • Sebelumnya saya kurang begitu tertarik dengan namanya sejarah, menelusuri sesuatu yang telah terjadi. Tetapi setelah saya mendalaminya, ternyata menarik. Saat ini saya masih mengumpulkan literatur tentang rumah bugis. 
    • Dan mengumpulkan literatur itu menurut saya sedikit susah karena harus melirik kebelakang, yang mungkin saat ini sudah tidak bisa kita temukan, karena masyarakat lebih memilih modern house.
    • Februari kemarin saya ke Leiden University Belanda untuk mencari data tentang rumah bugis. Disana banyak buku tua, bahkan lontara suku bugis ada disana, original ada disana. Diangkut pada jaman penjajahan Belanda sepertinya. Bukan hanya rempah-rempah saja ya diangkut, hehe. Dan alhamdulillah disana banyak data rumah bugis jaman bahela.
  • Apa rencana ke depan?
    • Rencana selesai 3 tahun. Ya saya berharap kelar studi 3 tahun dan bisa pulang ke Indonesia dan mengabdi disana.
  • Kegiatan selain Phd apa nih? :)
    • Hobi numpang makan di rumah Yusfan (waktu PPI) hahaha. Iya itu si Yusfan jago banget kalau masak, saya langsung teringat masakan mamaku. 
    • Jalan-jalan juga, hehe. Naik trem satu ke trem yang lain, hehe. Dan kalau dapat view yang bagus langsung singgah dan take picture
    • Saya juga hobi jalan-jalan di Mariahilferstrasse, dari ujung ke ujung, hehehe. Uangnya enggak cukup buat belanja jadi cuman tawaf doang disana, hehehe.

    Friday, 26 June 2015

    Be Active during Ramadan!

    by Syifa Nurhanifah, Evi Mulyani


    Menjalankan puasa di musim panas di Eropa tengah memang tidak mudah, selain panas menyekat juga jarak antara terbit dan terbenamnya matahari mencapai sekitar 18 jam, juga ditambah dengan godaan godaan lain dari orang-orang disekeliling kita yang mayoritas tidak berpuasa, mantap sudahlah tantangan-tantangan bagi kaum muslim yang berpuasa di bulan Ramadan ini.

    Bagi yang baru pertama kali merasakan bagaimana menjalankan ibadah puasa yang lamanya 18 jam ini pasti rasanya sulit sekali dan terkadang berpikir untuk menyerah. Ditambah lagi ketika kita merasa sendirian, sahur sendiri.. buka puasa sendiri. Sediih rasanya tuh (maklum di Salzburg kan ngga ada wapena)

    Tapi seiring berjalannya waktu perasaan sedih itu kian sirna, ketika saya mulai mengenal beberapa teman-teman muslim di tempat kuliah, tepatnya teman-teman muslim dari MJÖ (Muslimische Jugend Österreich).  Pada awalnya waktu itu saya diundang Iftar bareng mereka, kemudian juga diundang di acara-acara lain seperti kajian ramadan dan yang terakhir di undang untuk ikut dalam Projekt mereka ”Ramadan, Teilen ohne Grenze” atau kalo dalam bahasa Indonesia ”Ramadhan, berbagi tanpa batas”. Sebuah Projekt yang bertujuan untuk memperkuat kesadaran sosial, solidaritas dan keterlibatan partisipatif anak-anak dan remaja muslim di Austria terhadap masyarakat, terutama terhadap mesyarakat yang membutuhkan.

    Melalui Projekt yang biasa disebut dengan FTH (Fasten, Teilen Helfen) ini  kaum muda muslim di Austria memiliki peluang untuk saling membantu dan saling berbagi selama menjalankan puasa dan bersama sama beribadah kepada YME. Dari yang biasanya diam di rumah sendirian menunggu waktu buka puasa, menjadi keluar rumah aktif dalam kegiatan sosial seperti bakti sosial membersihkan kuburan muslim, mengunjungi panti-panti jompo, panti asuhan, dan juga masyarakat pengungsi (Refugee) untuk memasak dan sekedar meluangkan waktu bersama mereka.


    Belajar mengenal Ramadhan dari segi sosial dan segi spiritual yang berbeda adalah hal yang ingin di capai MJÖ dalam projekt ini. Pertama kali saya mengikuti Projekt ini adalah tahun 2013 di Lebenshilfe Salzburg, rumah panti jompo dan orang-orang cacat. Disana kami dari MJÖ bersama orang-orang yang tinggal di panti ini bersama-sama memasak apple cake. 

    Bagi saya pribadi pengalaman memasak bareng orang-orang di panti ini merupakan pengalaman yang luar biasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Berinteraksi bersama orang-orang yang memiliki “cara berkomunikasi yang berbeda” ini membuat hati saya luluh, apa lagi melihat senyum lebar dan garis tawa dalam wajah mereka. Hal ini bukan saja membuat saya sendiri bahagia, namun insha Allah juga bagi mereka penghuni panti.



    Berangkat dari pegalaman pertama, saya memiliki semangat untuk tetap mengikuti Projekt ini di setiap tahunnya, dan Alhamdulillah saya diberikan kesempatan lagi untuk mngikuti Projekt ini di Wina tahun 2015 ini. Dan alangkah lebih senangnya lagi kali ini saya ditemani oleh teman sesama suku- Evi Mulyani (Danke Evi, fürs Mitmachen!). 

    Bertepatan dengan “Weltflüchtlingstag” tgl 20 Juni lalu, kami tim dari FTH mengajak anak-anak dari keluarga pengungsi untuk berekreasi ke Cobenzl tepatnya ke Kinderbauernhof untuk mengunjungi hewan-hewan ternak dan mengenal lebih dekat bagaimana kehidupan mereka disana. Ada 20 anak yang ikut dalam rekreasi ini dan berumur mulai dari 3 sampai 14 tahun. Anak-anak yang mungkin sangat jarang sekali atau bahkan tidak memiliki kesempatan bisa berekreasi ini terlihat sangat bahagia ketika mereka kami jemput dari rumah penampungan dan bersorak sorai “Ich bin dabei” Ich bin dabei!!”. Kebahagiaan itu amat lagi bisa terlihat ketika mereka berlarian mengejar kelinci-kelinci dan kucing, memberikan kambing dan domba makanan serta melihat kehidupan keluarga ayam dan itik-itiknya.

    “Anak-anak memang melelahkan untuk di awasi, namun kelelahan itu sirna ketika kita menyaksikan anak-anak itu tersenyum lebar karena bangga telah memberikan kambing makan. Tak perlu lah kita mengeluarkan banyak uang untuk bersedekah, apalagi kita yang masih sulit ini, namun cukup senyuman dan menghadiahkan waktu kita untuk mereka  insha Allah jg termasuk sedekah.” Evi.


    Tak terasa waktu terus berjalan. 5 jam lebih kami menghabiskan wktu bersama anak-anak ini. Tapi selama 5 jam tersebut tak sekalipun lapar dan dahaga  kami rasakan. Yang terasa adalah perasaan Fit dan Energik bersama anak-anak ini. Pulang-pulang langsung saaatnya mempersiapkan buka puasa.

    Inilah manfaat yang besar dari aktifitas ini di bulan Ramadhan. 18 jam itu terasa akan sangat cepat berlalu jika kita mengisinya dengan berbagai aktifitas yang membuat kita lupa akan “perut kosong” kita, dan Insha Allah, Allah meridhai segala aktifitas yang bisa memberikan manfaat positif kepada yang lain.

    Untuk yang ingin bergabung dalam Projekt FTH ini, silahkan untuk mendaftarkan diri di link berikut: http://ramadan-helfen.at

    Wednesday, 22 April 2015

    An Apple Cake a Day Keeps the Doctor Away!



    By Evi Mulyani

    Saya bukan penggemar apel, tetapi sebenarnya banyak manfaat yang terkandung dalam buah ini. Berdasarkan penelitian yang pernah saya dengar, mengonsumsi apel bisa mengurangi risiko kanker usus besar, kanker prostat, dan kanker paru-paru. Betul tidak, teman-teman?

    Karena saya suka membuat kue dan kebetulan kali ini saya punya banyak stok apel. Maklum, kalau sudah banyak tugas yang harus dikerjakan dan tidak ada waktu untuk memasak apapun, membuat kue apel sangat praktis dan bisa menjanggal perut yang keroncongan.

    Karena perut saya sudah "bernyanyi", saya akhirnya mencari resep kue apel dengan campuran crumble atau dalam bahasa Jerman "Apfelkuchen mit Streusel" atau "Apple Pie with Crumble Mixture".

    Sangat mudah dan tidak terlalu memakan waktu lama. So, langsung aja yuk baca pengalamanku.

    Bahan-bahan yang di butuhkan adalah:

    300 gr Terigu

    200 gr Butter atau Margarine

    100 gr Gula Pasir

    1 butir Telur


    Bahan isi:

    6 Apel (kalau bisa yang agak asam)

    1 Pack Vanillapuding

    Sedikit Butter

    Sedikit susu

    Jeruk nipis

    Sedikit Gula


    Untuk Bahan campuran crumble:

    200 gr Margarine atau Butter

    275 gr Terigu

    125 gr Gula halus

    Sedikit garam


    Cara membuat:

    - Pertama-tama, masukan butter kedalam mixer, setelah butter tercampur dengan rata, kita masukan satu butir telur.

    - Kemudian campur adonan butter dan telur tadi dengan gula pasir. Terigu yang disaring kita campur dengan adonan. Setelah tekstur bahan terlihat crumble, kita bisa membentuknya seperti bola, dan bahan bola tadi kita masukan ke dalam lemari es selama 15 menit.

    Sambil menunggu bahan bola tadi... kita olah bahan-bahan isi:
    - Kupas apel dan potong dadu besar. Kemudian masak butter kedalam panci, dan setelah butter agak melumer masukan potongan apel.

    - Masukan air perasan jeruk nipis ke dalam panci yang berisi apel tadi. Kita tunggu selama 3 menit.

    - Selama menunggu, kita bisa mengolah bahan yang berbentuk bola tadi, dengan penggilas adonan, kita gilas bahan bola tadi. Setelah terlihat merata bahannya, kita bisa mengukur bahan tadi dengan bentuk loyang yang kemudian akan diisi dengan bahan isi.

    - Kita bisa taruh loyang di atas bahan yang sudah digilas tadi, dan potong sesuai dengan bentuk loyang. Setelah terbentuk, kita masukan bahan itu kedalam loyang yang sudah dilumuri butter dan terigu. Sisa dari bahan tadi bisa kalian taruh di dinding-dinding loyang.

    Untuk menyiapkan puding yang juga kita campur ke dalam panci yang berisi apel tadi, caranya kita campur 1 bungkus Vanilapuding itu kedalam mangkuk yang sudah berisi susu, aduk rata. Setelah  rata, kita masukan ke dalam panci yang berisi apel tadi. Jangan lupa untuk aduk perlahan dan teratur.

    Setelah bahan isi selesai, kita masukan bahan isi kedalam loyang dengan merata.

    Jangan lupa untuk membuat crumble mixture nya. Dengan butter atau margarine yang sudah lumer dimasak, kemudian masukkan dan mix semua bahan-bahan crumble mixture yang sudah disebutkan (di atas). Kemudian taburkan hasil crumble mixture tadi di atas loyang yang sudah berisi apel. Masukkan kedalam oven dengan suhu panas sedang selama 30 menit.

    Setelah Apfelkuchen tadi selesai, kita diamkan dan dinginkan. Sebaiknya diamkan bermalaman dan sajikan besoknya. Dikarenakan puding yang masih lumayan mencair setelah di oven.

    Sooooo selamat mencoba ya ;-) gutes gelingen!!!






    Tuesday, 24 March 2015

    Phd Story: Idhamsyah Eka Putra (Linz)

    by Evi Mulyani



    Idhamsyah Eka Putra lulus dari Program S3 Humanities and Cultural Sciences dari Johannes Kepler University of Linz pada 11 Februari 2015.

    Rekan kita yang mendapat gelar Dr Phil ini berencana untuk mengembangkan term yang ia perkenalkan, yaitu 'meta-prejudice'.

    *Googling term 'meta-prejudice'*

    "Meta-prejudice adalah bagaimana saya sebagai bagian dari kelompok, memandang orang lain (anggota kelompok) berpikir (dengan cara negatif) terhadap orang lain," ia menjelaskan secara singkat.

    Ia lulus 2,5 tahun dengan hasil "distinction". Penelitiannya dilakukan di wilayah Indonesia bagian Barat (Jawa) dan Timur (Flores), dengan data dari kelompok (Sunni) Muslim, Kristen (Katolik dan Protestan), dan Ahmadiyah, dengan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif (5 studi lapangan).

    Terdengar sangat menantang, bukan? :)

    Menurut Dr. Phil Idhamsyah, tantangan besar yang ia hadapi selama pembuatan disertasi adalah professornya.

    "Banyak tuntutan dari professor, (untuk) keluar dari bingkai teori yang ada, dan mencoba memahami dengan tidak terkotakkan oleh suatu teori."

    Pastinya selama menjalani S3 ada rasa suka dan dukanya, salah satunya adalah professornya yang benar-benar ahli di bidang yang Idhamsyah kembangkan.

    "Dukanya, pembimbing saya memiliki standar kualifikasi yang  sangat tinggi, sehingga untuk mencapai standar yang beliau inginkan rasanya seperti harus teriak di puncak gunung 100 kali."

    Weww, bisa dibayangkan...

    Selama di Linz, ia juga membantu beberapa penelitian yang dilakukan oleh beberapa staf akademik di JKU. Ia juga pernah terlibat sebagai pengurus PPIA 2012.

    Harapan kita semua dari PPIA kepada Dr.Phil Idhamsyah, semoga sukses selalu dan ilmunya bisa dikembangkan di tanah air. Sukses!

    Wednesday, 25 February 2015

    Selamat kepada Atlet Badminton Indonesia!





    by Evi Mulyani

    Sabtu, 21 Februari 2015, saya dan rekan saya Rafika (dan tentunya para supporters Indonesia) menyaksikan hebatnya olahragawan tanah air kita yang berhasil mendapatkan kemenangan di beberapa kategori di ajang Badminton Austrian Open 2015, di Wiener Stadthalle B, Wina.





    Bak gladiator di arena pertandingan, para olahragawan kita ini memukau banyak perhatian penonton. Walaupun terlihat manis dan kecil, mereka sangat lincah dan smash-nya sangat bikin kagum!

    Pukul 16.30, acara ini dibuka oleh pertandingan Woman Single dengan pemain dari Hongkong (Cheung Ngan Yi) dengan lawannya dari Bulgaria (Linda Zetchiri), yang dimenangi oleh pemain dari Bulgaria. Kemudian dilanjutkan dengan pertandingan final Ganda Campuran dimana kedua tim berasal dari Indonesia: Edi Subaktiar - Gloria Emanuelle Widjaja yang mengalahkan Ronald Alexander - Melati Daeva Oktaviani, dengan score 21-18.


    Dilanjutkan dengan pertandingan final Ganda Putri, yang cukup mengacu adrenalin para penonton dari tanah air kita, karena olahragawati kita melawan rifalnya yg berasal dari Inggris. Supporters Indonesia semangat memberikan dukungan , dan pasangan Suci Rizky Andini dan Maretha Dea Giovani bisa memenangkan pertandingan ini dengan  score 21-14 dan 23-21.




















    Gak kalah menariknya adalah pertandingan Ganda Putra yg juga berasal Indonesia, Fajar Alfian dan  Muhammad Ardianto yang melawan pasangan Inggris Peter Briggs dan  Wolfenden. Untuk kategori ini pun, Indonesia juga berhasil menang dengan skor 23-21, 18-21 dan 21-19.



    Walaupun pertandingan berlangsung pada malam hari, tidak menghapus semangat para olahragawan dan olahragawati kita. Dan tidak sia-sia, mereka pun berhasil menggendong kemenangan. Tidak juga menutup semangat para supporter kita yang sangat membara meneriakkan "Indonesiaaaaaaa!“ Sungguh kita sangat banggga melihat prestasi para olahragawan kita ini.

    Sekali lagi, selamat kepada para pemenang dan semoga akan terus membawa kebanggaan dan membawa nama harum tanah air kita.











    Tuesday, 10 February 2015

    Terpukau oleh "Konser Senandung"


     by Syifa Nurhanifah dan Evi Mulyani

    Minggu, 8 Februari 2015, kali lah pertama mahasiswa musik klasik Indonesia mengadakan konser di Vienna. Konser yang bertemakan Senandung ini telah berhasil memikat para hadirin yang jumlahnya hampir 100 orang. Wow, betapa tidak memikat, suara Sopran dua cewek cantik yang sedang study di Vienna Conservatory of Music (Meta dan Indah) ini bertambah memukau seiring dengan dentingan piano yang dimainkan oleh pianist-pianist muda yang sangat piawai memainkan jari-jarinya di atas piano. 

    Yup! merekalah Terra, Paulina dan Eudia Lina - Indonesian pianist students yang mengawali bermain piano sejak umur 3, 8 dan 9 tahun. Tak bisa dibayangkan kan, betapa mahir dan piawainya mereka pada saat ini.

    Konser yang berlangsung selama 1,5 Jam ini menampilkan karya-karya dari komponist Eropa dan Indonesia seperti J.S. Bach, J. Haydn, G.F. Handel, A. Skrjabin, F. Chopin, M. Reger, M. Embut, Y. Djamin, F.X. Soetopo dan A. Sukarlan. Tak ketinggalan St. Francis of Assisi Church, gereja yang terletak di kawasan Bezirk 2 Leopoldstadt ini telah menjadi tempat bersejarah bagi kesuksesan konser pertama mahasiswa musik klasik Indonesia.
    Tujuan utama diadakannya konser ini adalah untuk memperkenalkan bakat dari pelajar musik klasik Indonesia di Vienna, karena dalam kurun waktu 3 tahun ini ternyata jumlah pelajar musik klasik dari Indonesia di Austria kian bertambah. Hal ini pun kemudian diapresiasi oleh Romo Yohanes Monteiro dari KKIA (Keluarga Kristen Indonesia Austria) yang kemudian menggagas dan mengorganisir konser ini.

    Ditanya tentang persiapan, kawan-kawan kita ini memulai perencanaan tentang waktu dan durasi konser semenjak Oktober 2014. Sedangkan latihan bersama (antara penyanyi dan pianist) dimulai pada bulan Januari 2015. Secara pribadi kawan-kawan kita ini merasa sangat senang sekali setelah konser, karena mereka tak menyangka bahwa publikum yang hadir begitu banyak dan support yang diberikan oleh warga KKIA pun begitu sangat besar pada mereka.
    Kami dari Perhimpunan Pemuda dan Pelajar Indonesia di Austria sangat bangga terhadap prestasi kawan-kawan kita ini di kancah musik klasik. Semoga konser ini mengawali kesuksesan konser-konser selanjutnya. Hut ab! ;-)