/* Whatsapp css setting */ .tist{background:#35BA47; color:#fff; padding:2px 6px; border-radius:3px;} a.tist:hover{color:#fff !important;

Saturday, 18 April 2015

Book Review: Smart Woman Finish Rich by David Bach



by Arlavinda Rezqita
 
"Latte Factor"

Are you the type of girl who likes to stop by in a coffee house for morning coffee before going to university or work because you are too extremely busy?

If you are, I urge you to think about it. You and most people need morning coffee, otherwise you would probably look “not 100% fine” a whole day. However, do you really need to buy it from the coffee house every single morning, instead of preparing by yourself at home or at office which is even free?

A cup of espresso, cappucino, coffee latte, name it… let's say costs 3 EUR. 3 EUR doesn't seem much, right? But if you sum it up, it will cost you 90 EUR/month and 1080 EUR/year! Oh maan, you can buy a ticket to… Machu Picchu! or taking 6 months trip in our beloved country from Sabang sampai Merauke! Or spending it for something more “important” for you.


What I am trying to say is that most people like spending their money without noticing it. That's called Latte Factor. I learned by heart from the book Smart Women Finish Rich, written by David Bach.

The motivation behind purchasing this secondhand book from Housing Works Bookstore Cafe was that I had almost zero knowledge about finance. Don't get me wrong. My parents of course told me some core financial lessons, like "don't spend more than you earn, don't buy anything you can't afford" kind of stuff,  which are mostly what other parents said to their kids.

Now, the question… is the book worthwhile to read? Especially for women. Let’s figure out. The book starts with a brief introduction about why individuals should get the basic of personal finance. It doesn’t matter if you are a student, a working woman or a home-stay Mom.

Because anyway, as a woman, we should be able to manage our money or family money later on. Afterwards, Bach wrote several steps for achieving the financial security. In my opinion, not all of them can be easily applied to every individuals. However, here I list some fundamental and easily applied points. Based on my experience, small steps yet sustainable are more likely to stick, compared to a big and crazy idea.

Ok, so here we go. First, put your money where your values are. Value means what is important to you? It’s different for each individual for sure. Make a list. For e.g : family,  independence, education, security, freedom, confidence, charity, etc. Still too abstract? No problem.

Then now, you can define your goals which are in line with your values. Define specifically what your goals are, as specific as possible until they are measurable. For e.g: I would like to travel the world – where exactly? South Africa? China? Bali? and how long? Or I would like to buy a house – ok, which house? How much does it cost approximately? Or… errr, I would like to get married. Like when? (of course after you know whom you’re going to marry!). LOL.

Second, figure out where you stand and where you want to go. Get started now by being organized financially. You don’t need to make a complete financial plan for the rest of your life. That’s way too much. I mean if you have a debt, pay now! Basic rule is pay yourself first. Then you can save up for something else. You can make a plan for 6 months, a year, 3 years, as you want.

Third, use the power of Latte Factor. I make it more clear now. Latter factor is not only about a cup of coffee, but also any few small pieces which you can trim from your daily life and then you can save a huge amount of money overtime. So from now on, every time you want to go for impulsive shopping, ask yourself before going to cashier: “do you really need this stuff?”

The book goes on into more details about investment, retirement, etc. So if you are interested to be financially independent, reading this book is worthwhile. I would say, this book is not only aimed to women, but also for men. Now let me ask you, can you recall a person you know who seems to get whatever she/he wants? I mean someone around you. So, people like Prince Harry or Bill Gate doesn’t take into a count in this case.

Basically two things they have in common to realize their dreams: (1) They IDENTIFY specifically what their dreams are. (2) They create a PLAN to finance them. That may sound pretty obvious, but you know what? Most people never do it.

One question leaves, What's your Latte Factor?


Tuesday, 24 March 2015

What We Learned from the Movie Night (March 2015)



by Yusfan Adeputra


Malam Minggu malam yang panjangMalam yang asyik buat pacaran...

Sepenggal lagu Jamal Mirdad ini kayaknya ga berlaku deh buat kita-kita yang malam Minggu kemaren (21/3) menghabiskan waktu dengan komunitas MoViennachters.

Ini merupakan salah satu program PPI tahun ini sebagai ajang hiburan sekaligus kumpul-kenal (silaturahim) antar pelajar-pemuda seantero Austria. Harapannya juga dari konten yang diputar, bisa kita petik pelajaran di dalamnya.

Nah, yang kemarin itu acaranya diadakan mulai jam 4 sore sampai 8 malam di Ruang Nusantara KBRI dengan mengundang elemen pemuda dan pelajar seantero Austria. Film yang diputar sebenarnya adalah Whiplash. Nah menariknya, saat projector and sound testing, panitia muterin film Penguins of Madagascar. Eh, malah penonton yang hadir berseru 'diterusin aja filmnya' karena kelucuan penguin-penguin itu ternyata menghadirkan canda tawa penonton. Walhasil, Film Penguins pun diputar hingga selesai jam 6 pm.



Saat break, panitia sedikit menghaturkan sepatah kata tentang acara sekaligus menjadi ajang perkenalan bagi penonton yang hadir. Kemudian acara pun dilanjutkan dengan pemutaran film inti yaitu Whiplash. Tak dinyana, saat pemutaran film berlangsung semakin banyak penonton yang datang turut meramaikan.


Film Whiplash sendiri dipilih karena terdapat beberapa pesan moral bagi kita utamanya untuk terus bekerja keras demi menggapai cita-cita. Seperti katanya opa Collin Powell, 'A dream doesn't become reality through magic, it takes sweat, determination and hard work'.


Nah kawan, tunggu kabar pemutaran film berikutnya ya. Pastinya akan lebih seru. Kami tunggu...

Kunjungan ketua Mahkamah Konstitusi ke Wina

by Yusfan Adeputra


 
Senin malam (23/3), dinginnya Wina dihangatkan dengan acara diskusi dengan Ketua Mahkamah Konstitusi RI, Prof. Dr. Arief Hidayat, SH, MS. Diskusi ini sendiri diadakan di Kedutaan Besar Republik Indonesia dengan mengundang beberapa perwakilan WNI di Austria.

Tampak hadir yaitu dari WNI yang bekerja di UN, IAEA, OFID, perwakilan komunitas warga seperti dari Wapena, KKIA dan tentunya PPI Austria. Acara ini diawali dengan ramah tamah dan makan malam bersama dan dibuka oleh Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia, Bapak Rahmat Budiman.

Dalam sambutannya, Prof. Arief menjelaskan kunjungannya kali ini didampingi Sekjen MK dan beberapa staf adalah untuk menjajaki kerjasama dengan MK Austria. Kerjasama ini didasarkan pada beberapa kesamaan sistem hukum yang sama antara Indonesia dan Austria. Harapannya dengan kerjasama ini penguatan hukum di internal maupun eksternal masing-masing negara bisa semakin kuat.



Kesempatan ini pula dimanfaatkan bagi para undangan yang hadir untuk berdiskusi lebih dekat dengan Ketua MK yang baru terpilih secara aklamasi ini. Beberapa isu utamanya yang berkaitan dengan usaha penegakan hukum ditanyakan audiens.

Isu yang berkaitan dengan pra peradilan yang sedang top hit, isu penyerapan modal luar negeri, sampai pada menurunnya optimisme pemuda pada penegakan hukum di Indoensia berusaha dijelaskan dengan gamblang oleh Guru Besar yang juga mantan dekan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro ini.



Sebenanya masih banyak pertanyaan yang ingin diajukan oleh audiens namun karena terkendala waktu yang semakin larut maka acara ditutup oleh Bapak Dubes dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

(sumber foto: KBRI Wina)

Phd Story: Idhamsyah Eka Putra (Linz)

by Evi Mulyani



Idhamsyah Eka Putra lulus dari Program S3 Humanities and Cultural Sciences dari Johannes Kepler University of Linz pada 11 Februari 2015.

Rekan kita yang mendapat gelar Dr Phil ini berencana untuk mengembangkan term yang ia perkenalkan, yaitu 'meta-prejudice'.

*Googling term 'meta-prejudice'*

"Meta-prejudice adalah bagaimana saya sebagai bagian dari kelompok, memandang orang lain (anggota kelompok) berpikir (dengan cara negatif) terhadap orang lain," ia menjelaskan secara singkat.

Ia lulus 2,5 tahun dengan hasil "distinction". Penelitiannya dilakukan di wilayah Indonesia bagian Barat (Jawa) dan Timur (Flores), dengan data dari kelompok (Sunni) Muslim, Kristen (Katolik dan Protestan), dan Ahmadiyah, dengan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif (5 studi lapangan).

Terdengar sangat menantang, bukan? :)

Menurut Dr. Phil Idhamsyah, tantangan besar yang ia hadapi selama pembuatan disertasi adalah professornya.

"Banyak tuntutan dari professor, (untuk) keluar dari bingkai teori yang ada, dan mencoba memahami dengan tidak terkotakkan oleh suatu teori."

Pastinya selama menjalani S3 ada rasa suka dan dukanya, salah satunya adalah professornya yang benar-benar ahli di bidang yang Idhamsyah kembangkan.

"Dukanya, pembimbing saya memiliki standar kualifikasi yang  sangat tinggi, sehingga untuk mencapai standar yang beliau inginkan rasanya seperti harus teriak di puncak gunung 100 kali."

Weww, bisa dibayangkan...

Selama di Linz, ia juga membantu beberapa penelitian yang dilakukan oleh beberapa staf akademik di JKU. Ia juga pernah terlibat sebagai pengurus PPIA 2012.

Harapan kita semua dari PPIA kepada Dr.Phil Idhamsyah, semoga sukses selalu dan ilmunya bisa dikembangkan di tanah air. Sukses!

Reminder: Earth Hour 2015 (Saturday, 28 March)


 by Rafika Nurulhuda
 This is not only to remind you, but this is mainly as a self-reminder that I would like to share with you all.
I am sure we all have heard about Earth Hour that is celebrated each year on 28th March starting from 8.30 PM to 9.30 PM local time. What do we exactly do at that moment and what is the importance?
It is basically one of the ways to combat global warming. You can participate by simply shutting of lights for an hour. And this simple act actually brings positive impacts. There are some facts about how much energy is conserved just from the one hour time period.
It saves electricity cost, too ;)
I would like to remind myself that, Earth Hour should not only be done every year, but it should be put into my awareness and put into my action for the upcoming days. 
I think we all agree that Valentine shouldn't be celebrated only in February, but showing love to your loved ones should be done everyday, right? 
I think participating in Earth Hour shows our love for Earth, and it should be shown daily.
So cross your heart. Promise me you'll turn off the lights for one hour this Saturday. :)

Kata Sambutan dari Wakil Ketua PPI Austria 2015

Dear Kawan PPI Austria,

Spring is in the air…
Tak terasa hari berganti hari udah Maret aja nih.

Kata ‘Sustainable’ telah menjadi semacam tren hidup teratas saat ini. Isu-isu seputar sustainable pun menjadi tagline di setiap peri kehidupan. Mulai dari gaya hidup, kendaraan, bangunan, sampai ke bungkus makanan. 

Nah, menyadari pentingnya hidup sehat sekaligus menjaga lingkungan, PPI news ke depannya mencoba mengangkat beberapa tema tentang hidup berkelanjutan. Semoga tema ini bisa menambah semangat kita untuk turut menjaga alam lingkungan demi generasi mendatang.

Kami mengundang pula kawan PPI seantero Austria untuk memberikan sumbangsih ide dan saran utamanya tentang kegiatan riil yang bisa kita lakukan kaitannya dengan ‘sustainability’. Tidak hanya bertujuan untuk menjaga lingkungan, namun bisa menjadi ajang saling kenal dan silaturahim bagi kita semua.

Tak lupa pula kami ucapkan selamat datang bagi para cendekia ilmu baru di Austria. Semoga semangat yang dibawa saat ini tetap demikian adanya hingga akhir studi nanti. Bak semangat musim semi, pucuk muda dedaunan mulai bermunculan menyambut hangat mentari. Begitu pula harapan kita di masa mendatang. Harapan bahwa lebih banyak lagi tunas bangsa menimba ilmu ke Austria.

Salam nusantara

Berburu Bärlauch

by Syifa Nurhanifah

I like the flowers, I like the daffodils,
I like the mountains, I like the rolling hills.
I like the fireplace, when the light is low.
Dum, di da, di dum, di da, di dum, di da, di dum, di da, di

Yeaaah spring is coming!! :D let’s sing this song once more..!

I like the flowers, I like the daffodils,
I like the mountains, I like the green hills.
I like the fire stone, I like to walk alone.
Dum, di da, di dum, di da, di dum, di da, di dum, di da, di

Oho..!! ;-)

Siapa sih yang ngga sumringah dengan kehadiran kehangatan matahari dan warna warni bunga-bunga musim semi?

Daffodils, crocus, tulip dan juga snowdrops mulai bermekaran di mana-mana. Apalagi jika kita lewat taman-taman kota, wuaaah keinginan untuk selfie dengan bunga-bunga inipun kian menggelora.. ;)

Eiitsss tak disangka tak menyangka bahwa selain bunga-bunga spring ini tumbuh pula satu jenis tanaman liar yang memiliki rasa lezat jika di makan dan bisa dijadikan rempah atau bumbu dapur serta bisa mengobati penyakit.

WOW… jenis tumbuhan apakah ini?

Dialah Allium ursinum. Orang disini menyebutnya Bärlauch yang berarti "bawang beruang" dan kayaknya masih sepupu sama bawang bombay deh ;)
atau dalam bahasa Inggris tanaman ini lebih dikenal dengan wild garlic.



Tumbuhan ini adalah sejenis bawang-bawangan gitu, TAPI lebih uniknya, tumbuhan ini tidak berbentuk seperti bawang, namun berbentuk DAUN.

Yup, itulah kedahsyatan Bärlauch ini. Jika dimakan, tumbuhan ini memiliki rasa khas yang mirip sekali dengan bawang putih, namun dengan wujud yang sangat berbeda dengan bawang putih.

Bagaimana sih penampakkan tumbuhan ini, yuk kita perhatikan gambar di bawah ini:




Menurut Wikipedia, Bärlauch adalah memang sejenis tumbuhan bawang-bawangan yang berkerabat dengan bawang bombay, bawang putih, bawang merah, lokio dan kucai. Namun tempat tumbuh dan berkembang biak tumbuhan ini sangat berbeda dengan kerabatnya yang lain. 

Bärlauch ini tumbuh secara liar di hutan, kebun atau di pinggiran sungai dan daerah lain yang berudara lembab. Hebatnya lagi, bärlauch tidak bisa dipindah tempatkan, apalagi jika kita tanam di pot di rumah. Kesempatan untuk bertahan hidup di pot hanya 30%.

Namun sayangnya Bärlauch hanya tumbuh di Eropa saja dan sebagian kecil di negara-negara Asia yang memiliki 4 musim.



Tumbuhan ini mulai tumbuh biasanya di Awal bulan Maret tiap tahunnya. Penampakkanya bisa dikatakan pertanda bahwa musim semi akan segera atau sudah datang. Yang spesial dari Bärlauch ini tentu saja bukan hanya dari keunikan-keunikannya saja, namun dari manfaat tumbuhan ini bagi kesehatan jasmani.

Orang Eropa biasa menggunakan tumbuhan ini sebagai jamu tradisional mengobati penyakit Arteriosklerose (penyempitan pembuluh nadi), mengobati maag, mengurangi tekanan darah tinggi dan juga bisa mengobati cacingan http://www.heilkraeuter.de/lexikon/baerlauch.htm.

Kehadiran Bärlauch ini tentu saja sangat dinanti nantikan bagi mereka yang hobby masak dan experiment di dapur, khususnya bagi mereka yang vegetarian dan vegan. Jika kita tanya Google tentang resep maakanan yang menggunakan Bärlauch, kita akan temukan berbagai macam jenis makanan yang beragam.

Saya sendiri paling suka menyulap Bärlauch menjadi Pesto dan Dip. Walaupun bukan vegetarian atau vegan, namun sensasi rasa yang begitu khas dari Bärlauch ini yang membuat saya tergila-gila dan punya semangat juang tinggi untuk memburunya di awal musim semi ;-)

Karena eh karena.. Bärlauch yang baru tumbuh di awal musim semi (atau di akhir winter) memiliki rasa dan aroma yang lebih kuat dibandingkan dengan Bärlauch yang sudah lama tumbuh dan berbunga – yang notabene rasa dan aroma sudah berkurang.

Hal yang paling spesial dari Bärlauch ini adalah rasanya yang sangat mirip dengan Bawang putih. Alhasil dalam hal memasak pun kita bisa menggunakan bärlauch untuk menggantikan bawang putih. Jadi entah masak apapun itu yang berbumbu bawang putih, kita bisa menggantikannya dengan Bärlauch ini. Bagi Students ini mungkin jadi hal yang positiv, karena kita bisa menghemat uang belanja di dapur. Kalo ada yang gratisan, kenapa mesti beli toh? ;)



Yup.. Bärlauch bisa kita dapatkan secara cuma-cuma dan bisa kita panen sebanyak mungkin yang kita mau. Tapi tentu saja di hutan hutan umum dan bukan hutan kawasan lindung yaa..

Di Salzburg markas besar Bärlauch sendiri berada di Glasenbachklamm, dan di Fürstenbrünner Allee (tempat tersembunyi dan sunyi pokoknya). Di Wina sendiri secara takjub saya menemukan markasnya di Pötzleinsdorfer Schlosspark disana terhampar ribuan tunas Bärlauch yang bisa kita panen secara gratis.

ACHTUNG! 

Bagi yang ingin berburu Bärlauch harus dan mesti mengenal dalam-dalam bentuk tumbuhan ini. Karena ada beberapa tumbuhan liar lain yang mirip dengan Bärlauch, namun beracun! Dialah Maiglöckchen (Lilly of the Valley) dan Herbstzeitlose (Meadow saffrons).

Sekilas tiga tumbuhan ini sangat mirip, namun ada beberapa perbedaan yang bisa kita lihat jika di amati secara teliti:



  • Bärlauch tumbuh di awal musim semi (awal maret sampai akhir April dan berbunga sampai akhir Juli) sedangkan Maiglöckchen tumbuh di awal bulan Mei, dan Herbstzeitlose tumbuh sekitar awal oktober.
  • Bärlauch memiliki aroma seperti Bawang putih, sedangkan dua tanaman yang lainnya tidak memiliki aroma apa-apa
  • Daun Bärlauch tumbuh secara single dan terpisah dari daun-daun lainnya walupun satu umbi, sedangkan dua tumbuhan lainnya, daunnya berkelompok mengikuti umbi.
  • Bentuk bunga yang sangat berbeda (lihat gambar)


Bunga Bärlauch

Bunga Maiglöckchen

Kalau sudah pintar dalam membedakan ketiga macam tumbuhan liar ini, yuk kita panen deh si unik Bärlauch ini. Bagi yang mau berexperiment di dapur, boleh di coba resep-resep di website ini: http://www.ichkoche.at/baerlauch-rezepte

Saya sendiri telah mencoba resep Bärlauch Cordon Bleu, Bärlauchsuppe, Bärlauchspesto und Bärlauch Aufstrich, rasanya mmmmm….. karena saking lezatnya dan keburu laperrr saya tidak sempat memotret hasil experiment ini ;-)

Buat yang lain, selamat mencoba!