/* Whatsapp css setting */ .tist{background:#35BA47; color:#fff; padding:2px 6px; border-radius:3px;} a.tist:hover{color:#fff !important;

Monday, 23 March 2015

How To Make Kärntner Kasnudel


 Kärntner Kasnudel
(Kuliner spesial khas Kärnten)


 by Sri Yuliyanti
   

    Kärnten yang merupakan  salah satu kota di Austria ini, mempunyai daya tarik  tersendiri. Selain keindahann alamnya yang memukau, makanan khas nya pun tidak diragukan lagi kelezatannya.
  Berawal dari perkenalan saya bersama Johanna. Wanita kelahiran Kärnten yang sedang study Olahraga dan Bahasa Prancisnya di Universitas Graz, yang sangat gemar sekali memasak dan ia ingin berbagi rahasia kelezatan dari Kärntner Kasnudel kepada kita semua. Penasaran, Apa dan bagaimana cara membuatnya?
   Kärntner Kasnudel adalah salah satu makanan khas dari Kärnten, berbahan dasar terigu yang diolah menjadi noodle dan kemudian di bentuk menjadi bulatan pipih lalu diisi dengan Toping ( Sesuai selera). Kebayang enaknya bukan! Ada bocoran sedikit nih, katanya toping yang banyak digemari dan banyak dijumapi di restoran atau supermarket yaitu Kärntner Kasnudel dengan toping kentang dan bröseltopfen (Quark/ keju).


Bahan: Untuk 4 Porsi
·      300 g Terigu (halus)
·      2 telur ayam
·      1 sendok Teh garam (untuk adonan Noodel)
·      200 g Kentang (bertepung)
·      250 g Bröseltopfen
·      1 sendok makan daun Minz
·      Petersilie secukupnya
·      Majoran secukupnya (berupa rempah- rempah)
·      Garam
·      Merica
·      100 g Butter/ Mentega (untuk souce)
·      Tepung supaya tidak lengket saat pembuatan.




Cara pertama : Rebus Kentang kira- kira sampai 25 menit, kemudian angkat dan dinginkan. Setelah itu parut kentang atau bisa menggunakan alat Pres.


Cara Kedua : Membuat  adonan Noodle







Campurkan Tepung, Garam , dan Telur lalu aduk sampai merata, kemudian tuangkan susu, aduk adonan secara manual hingga adonan menjadi empuk. Setelah itu tutup adonan dan diamkan selama 1 jam.






 

Cara Ketiga: Membuat Toping 
 
Campurkan semua bahan Bröseltopfen, Petersilie, daun Minz, Merica, garam dan begitu juga dengan kentang yang sudah dihaluskan, lalu aduk hingga rata, setelah itu buat bulatan kecil (sebesar tomat Cery).









 Cara keempat: Mebentuk Adonan dan Toping menjadi Kärntner Kasnudel









Taburkan meja dengan tepung terigu supaya Adonan tidak lengket. Buat bulatan kecil dari Adonan Noodle lalu Pipihkan setelah itu isi dengan toping yang kemudian bentuk sesuai selera atau lihat pada gambar.
Tips: Usahakn jangan sampai ada gelembung udara saat Adonan sudah dibentuk, karena saat di rebus mengakibatkan Adonan akan pecah dan topingnya keluar.

Cara kelima: Rebus dengan api sedang, selama 8 menit, Lalu angkat saat sudah berada di permukaan air. Kemudian diamkan sampai menjadi kering dan air rebusan sudah hilang.
Tips: Sebaiknya jangan di aduk. Setelah Matang, angkat dengan hati- hati dan sebaiknya segera di dinginkan dengan air dingin dari Kran kemudian diamkan, supaya tidak menempel satu sama lain.JJi



Cara Penyajian: Panaskan Butter/ Mentega kemudian masukkan Kärntner Kasnudel yang sudah direbus tadi.
Tips: Salat bisa menjadi pelengkap yang membuat Kärntner Kasnudel semakin spesial. Kärntner Kasnudel juga bisa di simpan di friser untuk produksi dalam jumlah banyak.
Itulah tadi rahasia pembuatan Kärntner Kasnudel, dan akan lebih seru lagi pastinya, jika mencobanya memasak dirumah, dengan kreasi unik dan dengan toping sesuai selara. J
Selamat mencoba!!




















Sunday, 22 March 2015

Love Video dari PPI Austria

Friday, 20 March 2015

Dialog Antaragama dan Antarbudaya @ KAICIID



by Rasmi Silasari
 Sebagai ibukota yang terletak di tengah Eropa (cek sendiri kalau nggak percaya), Wina merupakan lokasi mangkal favorit bagi organisasi dan institusi internasional. Selain markas PBB—atau UN lebih hematnya—yang saking luasnya sampai disebut ‘city dan OPEC (Organisation of the Petroleum Exporting Countries) yang Indonesia sudah bukan anggota lagi sejak 2008, Wina juga menjadi tuan rumah bagi KAICIID atau ‘King Abdullah Bin Abdulaziz International Center for Interreligious and Intercultural Dialog.

Organisasi ini bukan cuma punya nama yang panjaaang tapi juga memiliki tujuan mulia: sebagai wadah dialog antaragama dan antarbudaya demi terwujudnya perdamaian dunia (yang sering disebut-sebut oleh mbak-mbak peserta Miss Universe).

—kelihatan garang banget nggak sih bangunannya, lokasinya dekat dengan Börse dan Schottenring
Gimana gitu ‘Interreligious and Intercultural Dialog’ bisa nyambung sama perdamaian dunia?


Ya contohnya kamu punya pohon mangga, akarnya di kebonmu tapi tumbuhnya belok-belok ke kebon tetangga. Walhasil sang tetangga yang kebagian pahitnya mesti bersihin daun yang rontok dan kebagian manisnya juga dari mangga yang jatuh. Terus kamu protes deh soal hak milik si mangga tersebut.
Eh ini kan resminya pohon gue kenapa jadi situ yang makanin mangganya?’, ‘Ya iya lah yang nyapuin daunnya juga gue!’, ‘Kok gitu sih kan akarnya ada di area gue!!’, ‘Makanya mas kalo tanem pohon bilangin dong jangan nyasar-nyasar ke kebon orang!!!’, ‘Lo menghina Angie (red: nama si pohon tsb)??!*LEMPAR-LEMPARAN SANDAL*.

Walaupun seru sayangnya perang sandal nggak akan menyelesaikan masalah. Dalam hal ini lah dialog berperan besar. Kalau sama-sama duduk, ngobrol dan mengerti masalah satu sama lain kan lebih adem mencari jalan keluarnya. Baru sengketa antarkebon aja bisa bikin geger sekampung. Apalagi kalau konflik antaragama dan antarbudaya?

Mending kalau masih dalam satu wilayah, kalau perseteruannya lintas negara terus lempar-lemparan sandal rudal?? Maka dari itu KAICIID bermisi untuk memfasilitasi segala bentuk dialog antaragama dan antarbudaya untuk mencegah berkembangnya konflik menjadi ‘lempar-lemparan sandal’ dalam skala yang lebih brutal.

infografik konflik antaragama di USA yang dirangkum organisasi Tanenbaum
Awal mula terbentuknya KAICIID adalah inisiatif mewujudkan dialog global yang disampaikan pada Islamic Summit di Mekkah tahun 2005 dan diteruskan oleh almarhum King Abdullah Bin Abdulaziz pada pertemuan dengan Paus Benedict XVI tahun 2007.


Setelah beberapa konferensi di Mekkah, Madrid, Wina dan Geneva, para peserta menyepakati perlu dibentuk suatu lembaga resmi yang mewadahi aktifitas dialog global ini. Maka pada Oktober 2012 para negara pendiri (Arab Saudi, Austria dan Spanyol) menandatangani perjanjian pembentukan KAICIID di Wina.

Kemudian pada November 2012 KAICIID meresmikan kantor pusat yang terletak di daerah Schottenring. Dalam kurun waktu 2 tahun, KAICIID menyelenggarakan konferensi internasional antar-pemuka agama pada November 2014 di Wina. Konferensi dengan tema “United against Violence in the Name of Religion” ini menghimpun saran, inisiatif dan pernyataan dari para peserta dalam gerakan melawan kekerasan yang mengatasnamakan agama.

—KAICIID menekankan pentingnya bertukar informasi antaragama dan antarbudaya untuk memupuk toleransi seperti  yang dilakukan the historic world’s travellers: Marco Polo, Zheng He & Ibn battuta (foto: KAICIID)

Selain konferensi antar-pemuka agama, KAICIID juga menyelenggarakan fellowship (ini nggak ada hubungannya dengan misi bawa-bawa cincin ke gunung berapi) yang bertujuan membekali para aktivis dan akademisi keagamaan dari berbagai agama dan bangsa dalam pengembangan dialog antaragama dan antarbudaya di daerah masing-masing.

KAICIID International Fellows Programme periode 2015-2016 diadakan di Wina selama seminggu (13 – 20 Februari 2015) yang dilanjutkan selama setahun secara online dan evaluasi di akhir tahun kembali di Wina. Sebanyak 20 peserta mengikuti fellowship ini yang merepresentasikan 5 agama (Buddha, Hindu, Kristen, Islam dan Yahudi) dan 17 negara (Arab Saudi, Austria, Guatemala, India, Indonesia, Inggris, Irak, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Sri Lanka,  Thailand, Turki, Uganda, USA, Venezuela dan Yordania). Oho, rupanya ada juga perwakilan dari Indonesia!

—kata beliau-beliau ini Indonesia adalah negara yang sangat diperhatikan karena keragaman agama dan budayanya; menarik tapi juga rawan konflik (foto: KAICIID)

Peserta dari Indonesia yang mengikuti fellowship periode 2015-2016 ini adalah Pak Yusuf dan Bu Wiwin. Pak Yusuf adalah aktivis dari ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) yang sudah menerbitkan empat buku dan kerap memberikan workshop mengenai toleransi antarumat bergama. Selain mendapatkan dua gelar master dari UI (Program Studi kajian Timur Tengah dan Islam) dan ICAS London (Master of Philosophy and Islamic Mysticism) beliau juga menerima beasiswa dari Vatikan untuk mendalami interreligious studies di tiga universitas di Italia.  

Bu Wiwin juga seorang aktivis dari Institut DIAN/Interfidei yang berpusat di Yogyakarta. Beliau sudah sangat lama (15 tahun!) berkecimpung dalam kegiatan dialog antaragama dan turut berperan dalam mengorganisir sejumlah konferensi nasional. Bu Wiwin mendapatkan gelar MA dari UIN Sunan Kalijaga (Hubungan Antaragama) dan juga mengajar di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.
—acara penutupan KAICIID International Fellows Programme


Selama di Wina Bu Wiwin pernah menginap di rumah penulis (yang berakhir penulis ikutan nginep di hotelnya Bu Wiwin karena kepo ;p—‘BREAKFAST BUFFET DI HOTEL CUY!’ pikirku dengan penuh semangat ‘khas mahasiswa’) yang berbuah manis undangan dari Bu Wiwin yang baik hati untuk ikut hadir di acara penutupan.

Yah, sebenarnya yang diundang adalah WG penulis, Dr. rer. nat. Ningrum, secara beliau yang berdedikasi nungguin si Ibu datang, masak-masak dan mengantarkan Bu Wiwin ke mana-mana.

Alhamdulillah karena sang Dr. rer. nat. Ningrum mencari teman untuk datang ke undangan tersebut akhirnya penulis pun kebagian rejekinya~ Setelah lama penasaran seperti apa dalamnya gedung yang depannya sangar ini akhirnya bisa masuk juga! Sayangnya penulis tidak sempat foto-foto arsitektur dan interior di dalam karena keasikan cemal-cemil dan foto narsis.
 —bukan orang Indonesia kalau nggak foto-foto, haha! Bersama Dr. rer. nat. Ningrum, Bu Wiwin dan Pak Dody sebagai undangan perwakilan dari KBRI

Terlepas dari cemal-cemil yang bikin nggak sempat foto-foto tersebut, hari itu tetap ditutup dengan makan malam di all-you-can-eat & pay-as-you-wish favorit di daerah Schottentor: Deewan. Mohon diperhatikan bahwa ini semata-mata untuk kepentingan wisata alias menunjukkan pada Bu Wiwin tempat makan di Wina yang enak, halal, murah dan banyak (buat yang belum pernah ke sini: SITU KEMANE AJE), jadi bukan karena penulis nggak bisa berhenti makan dan nggak bisa nolak traktiran (terima kasih banyak Bu Wiwin!).
—terima kasih banyak Bu Wiwin untuk dinner-nya, dan Dr. rer. nat. Ningrum untuk fotonya :D

*Setelah ngebahas makanan jadi lupa inti artikelnya apa* Ah ja, jadi kalau suatu waktu ada yang punya konflik antar-apapun yang pelik, baiknya jangan dihadapi dengan anarkisme meskipun sebatas perang sandal.

Hadapi konflik dengan rasional dan diskusi, jangan terhasut ngelempar sandal hanya karena terlihat seru dan seneng lihat lawannya kesakitan :(.

Ambil kursi, bikin Melange, suguhin Sachertorte, dan mulai dengan ‘Das Wetter ist gut oder?’ *lho*. Selamat berdialog dengan asik :)

Thursday, 5 March 2015

Phd Story: Sarrah Ayuandari (Innsbruck)


by Sri Yuliyanti


 
Sarrah Ayuandari, wanita kelahiran 4 April 1987, Banjarbaru, Kalimantan Selatan ini adalah seorang dosen Muda di Bagian Obstetri dan Ginekologi (kebidanan dan kandungan) di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang  sedang menuntut ilmu  S3 nya di Innsbruck, Austria. Mari kita simak lebih dalam apa rahasia kesuksesan Sarrah hingga membawanya sampai ke Universitas Innbruck?

Aktivitas apa yang saat ini sedang Sarrah lakukan?
Pada tahun 2009, saya lulus dari Fakultas Kedokteran UGM dan saya sempat  bekerja di Rumah Sakit di Palangka Raya lalu di Yogyakarta. Namun saya memiliki cita-cita untuk mengajar, maka kemudian di Universitas Gadjah Mada saya mendaftarkan diri untuk menjadi seorang dosen.  Alhamdulillah, saya lulus tes dan menjadi  dosen muda untuk  melakukan beberapa kegiatan di UGM, di antaranya adalah mengajar keterampilan-keterampilan dasar pada mahasiswa S1 di Fakultas Kedokteran UGM. Sementara itu, saya mulai mencari kesempatan untuk melanjutkan Program S3/ PhD dan mencari beasiswa untuk mengambil PhD tersebut.
Alhamdulillah, kemudian di tahun 2011 saya mendapatkan beasiswa dari Dikti untuk studi PhD di Departemen Ginekologi dan Endokrinologi, Medical University of Innsbruck, Innsbruck, Austria. Tahun pertama, diisi dengan kuliah dan kursus- kursus wajib, lalu memasuki  tahun ke 2 dan ke 3 baru masuk ke riset atau proyek penelitian di laboratorium. Saat ini saya memasuki tahun terakhir dalam program PhD tersebut dan sedang dalam proses penulisan publikasi ilmiah serta disertasi.
Titik fokus pada proyek penelitian saya disini adalah masalah kesuburan atau fertilitas pada pasien kanker yang sedang menjalani terapi atau pengobatan kanker. Pasien yang sedang menjalani terapi untuk penyakit kanker (kemoterapi dan radioterapi) mempunyai resiko untuk menjadi tidak subur karena obat dari terapi kanker tersebut dapat mempengaruhi fungsi dari indung telur, sehingga pada akhirnya kemampuan untuk memiliki keturunan dapat berkurang. Tujuan penelitian kami di sini adalah untuk mengembangkan solusi-solusi serta meningkatkan tingkat keberhasilan dari solusi tersebut dalam mempertahankan kesuburan pada pasien kanker yang telah menjalani terapi pada kanker.

Apa yang dimaksud dengan Publikasi dan Disertasi?
Publikasi adalah atikel Ilmiah mengenai riset yang saat ini kita lakukan dan dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah yang dapat mencakup ruang lingkup Internasional. Publikasi ilmiah selalu berisi pengetahuan dan hal-hal terbaru dari suatu bidang, misalnya bagi saya adalah bidang kebidanan dan kandungan.
Sedangkan yang dimaksud dengan disertasi adalah ulasan kegiatan riset atau penelitian kita selama 3-4 tahun mengikuti program PhD. Disertasi tersebut akan dipresentasikan di depan pembimbing dan penguji, dan kemudian jika sudah disetujui, maka akan dikumpulkan resmi di universitas sebagai syarat kelulusan.

Apa yang menjadi tantangan selama mengambil program Phd ini? 

Tantangan utama ada di penelitian itu sendiri.  Kita harus selalu mencari Ide-ide baru dan mengembangkan Ide-ide tersebut agar hasilnya dapat memperkuat penelitian sebelumnya atau bahkan langsung bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, seringkali eksperimen yang kita lakukan tidak selalu berhasil dan disitu kita dituntut untuk sabar dan belajar dari kegagalan supaya eksperimen selanjutnya bisa lebih baik lagi. Apalagi program Phd ini memiliki waktu terbatas. Selain itu, pengelolaan keuangan, alat-alat, dan bahan-bahan di laboratorium juga membutuhkan perhatian ekstra. 
Rekan-rekan di laboratorium serta pembimbing saya sangat suportif dan selalu menyediakan waktu untuk berdiskusi, baik mengenai persoalan riset maupun di luar itu. Semua rekan-rekan di tim riset saya sudah saya anggap sebagai keluarga.

Apa pencapaian selama di Innsbruck selama ini?
Selama mengikuti Program Phd ini saya mendapatkan banyak sekali pelajaran dalam kehidupan yang sangat berharga, seperti mengetahui etos kerja orang-orang di Austria yang disiplin, lalu mengetahui bagaimana cara bekerja dalam sebuah tim, dan bagaimana merancang serta melakukan suatu riset itu sendiri. Selain itu, alhamdulillah saya sempat beberapa kali mendapat penghargaan pada beberapa seminar/konferensi internasional yang saya ikuti dengan mempresentasikan data dari proyek riset kami di Innsbruck. Selain itu, saya juga berkesempatan untuk menjalin network dengan peneliti dari universitas lain dan saya juga berkesempatan untuk membawa nama Indonesia dalam forum internasional tersebut. Kesempatan-kesempatan yang baik tersebut saya gunakan sebagai inspirasi dan pemicu motivasi untuk dapat menjadi lebih baik lagi. 
Alhamdulillah saat ini saya sudah menjadi co-author dari dua publikasi ilmiah internasional. Mohon doanya agar saya bisa segera mempublikasikan artikel ilmiah saya sebagai first author dalam waktu dekat.

Suka duka hidup di Eropa?
Tentunya tidak mudah tinggal jauh dari kampung halaman. Namun sejauh ini, alhamdulillah jauh lebih banyak sukanya daripada dukanya, karena pada dasarnya saya mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, dan saya selalu menikmati hidup di Innsbruck yang sudah saya anggap sebagai kampung halaman kedua ini. Saya banyak mendapatkan sahabat baru selama saya hidup di eropa, terutama teman baru dari berbagai negara, sehingga pikiran saya bisa jauh lebih terbuka dengan mengenal banyak karakter juga budaya. Bersama teman-teman tersebut saya sering melakukan kegiatan yang menyenangkan, seperti hiking atau naik gunung bersama, atau sekedar makan malam di restoran yang menyediakan menu lokal.
Di Innsbruck sendiri, saya paling cinta dengan pemandangannya, yaitu keindahan pegunungan Alpen. Setiap hari saya memang melihat pegunungan yang sama, namun setiap hari pula lah saya selalu merasa kagum yang tidak ada habis-habisnya. Udara dan air di Innsbruck juga sangatlah bersih dan segar. 

Tips-Tips atau rahasia sukses?
Saya selalu berusaha untuk menyeimbangkan semua hal. Kita sebagai manusia mempunyai banyak sekali potensi yang sebenarnya bisa kita kembangkan. Sebisa mungkin pikiran kita terbuka untuk hal baru. Ambil hikmah dari setiap hal, tidak mengeluh, dan selalu syukuri segala nikmat serta kesempatan yang kita punya. Oleh karena itu saya sangat suka untuk mengikuti banyak kegiatan, terutama kegiatan yang mengandung nilai manfaat, seperti ikut pengajian dan Liqo di Innsbruck dan forum Muslimah Tirol, menjadi Editor di Majalah 1000 Guru, dll. Satu lagi tips bagi kita semua: senantiasa doakan dan minta doa dari banyak orang, terutama ibu dan ayah kita.

Harapan?
Sebagai harapan jangka panjang, setelah saya dan rekan-rekan seperjuangan lain sudah lulus dari PhD, kami sangat ingin untuk menjadikan bidang riset atau penelitian di Indonesia lebih maju lagi serta semakin meningkatnya kesadaran untuk memajukan penelitian dari semua pihak. Saya berharap semoga tahun ini S3 saya bisa selesai dengan baik, kemudian ilmu yang saya dapat selama ini berkah dan bermanfaat untuk masyarakat. Saya berharap agar bidang yang sekarang saya dalami di Innsbruck bisa segera diterapkan di Indonesia, serta semakin banyak lagi rekan-rekan peneliti muda Indonesia yang akan melanjutkan studi-nya kemudian berkiprah bersama untuk negara kita tercinta. Amin ya rabbal alamin.


***

Pengalaman Interview pertama saya dengan Mba Sarrah Ayuandari, menjadi pengalaman yang berkesan. Terima Kasih banyak atas waktu dan kehangatan berbincangnya kepada Mba Sarrah, walaupun jarak dan waktu terbentang antara Indonesia dengan Austria, Alhamdulilah dan Insyaallah perbincangan hangat kita via Skype membawa banyak manfaat serta motivasi bagi Pembaca dan khususnya saya pribadi. Terima Kasih Mba Sarrah!! :)

Wednesday, 4 March 2015

Langit Kelabu di Kota Innsbruck

by Nur Ainun Pulungan

 
Bbrr…. Salam beku dari Innsbruck :) 




Snowy….!! Ungkapan inilah yang masih pas disandang Innsbruck hingga hari ini. Februari sudah berlalu dan Maret pun telah menyambut. Akan tetapi, salju serasa masih enggan untuk beranjak dari atmosfer Innsbruck. Salju masih saja tetap menyelimuti hampir seluruh daerah Innsbruck. Tak hanya puncak pegunungan Alps yang masih terbalut putihnya salju, beberapa tempat di lereng kaki pegununganpun masih terselubung oleh kristal es lembut yang kita sebut -salju.


Disaat kota lain sudah mulai menikmati hangatnya dan pancaran sinar matahari, Innsbruck masih tetap setia berbalut langit mendung dan kelabu. Yaaa….itulah Innsbruck. Kota kecil yang dikelilingi oleh pegunungan Alps. Innsbruck adalah ibukota Provinsi Tirol yang terletak dibagian barat Austria. Lokasi geografis kota ini, menjadikan Innsbruck memiliki kondisi klimatogis yang unik dibanding kota lainnya di Austria. Posisi Innsbruck yang terletak di lembah kaki pegunungan Alps mengakibatkan daerah ini memiliki iklim mikro pegunungan dengan karakter tersendiri. 

Akan tetapi dibalik langit mendung dan kelabunya, keadaan ini ternyata mendatangkan keuntungan bagi para turis yang gila akan “skiing". Ski adalah salah satu olahraga musim dingin yang sangat bergantung pada keberadaan salju. Deretan pegunungan Alps yang megah dengan tutupan salju tebal menjadi daya tarik utama bagi turis yang ingin melakukan olahraga ski musim salju seperti sekarang ini. Dan Innsbruck menjadi kota penting yang menyuguhkan alamnya untuk aktivitas olahraga tersebut. 
  


Selain para turis, timbunan salju ini juga menjadi objek yang paling ditunggu-tunggu oleh anak-anak ataupun orang dewasa yang ingin mencoba olahraga musim dingin ini. Musim salju seperti sekarang ini menjadi momen tepat bagi anak-anak ataupun orang dewasa untuk bermain maupun belajar “skiing”. Tentunya pemilihan tempat menjadi pertimbangan disini. Bagi yang masih dalam tahap belajar, biasanya mereka akan memulai dari daerah yang landai. Jangan coba-coba langsung ke daerah terjal kalau tidak mau berakibat fatal. Bermain dan belajar ski bersama menjadi keceriaan tersendiri bagi anak-anak, seperti yang dideskripsikan dalam salah satu Koran local Tiroler Tageszeitung berikut ini.















So…. bagi yang tertarik untuk bermain ataupun belajar ski, tunggu apalagi? Ayo buruan berkunjung ke Innsbruck mumpung si-salju masih tersedia banyak disini ;)