/* Whatsapp css setting */ .tist{background:#35BA47; color:#fff; padding:2px 6px; border-radius:3px;} a.tist:hover{color:#fff !important;
Showing posts with label By: Arko. Show all posts
Showing posts with label By: Arko. Show all posts

Thursday, 14 May 2015

Go green: Think Globally, Act Locally

by Arko Jatmiko Wicaksono

Populasi penduduk dunia, dari tahun 1700 – 2011 (Sumber: Worldometrics, 2015)
Kenaikan populasi penduduk dunia pertama kali mengalami peningkatan signifikan dimulai sejak terjadinya revolusi industri. Mengutip pernyataan dari worldometers (2014), “The world population (the total number of living humans on Earth) was 7.244 billion as of July 2014 according to the medium fertility estimate by the United Nations Department of Economic and Social Affairs, Population Division and it is projected to reach 7.325 billion in July 2015”. Dengan populasi sebanyak itu persebaran penduduk yang terjadi, paling banyak terdapat di benua: Asia, Eropa/Amerika, Afrika, terakhir baru di benua Australia.

Kiri: 20 negara dengan populasi terbesar di dunia (2015. Kanan: peta penyebaran populasi manusia (2014)
Sumber: worldometrics (2015)

Bertambahnya populasi, berarti bertambah pula jumlah kebutuhan sandang, pangan, papan dan kebutuhan primer/sekunder lainnya. Sementara itu, luas lahan pertanian per kapita, sejak tahun 1961 hingga tahun 2009 telah mengalami penyusutan hingga kurang lebih 50% dari 14.000 m2 menjadi 7.000  m2 dan diprediksikan masih akan mengalami penyusutan di masa depan. Data yang penulis ambil dari IGD (Institute of Grocery Distribution), menunjukkan bahwa dari bulan Aug 1994 – Sep 2012, diperkirakan telah terjadi kenaikan harga beras dan gandum mencapai lebih dari 50%, adapun di Indonesia sendiri dalam 3 tahun terakhir fluktuasi komoditas pangan relative tidak terprediksi mengingat fluktuasi harga pasar yang semakin tidak terkontrol.

World agricultural area (sumber: US Census / FAO / IGD Research, November 2012) 

Guna mengantisipasi hal tersebut, maka inisiatif penataan lingkungan perlu dilakukan, namun harus secara kolektif dan terkoneksi satu sama lain. Masalah bersama haruslah diselesaikan secara kolektif. Kebutuhan manusia akan pangan (misal) tidak bisa hanya diselesaikan oleh 1 bidang/segelintir orang saja, karena untuk menghasilkan bahan pangan diperlukan berbagai sumber daya alam yang secara umum juga diperlukan oleh banyak orang, seperti: air dan tanah. Efisiensi penggunaan sumber daya alam serta peningkatan efektifitas pertanian pun perlu dilakukan. 

Salah satu contoh menarik yang sudah dikembangkan (dan berhasil diterapkan) ialah penerapan Mina padi di suatu kelompok pertanian di Jogjakarta. Dengan menggunakan pupuk kompos (organik) yang ramah lingkungan, memungkinkan petani (pada garapan sawah yang sama) untuk menanam padi sekaligus beternak ikan dalam jumlah yang besar. Dalam 1.000 meter2, selain bisa panen padi 8 kwintal, petani juga dapat memanen ikan 5 kwintal dan udang 2 kwintal. Sehingga disamping meningkatkan keuntungan finansial, hal semacam ini juga berguna dalam memberikan jaminan terpenuhinya stok kebutuhan pangan bagi masyarakat. 

Pertanian system Mina Padi di Sleman, Yogyakarta (sumber: Tempo.co, 2015)

Pemanfaatan limbah (hasil buang hajat) manusia sebagai bahan baku biogas pun sudah dimulai di Australia. Dengan membuat saluran yang mengkoneksikan saluran pembuangan sapiteng wc dari tiap rumah di suatu wilayah, maka tinja yang terkumpul secara kolektif dapat dimanfaatkan sebagai bahan biogas. Pemanfaatan limbah kotoran ternak untuk menghasilkan biogas juga sudah diterapkan di Indonesia, hanya masih terbatas pada skala rumah tangga.

Pembuatan sumur resapan untuk menangkap air hujan, tentunya juga harus mulai disahkan dengan perda/UU dan perlu mulai perketat implementasinya oleh pemerintah. Berkurangnya areal tadah hujan, membuat sebagian besar air hujan yang jatuh ke tanah, langsung tergelontor ke sungai tanpa banyak terserap ke dalam tanah. Hal ini terjadi karena pertumbuhan perumahan yang kian hari kian menjamur tanpa diiringi oleh tata kelola ruang yang baik di Indonesia.

Sumur resapan di setiap rumah (sumber: Agus Maryono dan Edy Nugroho Santoso, 2006)

Pada skala laboratorium, penelitian terkait guna meningkatkan hasil pertanian pun banyak diusahakan. Namun dalam skala mikro, pada dasarnya setiap orang mampu melakukan upaya guna mendukung terciptanya produktivitas lahan, seperti menanam buah dalam pot (tabulampot), pemanfaatan solar cell di setiap rumah (mengingat intensitas matahari yang sangat tinggi dan ada sepanjang tahun), memodifikasi kebun agar berdaya guna, dan sebagainya, yang pada akhirnya, setiap manusia dapat memberikan kontribusi setidaknya bagi keluarga/lingkungan terdekat tempat ia tinggal. 


Farming Farm (pertanian di kebun rumah sendiri), Sumber: wikipedia

Friday, 24 April 2015

Cerita di Awal Musim Semi: Dari Innsbruck untuk Austria

by Arko Jatmiko Wicaksono

“April Cemerlang”


Kebahagiaan kami penghuni kota kecil.. yang terletak di tepian sungai Inn.. semakin meluap, ketika kalender beranjak dari bulan Maret menuju bulan April. Semenjak pertengahan bulan lalu, kota ini sudah mulai diramaikan oleh berbagai festival menyambut datangnya musim semi. Atraksi pertunjukan jalanan mulai merebak di pusat-pusat keramaian: di Altstadt, di Maria Theresian Strasse, dan sebagainya. Bunga-bunga bermekaran indah, muda-mudi aktif berselancar ski. Dan kami tidak mau ketinggalan. Inilah saatnya menyanyikan lagu kesukaan saya: “Libur telah tiba..! hore..hore..!” 

Agenda besar kami kali ini ialah jalan-jalan ke “kastil-inspirator” adanya logo kartun Walt Disney: ‘Neuschwanstein Castle’ di Jerman. Tentu saja, untuk kesana, kami harus menyiapkan perbekalan lengkap seperti passport, kamera, tiket, dan tidak lupa kanvas! Kanvas?? Benar, kanvas. Karena pada liburan kali ini ada anggota rombongan yang berencana melukis pemandangan alam langsung di tempat kejadian! Hotspot, bro! 



Mengingat perjalanan cukup jauh dan melelahkan, 
maka ada baiknya persiapkan bekal makan/minum
 snack untuk dikonsumsi selama perjalanan. Pun bagi Anda yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Eropa (dan tidak bisa berbahasa Jerman – seperti saya), maka tidak ada salahnya untuk bersiap-siap membawa peta atau sediakan aplikasi google map di mobile Anda. Terkadang, jadwal transportasi (kereta) lokal di cancel/berubah rutenya sehigga harus siap-siap berbagai kemungkinan langkah antisipasi. 

Dengan ber-9 orang, kami berangkat dari kota Innsbruck. Destinasi pertama kami adalah menuju Garmisch. Dari Garmish perjalanan dilanjutkan dengan ganti bus ke arah Reutte in Tyrol.  Untuk diketahui, saat kami tiba di Garmish, maka kami harus memesan ulang tiket guna dipakai di wilayah Bavaria. 

“Gak ada loe gak rame! Coy..!”

Selain lebih akrab, piknik bersama teman-teman terasa lebih asyik dan mengesankan. Pun harga tiket jauh lebih murah saat kita memutuskan untuk membelinya secara berombongan. Tiket Bavarian yang kami beli di Garmish jatuhnya hampir 1/5 kali lipat dibanding jika kita hanya pergi jalan-jalan sebagai seorang single traveller (apalagi kalau single lady) – bisa bakal ditanya-tanya orang: “permisi Non, saya (pura-pura) mau numpang tanya. Kalau mau ke Fussen, arahnya kemana ya? Abang tersesat di hatinya Non, nih..?” # Nah,lho..  

Dari Garmish perjalanan kami lanjutkan menuju Reutte in Tyrol, untuk selanjutnya oper lagi dengan mini bus menuju ke Fussen. Mahalnya tiket perjalanan kali ini, rasanya terbayar lunas, saat kita memasuki daerah sekitaran Reutte in Tyrol. Disana kami disuguhi dengan panorama alam yang luar biasa cantik dan mempesona.. Ladang hijau nan luas hijau kecoklatan, rumah khas gaya Eropa yang eksotik dan pegunungan Alpen dengan toping salju yang menawan.. daya pikatnya begitu kuat, seolah-olah seperti cerita ‘seorang pangeran yang terpesona dengan kecantikan sang putri impian’.



Sesampainya di Fussen, rombongan turis asal
Jepang, Korea dan Cina memadati bus yang akan mengantar kami menuju kastil. Untuk bisa masuk ke kastil tersebut kita masih harus merogoh gocek sekitar 12 Eur/orang. Di sana ada pilihan bahasa, dengan bahasa apa kita ingin si tour guide mengantar? Biasanya jam sekian khusus ditujukan bagi pengunjung yang ingin diberi penjelasan oleh tour guide berbahasa Italia. Jam berikutnya untuk tour guide berbahasa Jerman, Inggris dan seterusnya. Nah, ini dia kastilnya..


“Sekilas tentang Kastil Neuschwanstein”














Kastil yang dibangun pada abad ke-19 ini terletak di puncak pegunungan di Jerman, di dekat Hohenschwangau dan Füssen, Bayern barat daya. Kastil ini dibangun oleh Ludwig II dari Bavaria. Walaupun pemotretan interior kastil tidak diperbolehkan, kastil ini merupakan bangunan yang paling banyak difoto di Jerman. Tempat ini merupakan salah satu destinasi pariwisata.  Kastil ini telah dibuka untuk umum sejak tahun 1886 dan setiap tahun, sekitar 1.3 juta orang mengunjungi kastil ini, dengan 6.000 orang per hari pada musim panas. [“hasil comot dari Wikipedia”]. 



Nah, selama di kastil, ada cerita bergambar terpampang di dinding-dinding kastil tersebut, dipakai sebagai interior dalamnya. Hal menarik yang saya amati dari kastil ini ialah ketepatan pemilihan tempat pembangunan kastilnya. Berada di atas bukit, dengan dikelilingi oleh sungai, lembah, danau, serta pemandangan tanah lapang yang begitu indah dapat kita saksikan ketika kita melongok keluar dari jendela dalam kastil tersebut. Rasanya tidak lengkap jika kita berlibur cuma beberapa jam saja. Tapi apa boleh dikata. Semoga bisa dilanjut lagi di lain kesempatan. Demikianlah sedikit cerita untuk mengawali musim semi di benua Eropa. 





Dari Innsbruck, bercerita untuk Austria. Salam.