/* Whatsapp css setting */ .tist{background:#35BA47; color:#fff; padding:2px 6px; border-radius:3px;} a.tist:hover{color:#fff !important;

Friday, 25 September 2015

clean€uro Workshop

by: Rasmi Silasari
photo: Evi Mulyani

Hi everyone! Since autumn is finally starting and the leaves are turning yellow and brown, have you managed to live green the whole summer? (sorry for all the puns, intended or not) If yes, GUT!! If not, come finish this sentence and go to the second paragraph; I'll force show you how to live greener in an easy way!

Look how cute the poster is~

So earlier this month, 5th of September to be exact, PPI Austria in corporation with the NGO 'SOL - Menschen für Solidarität, Ökologie und Lebensstil' arranged a short workshop about 'How to shop the clean€uro way' (yep, you have to write that with the €) . You know that we, human, require so many resources to satisfy our needs. We need clothing, housing, education, recreation, and the most basic of all: food!

PPIA clean€uro workshop with Vera from SOL!

Now, have you ever thought about the way you do grocery shopping? Do you plan it carefully to 5 different shops to get 5 different items at the lowest cost? Do you just buy everything that comes in bulk so you won't have to shop for another 10 years? Do you buy the ones advertised by the ethereal, beautiful-looking people with their seductive voice? Or do you simply go to the bread & cheese shelf and that's it? (I swear it's not me). Well, what I'm about to tell you might make you want to consider more what's inside your shopping bag!

Vera showing us what to look from a product

In the beginning of our 2 hours workshop, Vera our wonderful mentor told us about the goal of clean€uro, which is to reduce our ecological footprint. Basically, this ecological footprint is how the scientists measure the natural resources that a person needs every year. The common way to measure it is to measure the productive land and sea area required to fulfill the needs; since it's an area, the unit is in global hectares per person (gha/pers).

So, the person that needs to eat meat would need more hectare than the person who eat vegetables, since the cow aside from needing space to live also needing space to grow its feed. In 2007, research found that the average ecological footprint of people on Earth is 2.7 gha/pers, while the Earth can only supply 1.8 gha/pers; it means that we have 0.9 gha/pers that keeps deteriorating every year! Well everyone can argue that: 'that's such a rough calculation', or 'it's the rich countries' fault', or 'the Earth looks fine to me', or 'who cares as long as I can eat my bread & cheese' (swear again, it's not me), etc., etc... but it won't hurt to be a nice citizen of the Earth and help our lovely planet to sustain better, right? =D So let's try to reduce our ecological footprint by shopping the clean€uro way!

The steps of implementing clean€uro in your shopping routine is simple, you just have to remember these 3 points when stepping into the supermarket fully armed with shopping basket ready for the 'stock-the-fridge' mission:

1. FAIR!
Forget about buying stuffs that were made/grown/assembled by workers that aren't treated fairly! Please do look for the 'fair trade' logo on your items. This point strives for a more humane working conditions and improve social standard around the globe. And Vera made a good point on how funny it is that the 'fair trade' gets its own logo. Like, what, so the other items are allu from 'unfair trade'? HOW UNFAIR!

2. ECO!
It's time for you to visit those green bio products shelfs! (or just visit a bio supermarket, why not) Please do look for the 'bio' logo on your items. When displaying the bio logo, the product actually has made lots of ecological improvement such as less waste and less harmful substance. There are lots of bio logo in this universe as many as the stars the supermarket, but you may want to look for the 'starry leaf' one as it's published by the EU with pretty strict standards. If you make excuse that bio products are more expensive, I dare you to compare the fruits' prices! You will find that it's actually just 30-50 cents/kg higher than regular ones!

I think it's not necessary to eat cheese shipped all the way from Italy when they produce the same cheese here in Austria, right? (and nope, I'm not talking to myself) Please do look for the 'made in ....' or something similar on your items. Actually this locality is more about the mileage, the goal is to use less resources to bring the item from the producer to your hand. So as the clean€uro website gives an example: if you live in Wien it might be better to drink milk from western Hungary that's quite close, rather than that from Tirol. So you know what you should do~ Learn your world map right!


If all these rules make you dizzy and don't have place anymore to hang in your head among the periodic table or music score or economic equations, you can simply head to the alternative. It's easier, and will save you lots of money as well ;) It's the 'cut your consumption' way!!
1. Buy nothing
2. Buy less
3. Lend and Share
4. Favor services (as in just call the plumber instead of buying new tools and other resources and do the acrobat to fix that broken pipe by yourself)
5. Use second-hand (WILLHABEN RULEZZ!!!)
6. Reconsider shopping methods
7. Inquire

The more you buy the more item to check... so let's just buy less!

Perhaps you'll wonder if these simple acts will bring any difference. Oh, don't underestimate the force of demanding buyers, my friend. Vera told us the story of how Starbucks started to sell fair trade coffee just because the consumers pressured them to do so! Imagine if this happens to McDonalds and their burgers, it must be pretty interesting~ Anyway, that's all I have for 'How to shop the clean€uro way'! Next time you're in the supermarket, please consider being a nice Earth citizen and do at least one point to at least one of the item you buy. You might think it's nothing... but since you already think so, let's do this anyway! =D Cheers!


Monday, 21 September 2015

Phd Story: Dewi Wardani (Linz)

Dewi Wisnu Wardani adalah mahasiswi Phd program Computer Science, dari University of Linz. Dalam tahun ketiganya, student Phd yang memiliki hobi fotografi ini sedang "ngebut" kejar target publikasi dengan berharapan menyelesaikan program Phd-nya tahun depan.

"Alhamdulillah 4 publikasi sudah. Masih ada 2 jurnal lagi sepertinya, hehe. Rencananya yang berhubungan dengan Phd ada 6 publikasi dan beberapa papers yang tidak terlalu berhubungan dengan topik Phd. Jadi selama Phd sekitar 9 atau 10 publikasi."

Institute tempat ia bekerja bernama Institute for Application Oriented Knowledge Processing. Penelitiannya berkisar berkisar data, informasi, dan knowledge, dimana beliau lebih cenderung pada knowledge processing dengan pendekatan semantic technology.

"Lebih spesifik pada managing complex knowledge graph yang fokus pada elaborasi fungsi rich-link. Saya berusaha provide formal model dan tentu contoh domain terapannya."

Proses penelitiannya dilakukan secara umum dan sesuai dengan tahap-tahap dasar untuk penelitian di bidang computer science, yaitu dimulai dengan ide kasar, menyusun formula dan algorithma, untuk kemudian dibandingkan dengan penelitian sebelumnya.

"Setelah ide kasar dan formula dan algorithma-nya sudah disusun, komparasi dengan penelitian yang sudah ada untuk memastikan novelty-nya, dilanjutkan dengan eksperimental dengan beragam kuantitas, sesuai kebutuhan."

Bagi perempuan kelahiran Oktober 26 ini, tantangan terbesar adalah menentukan benchmarking dari ide Phd. Dengan pemahaman bahwa tujuan utama Phd adalah kontribusi state of art dari cabang riset tertentu, yang menjadi tantangan adalah saat fase pensil dan kertas, fase menyusun fondasi dasar. Setelah melewati fase ini sekaligus publikasinya, selebihnya akan lebih ringan. 

"Kita didorong hingga limit kemampuan untuk belajar hal baru dan menemukan hal yang baru. Menciptakan yang sebelumnya belum ada kemudian menjadi ada. Bentuknya nyatanya saat paper kita diterima oleh komunitas peneliti."

Tantantan lain baginya adalah pada saat paper-nya ditolak oleh komunitas peneliti.

"Dukanya ketika paper saya ditolak, merasa sangat bodoh, apalagi jika hasil review-nya buat patah hati hehe. Tapi Alhamdulillah, fase fondasi telah terlewati. Sebuah new model knowledge presentation. Tinggal layer di atasnya, 2 layer lagi. Masih banyak yang harus dikerjakan. Mohon doanya."

Sunday, 20 September 2015

What Can You Do in Autumn?

Hey PPIers di Vienna,

Bagi newcomers di Wina, walaupun musim panas sudah lewat, masih banyak yang dapat dilakukan pada saat memasuki musim gugur. Salah satunya adalah jalan-jalan di Vienna Woods atau Wienerwald. 

Selain menelusuri hutan-hutan di Wina dan mengumpulkan daun-daun yang berubah warna itu, hal menyenangkan lain adalah jalan-jalan ke Kahlenberg dan melihat pemandangan kota Wina from bird's eye view. Dengan cuaca yang belum begitu dingin dan masih ada sinar matahari, suasana di Kahlenberg akan sangat menyegarkan karena dikelilingi oleh hutan. 


Selain itu, pemandangan kota Wina dari ketinggian 484 meter itu sangat menakjubkan. 

Jika ingin mencoba hiking trail-nya, dapat dilihat dari website berikut ini:


Atau bisa juga dengan bis 38A dari Heiligenstadt (U4).

Ayo, sebelum cuaca semakin dingin dan semakin mendekati musim winter, karena pemandangan indah kota Wina tidak dapat dinikmati jika sudah berkabut seperti di foto ini :)

Learn German in a Fun Way?

by Rafika Nurulhuda

Hallo! Welcome to those who just came to Austria!

Ada yang baru belajar bahasa Jerman dan ingin memperlancar? Ada yang ingin belajar lebih banyak kosa kata baru dengan cara mudah? Mungkin ada yang sedang mencari cara belajar bahasa Jerman yang fun? Sudah coba App "Duolingo"? Tapi bagaimana kalau tiba-tiba handphone mati di tengah jalan dan tidak ada tempat charge?

Jangan sedih...

Salah satu cara fun lainnya adalah dengan buku "100+ Deutschen Kreuzworträtsels- Spielen und verbessern" karya Nathalie Enda Zileta Depari. Buku dengan total halaman 174 ini berisikan kumpulan lebih dari 100  TTS dan kuis untuk belajar bahasa Jerman dengan penutur bahasa Indonesia.

source: Nathalie Enda Zileta Depari (FB)

Ini kata Nathalie, "Ich bin seit letztes Jahr in Österreich. Ich war vor 2 Jahre in Deutchland. Ich habe in Deutschland Deutsch gelernt, also habe ich 2 Jahre Deutsch gelernt."

Ngerti enggak? Jangan sedih...

Kalau kalian sedang suntuk dengan tugas kuliah, bosan nunggu bis, duduk sendirian di kafe (dan mati gaya), atau refreshing di taman, kalian bisa mengisi leisure time dengan mencoba kuis-kuis dari buku ini untuk memperlancar bahasa Jerman. Klingt Spass, oder?

"Setiap kuis dikelompokkan berdasarkan tema tertentu untuk mempermudah belajar. Belajar dengan cara mengisi kuis seperti ini diharapkan memicu motivasi para pembelajar bahasa Jerman karena akan lebih menyenangkan. Total halaman ada 174 halaman beserta dengan kunci jawaban."

Nathalie, yang memiliki degree S1 di Program Studi Indonesia dari Universitas Indonesia ini, bercerita lebih lanjut tentang pengalaman menulis buku pertamanya ini. Tentunya, penerbitan buku ini untuk berbagi ilmu dan membuat cara lain untuk belajar bahasa baru.

"Dengan berbagi ilmu saya juga jadi belajar lebih banyak. Ada variasi dalam pembelajaran bahasa asing, bagaimana supaya belajar bahasa gak gitu-gitu aja. Pembuatan buku ini cukup melelahkan karena saya harus membuat 100 lebih kuis. Kadang kehabisan ide tema, tapi saya bersyukur punya editor yang care banget. Sambil menjalani kegiatan sehari-hari di sini juga banyak ide yang bermunculan.. Tantangannya tentu saja saya dikejar deadline dan selalu ada revisi yang harus saya lakukan setelah proses deadline selesai."

Proses pembuatan buku ini dimulai dari bulan Februari 2015 dan diterbitkan bulan Juli 2015 oleh Kesaint Blanc Publishing.

"Rasanya puas dan lega karena buku ini akhirnya terbit. Kebetulan aku nulis buku ini sambil beraktivitas sebagai aupair, jadi cukup melelahkan. Meskipun lega dan puas, aku sangat terbuka dengan masukan, kritik, dan saran, supaya bisa ada perbaikan ke depannya."

Perempuan kelahiran Bandung 23 Desember 1990 ini selain beraktivitas sebagai aupair di Wina, ia sedang mengambil college di Wina sambil menunngu Letter of Acceptance dari Universitas Wina untuk program Master Linguistik Terapan.

"Doakan mendapat kejelasan ya! Rencana ke depan mau kuliah S2 dulu sampai selesai di Wina. Setelah itu belum tau, mungkin pulang atau stay di sini, we'll see. Dan pingin banget ada buku-buku berikutnya. Rencananya mau cerita-cerita selama menjadi aupair di Eropa. Semoga ada kesempatan menerbitkannya juga."

Buku "100+ Deutschen Kreuzworträtsels- Spielen und verbessern" dijual dengan harga Rp.60,000. Selain dapat dibeli di semua toko buku di Indonesia, kalian bisa juga order online di website penerbitnya: kesaintblanc.co.id

Ready to have fun in learning German? 

Hanging in the Longest Hanging Bridge in Austria (+links how to go there by bus)

by Rafika Nurulhuda

Tyrol is surely one of the most favourite destinations in winter season. But there are other various interesting sites and natures that you could enjoy during summer or autumn season.

Visit Innsbruck, the capital city of Tyrol, dan explore this wonderful city that is squeezed between two mountains (Nordkette and Patscherkoffel) and run by the river Inns. It might not be as big as Vienna but being able to see the gigantic mountains right from where you stay, Innsbruck could be a dream city of many people.

When you do come to Innsbruck, take some time to visit a new tourist site in Reutte, Tirol: Highline179. It is the longest hanging bridge from World Records that is just launched for public in 2014.
Ticket price: EUR 8 (including zurück)

Highline179 is the where you will experience the 400 meter Tibet-style hanging bridge and it is designed to connect between the Ehrenberg ruins and Fort Claudia and with the height of around 100 meters, it will make you feel like you are flying--or hanging in the air!

To get up there, one must "berg-wandern" around 15 minutes (there is no lift so be prepared!)

 For those of you who are afraid of heights, walk slowly, keep holding on, don't look down, no doubt you will (for a few seconds) forget that you are high up because you will be amazed by the beautiful nature view from above, and in just a few minutes, you arrive!

source: Stenly Viany
Special thanks for the Indonesian students in Innsbruck for the tour! :)

How to go to Highline179:

By Bus: 

from Hauptbahnhof Innsbruck, take the Postbus "Innsbruck-Nassareith-Reutte" (make sure to check the bus schedules because they come very rarely)
Buy the ticket to Reutte which is EUR 15,60. Get off at Nassareith and wait for another bus that goes to Reutte (bus ticket still valid). Get off in "Reutte Abzw Ehrenberger Klause". 
Make sure to check the latest bus!

Bus schedules:

Hauptbahnhof Innsbruck-Nassareith (bus 4176)


By car:

Resepsi Diplomatik HUT RI Ke-70


Berbagai pertunjukkan seni yang dibawakan oleh masyarakat Indonesia menyambut para tamu dalam Resepsi Diplomatik HUT RI Ke-70. Resepsi Diplomatik yang diselenggarakan oleh KBRI Wina pada September 4, 2015 pukul 18.00 mengambil tempat di Wisma Duta Besar KBRI Wina.

source: kbriwina.at

Beberapa lagu tradisional Indonesia dinyanyikan dengan indah dan diiringi dengan uara unik angklung yang dimainkan oleh staff KBRI Wina. Selain itu, seorang Young Violinist bernama Fakhri Pratama juga menunjukkan talentanya di hadapan para tamu.

source: kbriwina.at
Untuk mempromosikan kuliner Indonesia, para tamu juga dimanjakan oleh makanan khas Indonesia, antara lain, kue lumpur, kue lapis legit, dadar gulung, sate ayam, sate kambing, rendang, dan nasi goreng.

Beberapa anak muda Indonesia yang sedang mengambil studi di Austria membantu menjadi runner dalam acara Resepsi Diplomatik ini. Total runner 9 orang dan tugas mereka adalah mempersiapkan makanan di meja, minuman, menjaga stand, dan menjawab pertanyaan para tamu tentang kuliner Indonesia.

"Pokoknya harus siap siaga!" kata Evi Mulyani, salah satu runner. "Saya juga harus siap jika ada beberapa tamu yang tanya tentang makanan yang saya tawarkan."

source: kbriwina.at
Resepsi Diplomatik adalah acara yang diadakan hampir seluruh kedutaan besar terutama pada hari nasional mereka, untuk mempererat hubungan kedua bangsa dan juga bangsa-bangsa lain. Tentunya, acara seperti ini juga dimanfaatkan sebagai ajang promosi Indonesia.

Tuesday, 1 September 2015

Pesta Rakyat 2015

Pesta Rakyat yang diselenggarakan pada tanggal 22 Agustus silam merupakan kegiatan puncak dari serangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Dirgahayu RI ke-70. Seperti pesta rakyat sebelumnya, pesta rakyat tahun ini pun dihelat di kantor KBRI di Wina. Antusias pengunjung yang didukung dengan cuaca yang cerah membuat acara Pesta Rakyat tahun ini semakin meriah. 

Acara dibuka sekitar pukul 10.15 oleh Laron Band dengan membawakan hits kemerdekaan dari groupband Cokelat dengan judul Bendera, yang selanjutnya diikuti kata sambutan oleh bapak Dubes, pak Rachmat Budiman. 

Semangat Mellisa membawakan lagu 'Bendera'
Tahun ini kurang lebih ada sekitar 11 stand Bazar yang turut meramaikan pesta rakyat. Nggak tanggung-tanggung makanan khas Indonesia tersedia mulai dari bakso, nasi padang, gudeg, nasi bali, sate sampai es mambo. Semua riang, semua kenyang! 

Warungnya PPIA warung Anti galau.
Nggak mau kalah dengan ibu-ibu kita yang jago masak, PPIA juga ikutan eksis di pesta rakyat tahun ini. Dengan mengusung ide 'anak gaul', stand kreatif PPIA diberi nama Warung Anti-Galau. Niat mulianya sih setiap pengunjung yang datang akan meninggalkan stand kita dengan senyum pepsoden :D. Jualannya nggak heboh kok; ada nasi kucing garong, es buah mainstrim, roti chuby, sama es mambo unyu. Semoga tahun depan eksis lagi! Jangan kapok ya PPIA! :D. 

All in all acara pesta rakyat berlangsung sukses; terutama buat mellisa dan pastor yang menang ngeborong hadiah tombola, dan membuat semua pengunjung pulang dengan perut yang super kenyang. Berikut adalah kumpulan foto-foto dari Pesta Rakyat 2015:

Tari Ngarojeng oleh Federica
Paduan Suara OFID
Ngebakso dulu

Yuk mari nyate dulu!
Masnya sangat menghayati sekali

Nom nom nom

Penyerahan hadiah oleh bapak Dubes

serunya loncat-loncat pake karung :D