Monday, 21 September 2015

Phd Story: Dewi Wardani (Linz)

















Dewi Wisnu Wardani adalah mahasiswi Phd program Computer Science, dari University of Linz. Dalam tahun ketiganya, student Phd yang memiliki hobi fotografi ini sedang "ngebut" kejar target publikasi dengan berharapan menyelesaikan program Phd-nya tahun depan.

"Alhamdulillah 4 publikasi sudah. Masih ada 2 jurnal lagi sepertinya, hehe. Rencananya yang berhubungan dengan Phd ada 6 publikasi dan beberapa papers yang tidak terlalu berhubungan dengan topik Phd. Jadi selama Phd sekitar 9 atau 10 publikasi."

Institute tempat ia bekerja bernama Institute for Application Oriented Knowledge Processing. Penelitiannya berkisar berkisar data, informasi, dan knowledge, dimana beliau lebih cenderung pada knowledge processing dengan pendekatan semantic technology.



"Lebih spesifik pada managing complex knowledge graph yang fokus pada elaborasi fungsi rich-link. Saya berusaha provide formal model dan tentu contoh domain terapannya."

Proses penelitiannya dilakukan secara umum dan sesuai dengan tahap-tahap dasar untuk penelitian di bidang computer science, yaitu dimulai dengan ide kasar, menyusun formula dan algorithma, untuk kemudian dibandingkan dengan penelitian sebelumnya.

"Setelah ide kasar dan formula dan algorithma-nya sudah disusun, komparasi dengan penelitian yang sudah ada untuk memastikan novelty-nya, dilanjutkan dengan eksperimental dengan beragam kuantitas, sesuai kebutuhan."

Bagi perempuan kelahiran Oktober 26 ini, tantangan terbesar adalah menentukan benchmarking dari ide Phd. Dengan pemahaman bahwa tujuan utama Phd adalah kontribusi state of art dari cabang riset tertentu, yang menjadi tantangan adalah saat fase pensil dan kertas, fase menyusun fondasi dasar. Setelah melewati fase ini sekaligus publikasinya, selebihnya akan lebih ringan. 



"Kita didorong hingga limit kemampuan untuk belajar hal baru dan menemukan hal yang baru. Menciptakan yang sebelumnya belum ada kemudian menjadi ada. Bentuknya nyatanya saat paper kita diterima oleh komunitas peneliti."

Tantantan lain baginya adalah pada saat paper-nya ditolak oleh komunitas peneliti.

"Dukanya ketika paper saya ditolak, merasa sangat bodoh, apalagi jika hasil review-nya buat patah hati hehe. Tapi Alhamdulillah, fase fondasi telah terlewati. Sebuah new model knowledge presentation. Tinggal layer di atasnya, 2 layer lagi. Masih banyak yang harus dikerjakan. Mohon doanya."






No comments:

Post a Comment