Friday, 26 June 2015

Be Active during Ramadan!

by Syifa Nurhanifah, Evi Mulyani


Menjalankan puasa di musim panas di Eropa tengah memang tidak mudah, selain panas menyekat juga jarak antara terbit dan terbenamnya matahari mencapai sekitar 18 jam, juga ditambah dengan godaan godaan lain dari orang-orang disekeliling kita yang mayoritas tidak berpuasa, mantap sudahlah tantangan-tantangan bagi kaum muslim yang berpuasa di bulan Ramadan ini.

Bagi yang baru pertama kali merasakan bagaimana menjalankan ibadah puasa yang lamanya 18 jam ini pasti rasanya sulit sekali dan terkadang berpikir untuk menyerah. Ditambah lagi ketika kita merasa sendirian, sahur sendiri.. buka puasa sendiri. Sediih rasanya tuh (maklum di Salzburg kan ngga ada wapena)

Tapi seiring berjalannya waktu perasaan sedih itu kian sirna, ketika saya mulai mengenal beberapa teman-teman muslim di tempat kuliah, tepatnya teman-teman muslim dari MJÖ (Muslimische Jugend Österreich).  Pada awalnya waktu itu saya diundang Iftar bareng mereka, kemudian juga diundang di acara-acara lain seperti kajian ramadan dan yang terakhir di undang untuk ikut dalam Projekt mereka ”Ramadan, Teilen ohne Grenze” atau kalo dalam bahasa Indonesia ”Ramadhan, berbagi tanpa batas”. Sebuah Projekt yang bertujuan untuk memperkuat kesadaran sosial, solidaritas dan keterlibatan partisipatif anak-anak dan remaja muslim di Austria terhadap masyarakat, terutama terhadap mesyarakat yang membutuhkan.

Melalui Projekt yang biasa disebut dengan FTH (Fasten, Teilen Helfen) ini  kaum muda muslim di Austria memiliki peluang untuk saling membantu dan saling berbagi selama menjalankan puasa dan bersama sama beribadah kepada YME. Dari yang biasanya diam di rumah sendirian menunggu waktu buka puasa, menjadi keluar rumah aktif dalam kegiatan sosial seperti bakti sosial membersihkan kuburan muslim, mengunjungi panti-panti jompo, panti asuhan, dan juga masyarakat pengungsi (Refugee) untuk memasak dan sekedar meluangkan waktu bersama mereka.


Belajar mengenal Ramadhan dari segi sosial dan segi spiritual yang berbeda adalah hal yang ingin di capai MJÖ dalam projekt ini. Pertama kali saya mengikuti Projekt ini adalah tahun 2013 di Lebenshilfe Salzburg, rumah panti jompo dan orang-orang cacat. Disana kami dari MJÖ bersama orang-orang yang tinggal di panti ini bersama-sama memasak apple cake. 

Bagi saya pribadi pengalaman memasak bareng orang-orang di panti ini merupakan pengalaman yang luar biasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Berinteraksi bersama orang-orang yang memiliki “cara berkomunikasi yang berbeda” ini membuat hati saya luluh, apa lagi melihat senyum lebar dan garis tawa dalam wajah mereka. Hal ini bukan saja membuat saya sendiri bahagia, namun insha Allah juga bagi mereka penghuni panti.



Berangkat dari pegalaman pertama, saya memiliki semangat untuk tetap mengikuti Projekt ini di setiap tahunnya, dan Alhamdulillah saya diberikan kesempatan lagi untuk mngikuti Projekt ini di Wina tahun 2015 ini. Dan alangkah lebih senangnya lagi kali ini saya ditemani oleh teman sesama suku- Evi Mulyani (Danke Evi, fürs Mitmachen!). 

Bertepatan dengan “Weltflüchtlingstag” tgl 20 Juni lalu, kami tim dari FTH mengajak anak-anak dari keluarga pengungsi untuk berekreasi ke Cobenzl tepatnya ke Kinderbauernhof untuk mengunjungi hewan-hewan ternak dan mengenal lebih dekat bagaimana kehidupan mereka disana. Ada 20 anak yang ikut dalam rekreasi ini dan berumur mulai dari 3 sampai 14 tahun. Anak-anak yang mungkin sangat jarang sekali atau bahkan tidak memiliki kesempatan bisa berekreasi ini terlihat sangat bahagia ketika mereka kami jemput dari rumah penampungan dan bersorak sorai “Ich bin dabei” Ich bin dabei!!”. Kebahagiaan itu amat lagi bisa terlihat ketika mereka berlarian mengejar kelinci-kelinci dan kucing, memberikan kambing dan domba makanan serta melihat kehidupan keluarga ayam dan itik-itiknya.

“Anak-anak memang melelahkan untuk di awasi, namun kelelahan itu sirna ketika kita menyaksikan anak-anak itu tersenyum lebar karena bangga telah memberikan kambing makan. Tak perlu lah kita mengeluarkan banyak uang untuk bersedekah, apalagi kita yang masih sulit ini, namun cukup senyuman dan menghadiahkan waktu kita untuk mereka  insha Allah jg termasuk sedekah.” Evi.


Tak terasa waktu terus berjalan. 5 jam lebih kami menghabiskan wktu bersama anak-anak ini. Tapi selama 5 jam tersebut tak sekalipun lapar dan dahaga  kami rasakan. Yang terasa adalah perasaan Fit dan Energik bersama anak-anak ini. Pulang-pulang langsung saaatnya mempersiapkan buka puasa.

Inilah manfaat yang besar dari aktifitas ini di bulan Ramadhan. 18 jam itu terasa akan sangat cepat berlalu jika kita mengisinya dengan berbagai aktifitas yang membuat kita lupa akan “perut kosong” kita, dan Insha Allah, Allah meridhai segala aktifitas yang bisa memberikan manfaat positif kepada yang lain.

Untuk yang ingin bergabung dalam Projekt FTH ini, silahkan untuk mendaftarkan diri di link berikut: http://ramadan-helfen.at

No comments:

Post a Comment