Wednesday, 22 April 2015

Phd Story: Dhota Pradipta (Wina)


by Terra Rimba



Phd Story kali ini, datang dari lelaki kelahiran Malang, 25 Agustus 1986. Dia adalah Dhota Pradipta.

Dhota mengambil Program S3 dengan program studi Geodesy and Geoinformatics - Advanced Geodasy di Technische Universitat (TU) Wien dan sedang menunggu ujian akhir saat ini.

Apa sih Geodesy and Geoingormatics - Advanced Geodasy itu?

"Investigasi sinyal GNSS (Global Navigation Satellite System), dalam hal ini modernized GPS(US) dan Galileo (European Union) untuk penentuan posisi.
GNSS terdiri dari GPS (US), Galileo (EU), Glonass (Russia), Beidou (China), dan yg bersifat komplemen/pelengkap adalah QZSS (Japan) dan IRNSS (India). Sinyal pada setiap satelit ada 2 tipe yaitu,

data code - data informasi untuk navigasi, biasa digunakan untuk navigasi mobil, kapal, dan pesawat, dan memiliki akurasi desimeter hingga meter.

data fase - merupakan sinyal pembawa code, biasa digunakan untuk riset, contohnya untuk earth science (gempa bumi, deformasi gunung api, monitoring high and massive bulding, weather prediction, dll) dan  military purposes (precision guided ammunition - smart bomb, artilerry shell, dll), memiliki akurasi milimeter hingga centimeter. Nah, riset saya menggunakan data fase pada satelit Galileo.

Galileo punya 2 jenis data fase, E1, E5 (yang terdiri dari E5a dan E5b dengan bandwidth dan frekuensi masing2).

Sederhananya, yang saya lakukan adalah: memverifikasi bahwa sinyal E5 Galileo dapat memberikan performa terbaik dan mampu bertahan dari efek pelemahan sinyal yang disebabkan oleh lapisan ionosfer dan  efek propagasi sinyal dalam penentuan posisi"



Bagaimana proses penelitian selama ini dan tantangan apa saja sih yang seringkali dihadapi?

"Proses penelitian menggunakan real data yang dikomparasikan dengan data dari simulator. Sinyal satelit yang diterima kemudian saling dikombinasikan (nama metodenya double differencing and linear combination) untuk mereduksi gangguan saat sinyal dalam perjalanan dari satelit ke alat penerima. 

Tantangannya adalah ketersediaan data, karena satelit Galileo yang aktif baru sedikit dan alat penerima sinyal yg belum banyak digunakan karena sistem Galileo direncanakan baru akan aktif tahun 2020, saat ini baru tahap tes dan belum dapat digunakan oleh umum."

Lelaki yang mempunyai hobi hiking, trekking dan fotografi ini menceritakan juga tentang suka duka dan juga pengalaman yang dialami selama mengerjakan penelitian.

"Menunggu data Galileo dari ESA (European Space Agency), waktu nunggunya itu bisa bulanan, belum kalau ada problem dan perlu dikoreksi, efeknya bakal nunggu lagi. Pernah juga beberapa kali mimisan depan komputer dan bisa tidur siang gara-gara ada kasur untuk ibu hamil di ruangan (punya kolega satu ruangan), profesor yg cerewet masalah perspektif penulis (beda style)"

Meskipun tantangan yang besar untuk melakukan penelitian tersebut, tidak mengurungkan niat Dhota mengisi waktu luangnya sekaligus menyalurkan hobi nya dengan jalan - jalan keliling Austria bersama teman-teman. Menurutnya Austria merupakan tempat terbaik untuk menyalurkan hobi fotografi nya. 




Apa hasil dari penelitian yang telah dilakukan Dhota?

"Sinyal E5 Galileo memiliki potensi dan kelebihan daripada sinyal lainnya terutama kemampuan sinyal bertahan  terhadap obstruksi dari atmosfer dan propagasi. E5 memiliki performa terbaik bila dikombinasikan dengan sinyal GNSS lainnya sehingga bisa dijadikan sebagai alternatif untuk penentuan posisi selain GPS."

Sudah ada rencana apa setelah lulus?

"Jika mendapatkan kesempatan, akan mencari post doc di Eropa terutama ke practical applications."

Kita doakan agar Dhota selalu sukses ya ke depannya apa pun yang dilakukan.

No comments:

Post a Comment