Tuesday, 24 March 2015

Berburu Bärlauch

by Syifa Nurhanifah

I like the flowers, I like the daffodils,
I like the mountains, I like the rolling hills.
I like the fireplace, when the light is low.
Dum, di da, di dum, di da, di dum, di da, di dum, di da, di

Yeaaah spring is coming!! :D let’s sing this song once more..!

I like the flowers, I like the daffodils,
I like the mountains, I like the green hills.
I like the fire stone, I like to walk alone.
Dum, di da, di dum, di da, di dum, di da, di dum, di da, di

Oho..!! ;-)

Siapa sih yang ngga sumringah dengan kehadiran kehangatan matahari dan warna warni bunga-bunga musim semi?

Daffodils, crocus, tulip dan juga snowdrops mulai bermekaran di mana-mana. Apalagi jika kita lewat taman-taman kota, wuaaah keinginan untuk selfie dengan bunga-bunga inipun kian menggelora.. ;)

Eiitsss tak disangka tak menyangka bahwa selain bunga-bunga spring ini tumbuh pula satu jenis tanaman liar yang memiliki rasa lezat jika di makan dan bisa dijadikan rempah atau bumbu dapur serta bisa mengobati penyakit.

WOW… jenis tumbuhan apakah ini?

Dialah Allium ursinum. Orang disini menyebutnya Bärlauch yang berarti "bawang beruang" dan kayaknya masih sepupu sama bawang bombay deh ;)
atau dalam bahasa Inggris tanaman ini lebih dikenal dengan wild garlic.



Tumbuhan ini adalah sejenis bawang-bawangan gitu, TAPI lebih uniknya, tumbuhan ini tidak berbentuk seperti bawang, namun berbentuk DAUN.

Yup, itulah kedahsyatan Bärlauch ini. Jika dimakan, tumbuhan ini memiliki rasa khas yang mirip sekali dengan bawang putih, namun dengan wujud yang sangat berbeda dengan bawang putih.

Bagaimana sih penampakkan tumbuhan ini, yuk kita perhatikan gambar di bawah ini:




Menurut Wikipedia, Bärlauch adalah memang sejenis tumbuhan bawang-bawangan yang berkerabat dengan bawang bombay, bawang putih, bawang merah, lokio dan kucai. Namun tempat tumbuh dan berkembang biak tumbuhan ini sangat berbeda dengan kerabatnya yang lain. 

Bärlauch ini tumbuh secara liar di hutan, kebun atau di pinggiran sungai dan daerah lain yang berudara lembab. Hebatnya lagi, bärlauch tidak bisa dipindah tempatkan, apalagi jika kita tanam di pot di rumah. Kesempatan untuk bertahan hidup di pot hanya 30%.

Namun sayangnya Bärlauch hanya tumbuh di Eropa saja dan sebagian kecil di negara-negara Asia yang memiliki 4 musim.



Tumbuhan ini mulai tumbuh biasanya di Awal bulan Maret tiap tahunnya. Penampakkanya bisa dikatakan pertanda bahwa musim semi akan segera atau sudah datang. Yang spesial dari Bärlauch ini tentu saja bukan hanya dari keunikan-keunikannya saja, namun dari manfaat tumbuhan ini bagi kesehatan jasmani.

Orang Eropa biasa menggunakan tumbuhan ini sebagai jamu tradisional mengobati penyakit Arteriosklerose (penyempitan pembuluh nadi), mengobati maag, mengurangi tekanan darah tinggi dan juga bisa mengobati cacingan http://www.heilkraeuter.de/lexikon/baerlauch.htm.

Kehadiran Bärlauch ini tentu saja sangat dinanti nantikan bagi mereka yang hobby masak dan experiment di dapur, khususnya bagi mereka yang vegetarian dan vegan. Jika kita tanya Google tentang resep maakanan yang menggunakan Bärlauch, kita akan temukan berbagai macam jenis makanan yang beragam.

Saya sendiri paling suka menyulap Bärlauch menjadi Pesto dan Dip. Walaupun bukan vegetarian atau vegan, namun sensasi rasa yang begitu khas dari Bärlauch ini yang membuat saya tergila-gila dan punya semangat juang tinggi untuk memburunya di awal musim semi ;-)

Karena eh karena.. Bärlauch yang baru tumbuh di awal musim semi (atau di akhir winter) memiliki rasa dan aroma yang lebih kuat dibandingkan dengan Bärlauch yang sudah lama tumbuh dan berbunga – yang notabene rasa dan aroma sudah berkurang.

Hal yang paling spesial dari Bärlauch ini adalah rasanya yang sangat mirip dengan Bawang putih. Alhasil dalam hal memasak pun kita bisa menggunakan bärlauch untuk menggantikan bawang putih. Jadi entah masak apapun itu yang berbumbu bawang putih, kita bisa menggantikannya dengan Bärlauch ini. Bagi Students ini mungkin jadi hal yang positiv, karena kita bisa menghemat uang belanja di dapur. Kalo ada yang gratisan, kenapa mesti beli toh? ;)



Yup.. Bärlauch bisa kita dapatkan secara cuma-cuma dan bisa kita panen sebanyak mungkin yang kita mau. Tapi tentu saja di hutan hutan umum dan bukan hutan kawasan lindung yaa..

Di Salzburg markas besar Bärlauch sendiri berada di Glasenbachklamm, dan di Fürstenbrünner Allee (tempat tersembunyi dan sunyi pokoknya). Di Wina sendiri secara takjub saya menemukan markasnya di Pötzleinsdorfer Schlosspark disana terhampar ribuan tunas Bärlauch yang bisa kita panen secara gratis.

ACHTUNG! 

Bagi yang ingin berburu Bärlauch harus dan mesti mengenal dalam-dalam bentuk tumbuhan ini. Karena ada beberapa tumbuhan liar lain yang mirip dengan Bärlauch, namun beracun! Dialah Maiglöckchen (Lilly of the Valley) dan Herbstzeitlose (Meadow saffrons).

Sekilas tiga tumbuhan ini sangat mirip, namun ada beberapa perbedaan yang bisa kita lihat jika di amati secara teliti:



  • Bärlauch tumbuh di awal musim semi (awal maret sampai akhir April dan berbunga sampai akhir Juli) sedangkan Maiglöckchen tumbuh di awal bulan Mei, dan Herbstzeitlose tumbuh sekitar awal oktober.
  • Bärlauch memiliki aroma seperti Bawang putih, sedangkan dua tanaman yang lainnya tidak memiliki aroma apa-apa
  • Daun Bärlauch tumbuh secara single dan terpisah dari daun-daun lainnya walupun satu umbi, sedangkan dua tumbuhan lainnya, daunnya berkelompok mengikuti umbi.
  • Bentuk bunga yang sangat berbeda (lihat gambar)


Bunga Bärlauch

Bunga Maiglöckchen

Kalau sudah pintar dalam membedakan ketiga macam tumbuhan liar ini, yuk kita panen deh si unik Bärlauch ini. Bagi yang mau berexperiment di dapur, boleh di coba resep-resep di website ini: http://www.ichkoche.at/baerlauch-rezepte

Saya sendiri telah mencoba resep Bärlauch Cordon Bleu, Bärlauchsuppe, Bärlauchspesto und Bärlauch Aufstrich, rasanya mmmmm….. karena saking lezatnya dan keburu laperrr saya tidak sempat memotret hasil experiment ini ;-)

Buat yang lain, selamat mencoba!

No comments:

Post a Comment